Mobil Fakhri melaju dengan kecepatan sedang. Ziyah yang berada di sebelah Fakhri cukup menikmati keadaan seperti ini, sementara Ara masih terlarut dengan mimpinya di kursi tengah.
"Mas... Nikmat ya kalau kita bisa liburan lebih sering bertiga seperti ini... Apalagi sebentar lagi Ara punya adik.." ucap Ziyah sambil membelai pelan perutnya.
Fakhri tersenyum tanda mengiyakan, walau menurutnya hal itu akan sulit terwujud, sebab ada keluarganya yang lain, yang juga membutuhkannya.
"Ingat.. Nanti tidak usah merengek di depan Bu dhe kenapa aku tidak menginap... Besok aku benar-benar ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan atau dialihkan kepada orang lain..." tutur Fakhri.
"Baik mas..." ucap Ziyah.
"Mas benar-benar memberi tahu Mbak Anaya tentang keberangkatan kita?" tanya Ziyah.
"Aku sudah izin ke Anaya kok.." ucap Fakhri.
Tidak lama dari itu mobilnya berbelok ke rumah keluarga Bu dhe Ria. Pekarangan khas yang masih sama. Bu dhe Ria yang sudah dikabari tentunya sangat senang. Ia sudah menyiapkan banyak makanan kesukaan Fakhri. Bu dhe Ria juga sangat merindukan Ara.
Selepas makan bersama, Fakhri hendak pamit pada Bu dhe Ria.
"Aku pamit dulu ke Bu dhe ya.. kamu baik-baik di sini... sepekan kamu di sini pun gak apa.. Hubungi aku kalau kamu mau dijemput..." ujar Fakhri.
"Benar mas mau jemput kan?" tanya Ziyah yang tampak masih ragu dengan kesungguhan Fakhri.
"Tentu.. Kamu takut aku tidak bisa jemput? Kalau pun misalnya aku tidak bisa jemput kamu, berarti aku masih sibuk... Kamu tenang saja.. Yang terpenting, kamu ke sini sama aku, baliknya juga sama aku... Jangan terpikir pakai mobil travel atau sejenisnya untuk kembali ke rumah.. Harus sama aku..." tutur Fakhri.
"Ya sudah mas.." ucap Ziyah tanpa mau mendebat.
Fakhri langsung mendekat kepada Bu dhe Ria untuk berpamitan.
"Langsung pulang? Kamu kok tega ninggalin Ziyah di sini ketika dia hamil muda sih.." cecar Bu dhe Ria.
Fakhri terdiam sejenak.
"Bu dhe sudah banyak lihat perempuan hamil di usia muda.. Ndak usah heran kalau bu dhe tahu bahkan tanpa Ziyah dan kamu yang kasih tahu... Sini..." ujar Bu dhe Ria sambil mengajak Fakhri sedikit menjauh dari Ziyah.
Fakhri patuh.
"Anaya tahu soal kehamilan Ziyah ini?" tanya Bu dhe Ria.
Fakhri menggeleng, "Ndak Bu dhe.." ujar Fakhri.
"Pasti dia akan marah Fakhri..." ucap Bu dhe Ria yakin.
"Aku rasa juga demikian Bu dhe... maka dari itu, aku titipkan Ziyah dan Ara ke sini dulu... Untuk saat ini aku fokus ke projek pekerjaan dulu, setelah itu baru aku pikirkan keduanya baiknya seperti apa..." tutur Fakhri.
"Jangan terlalu lama menyimpan hal ini terhadap Anaya... Dia akan tambah marah..." ucap Bu dhe Ria.
"Bu dhe harap apa yang terjadi saat Ziyah mengandung Ara tidak kembali terjadi... Kasihan dia.. Bagaimana pun kamu sebisa mungkin harusnya dapat mendampingi.." ujar Bu dhe Ria.
Fakhri tidak bergeming.
"Aku pamit dulu ya Bu dhe... Paling dekat mereka aku jemput pekan depan.." pamit Fakhri.
Bu dhe Ria mengiyakan.
.
.
====
Sore sudah menjelang, Pak dhe Arman baru tiba di rumahnya. Ia sedikit terkejut dengan keberadaan Ziyah dan Ara di rumahnya. Sementara istrinya, Bu dhe Ria, sedang membuat camilan pesanan untuk acara salah satu tetangga mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kesempatan?
RomansaSeorang laki-laki yang berusaha memperbaiki kesalahannya kepada perempuan yang pernah ia curangi
