Keenan :
Aku berangkat ❤️
Segera balas kalau sudah dibaca, ya. ❤️
Jadi seperti ini situasinya kalau punya pacar? Sudah ada pesan yang menghampiri ponselmu bahkan sebelum kau terbangun di pagi hari. Aku sudah membaca pesan itu secara berulang sejak sepuluh menit yang lalu, masih berusaha mencerna dan menganalisa situasiku kini. Aku sekarang punya pacar. Dan orang itu adalah Keenan Byantara, aktor terkenal yang dua tahun terakhir kariernya naik tajam hingga didamba oleh banyak cewek di luar sana.
Rasa sakit saat mencubit pipi sendiri membuatku sadar jika kejadian semalam benar-benar nyata. Aku dan Keenan pacaran. Memikirkannya saja membuat dadaku bergemuruh. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang berebut mengepakkan sayap di dalam tubuhku, menggelitik dan membuatku tidak bisa menahan senyum.
Kebaikan apa yang telah kulakukan sampai seorang selebriti mengajukan diri sebagai pacar pertamaku? Semuanya terasa seperti mimpi. Aku bahkan masih bingung dengan perasaanku sendiri. Yang jelas adalah aku tidak bisa mengendalikan detakan jantung hanya dengan mengingat setiap hal kecil yang melibatkan Keenan saat bersamaku beberapa hari terakhir.
Nina : Semangat, ya. 🤗
Belum pernah aku mengetik pesan sambil terus mengulum senyum seperti ini. Sepertinya Keenan sukses menyihirku untuk terus tersenyum riang hanya dengan membuka ruang obrolan dengannya.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Keenan mungkin sedang sibuk sekarang. Atau bisa juga sedang mencuri waktu untuk tidur sebelum sibuk bekerja. Aku harus membiasakan diri dengan kondisinya yang tidak bisa dengan cepat membalas pesan seperti sekarang. Selanjutnya bisa saja masih banyak hal lain lagi yang harus kumaklumi karena memutuskan menjalani hubungan dengan pekerja seni seperti dia.
Berusaha menghilangkan pikiran akan kemungkinan rintangan yang akan kuhadapi bersama Keenan, aku memutuskan beranjak dari kamar. Memberi asupan diri dengan sarapan buatan mama sepertinya akan membuat otakku mencipta sugesti positif pada diri.
"Loh, kok masih sepi, Ma?"
Mama yang sedang sibuk mengaduk nasi goreng justru menatapku dengan kening mengkerut. "Kamu yang tumben cepet ke dapur," komentarnya, "Hari ini katanya nggak ada kelas. Kok kepagian, Dek?"
"Yah, Mama. Aku memang selalu bangun pagi, kok."
Mama hanya mencibir mendengar jawabanku. Memang kebiasaanku, kalau tahu ada orang lain yang bisa diharapkan untuk menyiapkan sarapan, maka aku adalah penghuni terakhir yang akan meninggalkan kamar tidur.
"Segar banget pagi ini, Dek," seloroh Mama, "Ada kabar apa, nih?"
"Apa sih, Ma? Nggak ada apa-apa kok."
"Yakin, nih?" Mama memindahkan isi penggorengan ke tempat nasi. "Kamu lagi bicara sama Mama, loh, Dek. Kedipan mata kamu saja bisa mama rasakan perbedaannya."
"Dih, Mama. Lebay deh."
Aku bergegas mengambil alih nasi goreng dan membawanya ke meja makan. Semakin lama bersama mama bisa saja membuatku mengungkap kejadian semalam yang masih ingin kurahasiakan untuk saat ini.
"Ada berita apa, nih? Kok senyum-senyum terus?"
"Iya, nih. Auranya cerah sekali. Hampir ngalahin matahari."
Semudah itukah aku untuk dibaca? Aku menatap malas Kak Nisa dan Kak Nita yang baru datang dan duduk lebih dulu di meja makan.
"Si kembar belum bangun, Kak?" Aku berusaha mengalihkan perhatian mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Actor and I
Literatura KobiecaOrang-orang mengenalnya sebagai aktor ternama dengan akting yang memukau. Teman-temanku bahkan terlalu sering membicarakan apa saja tentang dia. Namun, bagiku dia hanyalah salah satu penghuni rumah sebelah yang jarang berinteraksi denganku. Sedangka...
