Hening.
Canggung.
Sekali lagi, prediksiku melenceng jauh dari kenyataan yang terjadi. Dalam bayanganku, para sahabatku akan histeris saking terkejutnya saat bertatap muka langsung dengan Keenan. Namun nyatanya kini mereka justru hanya terus diam hingga mencipta sunyi nan canggung di area ruang tamu rumahku.
Bisa kurasakan sikutan pelan Keenan pada lenganku. Aku yakin dia merasa aneh dengan situasi kami saat ini. Gerakannya begitu kaku ketika--untuk kesekian kalinya--kembali menyeruput minuman yang dia bawa serta saat datang tadi.
Pertemuan ini bukannya tanpa percakapan. Sebelum situasi kaku ini, mereka sudah saling berkenalan dan basa-basi ala kadarnya saat awal kedatangan Keenan tadi. Namun, entah kenapa sikap teman-temanku justru tidak seramai biasanya.
Dering ponsel Keenan berbunyi memecah kecanggungan di tengah kami. Dia dengan sigap mengeluarkan ponsel dan meminta izin untuk menerima panggilan, berdiri dan berjalan cepat ke arah teras depan.
"Gila lo, Na!"
Aku tersentak saat Mila berseru tepat di telingaku, tangan kanannya tak luput meninggalkan cubitan kecil di lenganku.
"Lo pake pelet, hah?!"
"Keenan, loh, ini. Keenan Byantara. Gila!"
"Kok bisa?"
"Jadi yang di akun lambe itu beneran lo?!"
Aku menatap keempat temanku penuh pertanyaan. Bisa kurasakan mulutku setengah terbuka mendapat berondongan pertanyaan mereka. Merasa bingung dengan perubahan tingkah mereka yang tiba-tiba.
Dan belum juga aku menjawab semua pertanyaan mereka, Keenan kembali menghampiri kami.
"Guys, maaf, nih, saya harus pamit. Ada panggilan dadakan dari orang kantor," ucapnya dengan senyum salah tingkah.
"Oh, nggak apa-apa." Aku yang memberi jawaban. Teman-temanku seketika seolah menjadi patung hidup lagi, diam tak bersuara dan hanya menatap Keenan dengan lurus.
Gegas aku bangkit dan berjalan mengantar Keenan sampai ke gerbang depan.
"Teman-temanmu bukan anggota hatersku, kan?" tanya Keenan saat kami sudah berada di halaman.
"Kenapa berpikir begitu?"
Keenan mengendikkan bahu. "Sepertinya aku terlalu narsis sampai berharap mereka bakal, yah setidaknya sedikit semringah dan merasa senang saat pertama melihatku tadi."
Aku terkekeh mendengar ucapan Keenan. "Aku juga heran kenapa reaksi mereka sangat jauh dari ekspektasiku. Tapi, satu yang bisa kupastikan, tidak ada anti fans kamu di dalam sana." Aku menahan diri untuk mengungkapkan jika dua dari empat manusia di dalam sana adalah penggemarnya.
"Syukur lah," ucap Keenan dengan senyum tipis, "Ya, sudah. Aku pamit, ya. Have fun," selorohnya sambil menepuk lembut pundakku. "Mau aku pesankan camilan atau makanan lainnya?"
"Nggak usah," jawabku dengan menggeleng pelan, "Hati-hati nyetirnya," pesanku.
Keenan mengangguk dengan kerlingan genitnya. "Bye," pamitnya, kemudian mempercepat langkah menuju mobil.
Aku melambaikan tangan dan mengiringi langkahnya dengan pandangan hingga dia masuk ke mobil, dan baru bergerak kembali ke dalam rumah saat kendaraan Keenan sudah melaju menjauh.
Tatapan sinis menyambut saat aku duduk di tempat semula. Aku hanya bisa mencebik melihat perubahan kelakuan mereka hari ini.
"Bukan salah gue kalau Keenan suka sama gue," selorohku.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Actor and I
ChickLitOrang-orang mengenalnya sebagai aktor ternama dengan akting yang memukau. Teman-temanku bahkan terlalu sering membicarakan apa saja tentang dia. Namun, bagiku dia hanyalah salah satu penghuni rumah sebelah yang jarang berinteraksi denganku. Sedangka...
