Malam hari di sebuah rumah yang cukup terang, ramai dan terlihat menyenangkan, seorang perempuan hanya duduk termenung di depan sebuah mobil.
"Nay, masuk yuk" ajak Fakhri.
Anaya diam.
"Hey, kenapa?" Bujuk Fakhri.
"Sebentar lagi aku mau izin ketemu temen-temen" kata Anaya.
"Kok tiba-tiba? Siapa?" Tanya Fakhri lagi.
"Siapa lagi kalau bukan Tania dan Nara?" jawab Anaya.
"Mereka sudah ada di Indonesia ternyata", kata Fakhri lagi.
Anaya hanya mengangguk.
Tangan Fakhri meraih tanya Anaya, "yuk masuk, acaranya mau dimulai sayang, sekalian aku kenalin kamu juga" kata Fakhri. Acara syukuran kesembuhan Ara memang diadakan sore hari. Tepat puku 3 sore.
"Nggak perlu" jawab Anaya singkat.
"Loh, kok gitu? Kamu istri aku" kata Fakhri.
"Mereka udah kenal aku... sebagai istri kedua kamu dan sebagai orang yang hadir di tengah-tengah keluargamu mas" Jawab Anaya tegas, masih tetap berada di depan mobil. Jilbab warna biru gelapnya nampak menambah kecantikan Anaya.
"Siapa yang bilang?" Kata Fakhri.
Anaya diam.
"Kan aku sudah bilang sayang, abaikan mereka" Kata Fakhri lagi.
"Gimana aku bisa nglakuin itu., udahlah aku gak nyaman di sini sejak ...." tak sampai hati Anaya mengatakan bahwa ia merasa terintimidasi oleh stigma buruk kepadanya.
"Sejak apa?" selidik Fakhri pada Anaya.
"Aku ingin pulang" kata Anaya.
"Nay, kita di sini masih 4 hari.. katanya kamu mau ketemu sahabat-sahabatmu di sini..." kata Fakhri. Mungkin akibat tak rela sekaligus mencoba untuk membujuk istrinya.
"I don't care.... ya sudah, aku saja sendiri yang pulang" kata Anaya sambil beranjak meninggalkan Fakhri yang kebingungan, secara tidak langsung Fakhri merasa bahwa Anaya menyuruhnya untuk memilih, sedangkan di sisi lain ada darah dagingnya.
Fakhri masih memandang langkah Anaya yang menjauh, melewati hiruk pikuk keriwehan para ibu di dapur dan hilang.
'Hfft mungkin langsung ke kamar' pikir Fakhri. Fakhri masih bertahan, memikirkan bagaimana yang baik.
Di kamar yang tertutup Anaya mulai menata barang-barangnya. Berkemas menjadi pilihannya setelah gunjingan yang menjijikan ia terima dalam pembicaraan yang ia anggap murah, Anaya menyayangkan sikap bu dhe-nya Fakhri yang hanya mendiamkan orang-orang bergunjing seenaknya saat beraktifitas di dapur, bahkan dengan leluasa mencelanya saat melakukan kesalahan. Anaya tak mengira Ziyah hanya diam saja. Licik sekali untuk menjatuhkan harga diri seorang Anaya.
Drrrttt....
Sebuah pesan.
"Ya, aku datang sebentar lagi, tunggu di situ" balas Anaya hingga jarinya menekan kata ok di layar hp.
Anaya beranjak menerobos kerumunan ramai, dan kembali mendatangi Fakhri yang masih terdiam di depan mobil. Koper Anaya masih di kamar, sengaja tidak Anaya bawa.
"Aku mau pergi sekarang" kata Anaya singkat.
"Aku antar ya?" Kata Fakhri. Fakhri paham Anaya hendak menemui sahabat-sahabatny".
"Ndak perlu, aku bisa nyetir sendiri, mana kuncinya?" Kata Anaya sambil menadahkan tangan kanannya dengan tegas.
"Aku aja yang antar" kata Fakhri sambil mendorong Anaya menuju sisi samping mobil untuk duduk di kursi penumpang, tempat duduk sebelah kemudi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kesempatan?
RomansaSeorang laki-laki yang berusaha memperbaiki kesalahannya kepada perempuan yang pernah ia curangi
