Bab 29 : I Am (Trying to) Not Jealous

10.1K 711 5
                                        

Menurutku tidak ada yang istimewa dari postingan terbaru dari Keenan itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Menurutku tidak ada yang istimewa dari postingan terbaru dari Keenan itu. Hanya foto dengan dinding pembatas yang dipenuhi gembok cinta yang jadi ikon wisata Namsan Tower. Caption dari unggahan itu juga hanya berisi rentetan kalimat yang kuyakini sudah diatur dari sponsor perjalanan Keenan dan timnya. Tapi, kenapa kolom komentarnya justru dipenuhi dengan ungkapan kegembiraan dari akun-akun yang berharap jika Keenan dan Rebecca benar-benar menjadi pasangan di dunia nyata? Banyak dari mereka mengharapkan akhir yang sama seperti jalan cerita dari series yang keduanya perankan.

Dan satu kesalahan besar yang kulakukan, yakni tetap tekun membaca setiap komentar yang sepertinya terus bertambah dan tampak enggan berakhir. Yang tentu saja sukses membuatku memasang ekspresi cemberut sepanjang membaca setiap kalimat yang ada di kolom komentarnya.

"Keenan-Becca cocok banget."

"Kawal sampai sah."

"Habis pasang nama di gembok cinta, ya? Cieee."

"Sekalian pre wedding nih?"

"Kalau tiba-tiba mereke ngumumin berita pernikahan, gue ga kaget sih."

"Tapi, bukannya Keenan udah punya pacar, ya?"

"Plot twist : pacarnya Keenan selama ini adalah Rebecca. Wkwkwk."

"Aauuwh!"

Aku yang tengah serius membaca setiap komentar seketika mendelik pada Kak Nita saat dia menendang kasar kursiku. Keinginanku untuk mengajukan protes gagal terlaksana ketika kusadari sorot matanya memberi isyarat untuk melihat ke arah pintu area dapur tempat kami duduk bersama.

Ada Kak Nino yang berjalan santai mendekati tempat kami.

"Baru ingat pulang kamu, ya," seloroh Mama saat Kak Nino hanya berjalan terus membuka kulkas dan mengambil sebotol minuman dingin.

Kak Nino hanya menanggapi dengan senyum ringan. Pandangannya kini beralih pada Kak Nita yang juga terus menatap lurus padanya.

"Nanti Kakak pakai mobil, ya. Ada pemotretan outdoor," ucap Kak Nino sambil mengisi ulang botol minumnya.

"Ke mana? Gue ikut, ya." Kak Nita langsung antusias. Dia memang paling hobi kalau perkara jalan-jalan. "Bosan di rumah, nih. Bareng makhluk bucin terus."

Aku langsung menendang kaki kursi yang diduduki Kak Nita. Bisa kutangkap juga reaksi kaget Kak Nino mendengar ocehan saudara kami itu. Pandangan kini hanya kufokuskan pada nuget pisang yang disiapkan Mama untuk camilan kami pagi ini. Aku tidak berani menatap Mama yang kuyakini sedang mengengcangkan antena kepekaannya untuk memahami kalimat mengambang Kak Nita.

"Nggak sekalian ikut, Na? Hari ini kamu free, kan?"

Nah, kan, Mama mulai interogasi terselubungnya.

"Nina banyak tugas, Ma," jawabku, mengangkat kepala dan membalas tatapan Mama.

"Kalau begitu nanti bantu Mama bikin kue, ya. Kemarin dapat resep baru lagi mertuanya Nisa. Kayaknya cocok buat teman minum kopi Papa kalau sore."

Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Toh sebenarnya aku juga akan mengungkap semuanya pada Mama. Dan masih bisa kudengar kekehan Kak Nita yang melihatku tidak bisa mengelak lagi.

The Actor and ICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang