Wajah Fakhri cukup menampakkan kelegaannya karena project-nya telah berhasil dan menambah keuntungan bagi dirinya dan perusahaannya. Kini, Fakhri hanya perlu memanajemen proses kerjasama agar benar-benar dapat berjalan dengan baik. Sudah pukul setengan 6 pagi. Semalaman suntuk Fakhri dan rekan-rekannya berusaha menyelesaikan sebuah prroject dengan maksimal. Fakhri berencana segera pulang ke rumahnya dengan Anaya, selanjutnya Fakhri juga menyempatkan untuk menghubungi Ziyah dan Ara untuk sekedear bertegur sapa.
"Kamu hati-hati ya... Kita langsung periksa kandungan lengkap setelah aku bisa jemput kamu dan Ara.. Aku sedang mengusahakan.. Sabar.." ungkap Fakhri.
Fakhri memutuskan untuk tidak segera menjemput Ziyah dan Ara karena alasan kesibukan yang tidak bisa ditinggal. Fakhri benar-benar ingin fokus terhadap pekerjaanya dan memilih untuk menghindari adanya konflik dantara Ziyah dan Anaya.
Fakhri mengusap wajahnya sedikit kasar setelah menerima pesan dari Ziyah. Ia hanya berharap jika Ziyah mau menerima tawaran itu agar Ziyah dapat tinggal di desa lebih lama. Agar Ziyah kembali dengan kehidupannya seperti sedia kala, begitu pun dengan kehidupan Fakhri dan Anaya.
Untuk beberapa hari memang Fakhri cukup sibuk dengan pekerjaannya, bahkan cukup sering pulang tengah malam atau menjelang pagi hari. Anaya sepertinya cukup memahami kesibukan Fakhri dan berusaha tidak terlalu banyak bicara.
"Anaya sayang..." sapa Fakhri yang melihat Anaya sedang bersantai menonton series film kesukaannya.
"Iya?" toleh Anaya.
"Sudah sarapan?" tanya Fakhri.
"Sudah kok.. Mas kalau belum sarapan, ayo aku temani.." Ujar Anaya.
Senyuman Fakhri merekah. Sikap manis Anaya perlahan kembali seperti sebelum masalah berkaitan Ziyah muncul.
"Kapan mas jemput Ziyah dan Ara?" tanya Anaya tiba-tiba.
"Entahlah Nay.." jawab Fakhri.
"Lho kok begitu.. Memang dia gak cemas dan cemburu kamu didominasi olehku?" ucap Anaya.
"Mulai deh... Aku belum bisa memastikan Nay.. Aku ingin fokus pada pekerjaan dulu dibanding harus menghadapi kalian..." canda Fakhri yang menunjukkan muka humorisnya, seolah mengajak bercanda.
"Yaiyalah... Harus fokus kerja, kan ada 2 keluarga yang harus Mas nafkahi... Jadi tidak boleh ngeluh.." Ungkap Anaya dengan wajah tak kalah meledek Fakhri.
"Eh kamu ya..." ujar Fakhri yang diakhiri dengan Fakhri yang mengejar Anaya dengan gemas.
==================================
.
.
.
.
.
2 bulan sudah berlalu.
.
.
.
Anaya terbangun dengan senyuman merekah. Seakan tidak ada masalah apapun sebelumnya atau keluarga lainnya antara dia dengan suaminya, Fakhri.
"Gimana kabar Ziyah mas?" tanya Anaya tiba-tiba saat sarapan.
Fakhri seperti enggan menjawab.
"Baik...." jawab Fakhri.
"Udah sebulan lebih kayaknya mas gak pernah pamit ke rumahnya, atau.. Mas diam-diam ya ke rumahnya?" selidik Anaya.
"Ada-ada aja kamu itu. Ndak Nay, masak aku seenaknya begitu.. Pasti aku pamit kalau ke sana.. Hanya saja memang belum sempat saja ke sana.. Sejak aku jemput mereka, aku belum ke sana lagi..." kata Fakhri.
"Oh.. Kenapa begitu mas? Mas ngambek karena Ziyah tidak terima tawaran kerja dari rekanannya di desa itu?" Selidik Anaya.
"Ndak lah Nay.. Kamu asal aja..." seloroh Fakhri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kesempatan?
RomanceSeorang laki-laki yang berusaha memperbaiki kesalahannya kepada perempuan yang pernah ia curangi
