Dunia ini memang penuh dengan kejutan. Tidak ada peristiwa yang bisa diprediksi sekalipun rencana hidup sudah disusun dengan baik.
Sejak pertengahan semester, aku sudah tidak sabar menunggu masa liburan dan mengemas semua barang dari asrama. Sudah siap menjadi mahasiswa yang berangkat dari rumah dan juga akan kembali ke rumah di hari yang sama pada semester depan. Tidak ada lagi antrean menunggu giliran untuk mencuci pakaian. Bebas tidur kapan saja tanpa mengganggu roommate dan juga punya kuasa atas kamar tidur yang kutinggali seorang diri. Dan pastinya aku tidak perlu membuat laporan kegiatan kepada mama yang terus memantau lewat grup obrolan keluarga.
Semuanya terasa menyenangkan meski saat itu masih ada di dalam angan.
Namun belum juga sampai satu minggu menikmati liburan semester ini, rasanya aku ingin kembali ke asrama saja. Lebih baik menjalani rutinitas membosankan dari asrama ke kampus atau kembali bertemu dengan orang yang sama setiap hari pun tidak masalah. Asalkan bisa jauh dan tidak terlibat dengan selebriti menyebalkan yang memberiku tumpangan pulang saat ini.
"Saya juga diinterogasi waktu foto itu muncul."
Untuk kesekian kalinya sejak managernya turun dari mobil, Keenan terus mengulang kalimat yang sama saat aku meminta penjelasan atas ucapannya tadi.
Aku hanya bisa menghela napas dengan kepala yang masih bersandar pada dashboard mobil. Keenan terus memaksaku pindah ke kursi depan setelah dia duduk di kursi kemudi.
Keenan menepikan mobil dan mematikan mesin. "Mereka menerima saja saat saya bilang kalau kamu memang pacar saya dan minta ini tidak dipublikasikan. Tidak ada tindakan lagi. Cuma itu yang saya pikirkan waktu itu. Setidaknya saya tidak meminta kamu untuk akting dan tampil di muka umum, kan?"
Aku mengangguk. Sepenuhnya menerima penjelasannya. "Ya, sudah. Ayo pulang."
"Tidak, sebelum kamu bilang kalau kamu paham dan mengerti sama situasi saya."
Aku bangkit dan mendengkus mendengar permintaannya. "Aku paham dan mengerti sama situasimu," ucapku, lalu menatap langsung matanya. "Puas?"
Ekspresi Keenan melunak. Dia mengulas senyum tipis dan berkata lirih, "Maaf, ya."
Aku memilih diam dan memalingkan wajah ke jendela.
"Kamu marah, ya?"
Menurutmu?!
"Sekali lagi maaf, ya."
"Sudahlah, cepat nyalakan mobilnya."
"Pakai sabuk pengamanmu dulu."
"Tidak usah. Jalan saj-"
Aku membeku saat badan Keenan condong ke arahku. Dengan santai dia memasang sabuk pengaman untukku, kemudian kembali ke posisinya dan mulai melajukan mobil.
"Maaf, ya," lirihnya lagi sambil memutar kemudi.
Aku tidak menanggapinya. Aku harus menjaga jarak darinya setelah hari ini. Sekarang adalah kali terakhir aku berinteraksi dengan Keenan. Perkara satu foto saja bersamanya membuatku membohongi banyak orang.
Keenan tidak membuka mulut lagi di sisa perjalanan kami. Saat dia menepikan mobil tepat di depan rumahku, aku langsung membuka pintu dan keluar begitu saja. Rasanya sedikit kasar, tapi aku benar-benar kesal padanya.
"Kok bisa pulang bareng Keenan?"
"Astaga." Aku melompat terkejut mendapati Kak Nino yang sedang jongkok di samping mobilnya. "Kakak ini bikin kaget saja," protesku.
"Kamu ketagihan masuk akun gosip, ya?"
Aku mencebik. "Tadi nggak sengaja ketemu di kafe," jawabku sekenanya, lalu melanjutkan langkah ke dalam rumah sambil menghentakkan kaki.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Actor and I
ChickLitOrang-orang mengenalnya sebagai aktor ternama dengan akting yang memukau. Teman-temanku bahkan terlalu sering membicarakan apa saja tentang dia. Namun, bagiku dia hanyalah salah satu penghuni rumah sebelah yang jarang berinteraksi denganku. Sedangka...
