Bab 42 : Sorrow

6.8K 775 12
                                        

Hari ke delapan sejak aku dan Keenan tidak saling berbagi kabar lagi. Biasanya saat aku bangun di waktu pagi, akan ada setidaknya satu pesan darinya. Dan sekarang setelah satu minggu berlalu, saat amarah dan rasa kesalku juga perlahan minggat, aku mulai merindukan rentetan kata dan kalimat penyemangat dari Keenan untuk mengawali hari.

Sebenarnya bisa saja aku yang mulai mengirim pesan lebih dulu, tapi entah kenapa ada rasa gengsi di sudut hatiku untuk melakukannya?  Aku juga merasa takut jika pesan yang nekat kukirim tidak mendapat tanggapan sesuai dengan yang kuharapkan.

Setelah dipikirkan lagi, pertengkaran kami tempo hari terlalu kekanakan. Jika dibicarakan baik-baik dengan kepala dingin, mungkin akhirnya kami akan saling memahami keinginan masing-masing. Bukannya malah berakhir saling diam tanpa solusi seperti sekarang ini.

Kira-kira Keenan memikirkan hal yang sama enggak, ya?

"Ah, apasih?!" gerutuku pada isi pikiran sendiri, kemudian bangkit dari pembaringan menuju kamar mandi. Kuputuskan untuk sekalian mandi saja. Hari ini tidak ada kuliah, dan sepertinya mama membiarkan aku tidur puas tanpa harus repot mendatangi kamarku untuk mengajak sarapan.

Rasa segar setelah mandi membuatku bersemangat melangkah ke ruang makan. Iseng kuperiksa akun media sosial milik Keenan, tidak ada update terbaru. Dia benar-benar pelit informasi. Hanya ada berita dengan judul yang kuyakini sekadar click bait yang menandainya.

"Liatin apa, sih, Kak?" tegurku mendapati Kak Nita yang berdiri di pintu belakang dengan tingkah gusar yang terlihat jelas dari ekspresinya.

"Heh, sini deh," balasnya, memberi isyarat dengan tangan agar aku segera mendekatinya. "Keenan enggak kasih kabar atau apa gitu?"

Aku menggeleng. "Kenapa?"

"Mama udah ke rumah sebelah sejak pagi, sampai sekarang belum balik-balik."

"Paling juga keasyikan ngobrol sama Tante Ana." Aku mencomot satu roti bakar di atas meja.

"Ish kamu ini." Kak Nita menghampiriku. "Kalau muka Mama enggak panik sama buru-buru waktu pamit, mah, gue enggak bakal kepikiran."

Niatku untuk mengambil potongan roti bakar kedua langsung terhenti mendengar ucapan Kak Nita. "Kenapa enggak disusulin aja?"

"Tadinya gue juga mau ikut, tapi mama enggak kasih izin," jawab Kak Nita. "Coba lo yang ke sana, deh. Lo, kan, calon mantu rumah sebelah."

Aku melirik malas Kak Nita. Seandainya dia tahu kalau mungkin statusku itu sepertinya tidak akan bertahan. Detik selanjutnya aku menggeleng cepat, mengenyahkan pikiran tidak penting di saat seperti ini.

"Udah, ah, Kak. Tunggu mama pulang kasih kabar aja lah," saranku, meski sebenarnya tetap kepikiran juga.

Kak Nita menghela napas dan memilih duduk di sampingku. Perasaanku seketika menjadi tidak nyaman. Keenan baik-baik aja, kan?

Baru saja kuputuskan untuk menghubungi Keenan, mama muncul dari pintu belakang dengan ekspresi wajah yang kentara diselimuti duka.

"Ma?" pantauku kompak dengan Kak Nita.

"Neneknya Keenan meninggal."

"Hah?!"

Aku membisu. Sistem saraf tubuhku seketika terasa lumpuh. Baru kemarin aku menghabiskan sore bersama Oma yang tampak lebih cerah di mataku. Kami semakin akrab seiring seringnya aku berkunjung ke rumah Keenan meski hubungan kami sedang tidak baik. Berita yang dibawa Mama tentu saja membuatku sulit untuk percaya.

"Enggak lucu, ah, Ma."

Aku bisa melihat mama menarik napas dalam, menghampiri dan menatapku dengan tidak tega. "Keenan syuting di mana? Dia susah dihubungi. Kapan kalian terakhir komunikasi?"

The Actor and ICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang