Bab 23 : A Big Question Mark

9.8K 839 12
                                        

Aku memutar kunci pintu rumah yang kondisinya masih sepi, sama saat kutinggalkan pagi tadi. Hanya saja kini mobil Kak Nino sudah tidak ada lagi terparkir di halaman rumah. Sepertinya dia sempat pulang saat aku di kampus.

Langkah kuteruskan menuju dapur, berniat minum sebelum istirahat dan mengurung diri di kamar. Melirik sejenak pada meja dapur, Roti bakar yang kusiapkan tadi pagi sudah habis tak bersisa, menyisakan piring kosong yang masih tergeletak begitu saja.

Aku menghela napas, bisa kutebak jika yang menghabiskan sarapan itu adalah Kak Nita. Dia sudah pulang rupanya.

Suara mobil yang terdengar dari halaman rumah membuatku sedikit tegang. Kak Nino kenapa tiba-tiba pulang jam segini? Ingin segera berlari ke kamar, tapi rasanya sudah terlambat setelah mendengar pintu depan terbuka dan kembali tertutup.

"Hai, adikku sayang." Kak Nita berjalan santai. Tangan kanannya menenteng satu rantang besar, sementara tangan lainnya sibuk memainkan kunci mobil. "Sudah lama pulangnya?" tanyanya, kemudian duduk pada kursi di depanku.

Aku menggeleng, menandaskan minum dan bertanya, "Kak Nita yang bawa mobil?"

"Oh, tentu," jawabnya dengan senyum bangga, "Kak Nino ninggalin mobil di rumah, katanya mau nginap di studio beberapa hari. Jadi, kalau lo mau jalan, gue siap siaga buat jadi sopir," tambahnya dengan kedipan mata.

Kak Nita sepertinya terlalu senang karena diberi kebebasan membawa mobil. Sehingga tidak menaruh curiga dan menerima saja alasan yang disampaikan kakak kami itu.

"Oh, ya, ini buat makan malam nanti. Tinggal panasin aja. Mama bakal tinggal lebih lama. Besok biar gue aja yang pergi belanja." Kak Nita masih bicara dengan nada riang. Dia benar-benar bahagia diberi kesempatan memegang kendali mobil kali ini

"Kakak dari jengukin si kembar? Bagaimana kondisi mereka?"

"Sudah mulai baikan, sih. Tapi masih agak rewel, makanya mama belum mau ninggalin Kak Nisa," jawab Kak Nita. "Eh, nanti malam keluar, yuk. Mumpung gue bebas bawa mobil, nih."

Aku menatap Kak Nita malas. "Daripada sibuk ngajakin aku jalan, mending pergi cari kerja aja deh, Kak."

"Diiih." Kak Nita mendelik menatapku. "Adikku sayang," ucapnya dengan nada sok manis, "Kakakmu ini nggak seratus persen pengangguran, yah. Dari sejak semester lima, gue udah punya toko online, ya. Lo pikir biaya gue mendaki dari uang jajan aja, hah?"

"Wow." Aku mengacungkan dua jempol untuk Kak Nita, kemudian menarik kursi dan duduk di depannya. "Jualan apa, Kak?"

"Ya perlengkapan mendaki, lah," jawab Kak Nita, kemudian terbahak, "Cari uang dari hobby itu amat sangat menyenangkan tahu. Gue bahkan bisa mendaki bareng influencer, dan dia dengan senang hati bantu gue promoin olshop gue. Ah, indahnya hidup."

"Promonya gratis? Nggak minta bayaran?"

"Persaudaran pencinta alam itu erat, Dek." Kak Nita menepuk dadanya dengan ekspresi bangga. "Dia sendiri loh yang nawarin diri buat bantu promoin jualan gue."

"Kenapa nggak minta tolong ke Keenan juga? Dia, kan, lebih terkenal dan banyak follower juga."

"Nggak, deh. Meski bukan olshop gede, gue juga pilih-pilih pesohor kalau mau minta tolong promo."

"Memang Keenan kenapa?"

"Gue udah tahu Keenan banget, Na. Personalnya dia nggak sesuai sama prinsip gue. Lagian dia, kan ...."

Kak Nita tiba-tiba memutus ucapannya, padahal aku sudah menyimak setiap kalimat yang dia ucapkan. Masih bisa kutangkap ekspresi anehnya saat mengakhiri jawabannya itu.

The Actor and ICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang