"Tapi Ma, sekarang, kan, udah malam," tolakku halus ketika mama memintaku mengantarkan paket yang baru saja diterima ke rumah Keenan.
"Tipi Mi, sikiring, kin, idih milim," ucap Kak Nita dengan nada mengejek yang nyata.
Aku pun membalasnya dengan tatapan sinis yang menantang.
"Harus sekarang, Na. Kalau nunggu besok, rasanya udah berubah. Sekarang belum jam delapan, kok, mereka pasti belum tidur. Cepat, gih," titah mama lagi.
Aku menghela napas pasrah. Menuruti perintah mama, mengangkat kotak bersegel itu, kemudian menyeret langkah menuju rumah Keenan.
"Ah, lupa bawa hape lagi," keluhku sendiri saat melewati gerbang rumah Keenan yang belum terkunci. Tandanya penghuni rumah belum istirahat sepenuhnya. Mobil papa Keenan juga belum tampak terparkir di garasi. Sepertinya masih ada urusan dan belum pulang saat malam seperti ini.
Aku segera menekan bel rumah, berharap Keenan lah yang membukakan pintu, dan aku tidak perlu memamerkan senyum canggung untuk mama Keenan kali ini.
Namun, yang menyambutku justru senyum ramah Tante Ana setelah pintu terbuka. Aku turut mengulas senyum membalasnya. "Malam, Tante."
"Oh, Nina? Cari Keenan, ya?" tanya Tante Ana ramah sambil menarik lenganku untuk segera masuk.
"Enggak, kok, Tante," jawabku, "Cuma mau bawa titipan dari mama," ucapku menunjukkan kotak yang kupeluk sejak tadi.
Kening Tante Ana mengekerut. "Apa ini?
"Kurang tahu juga, Tante. Mama enggak kasih tahu tadi."
Tante Ana terkekeh, kemudian mengambil alih kotak itu. "Oh, ya, Keenan ada di halaman belakang. Katanya lagi mau menghayati peran barunya. Langsung ke dalam aja, lewat dapur kalau mau ketemu sama dia." seloroh Tante Ana.
"Oh, iya, Tante."
Aku meneruskan langkah menuju area dapur untuk menuju halaman belakang. Tapi, melihat Oma duduk sendiri di ruang tengah membuatku berhenti sebentar.
"Malam, Oma," sapaku hangat dan segera berjongkok di depan kursi rodanya.
Oma mengulas senyum tipis, tapi matanya tidak fokus padaku. Mungkin saja dia tidak bisa mengenaliku meski jarak kami sudah amat dekat. Aku mengelus pelan punggung tangannya. Kata Keenan, Oma sangat suka mendapat perlakuan seperti itu.
"Ini Nina, Oma. Masih ingat, kan?"
Mata Oma tampak sedikit berbinar. Sepertinya sudah mulai mengingatku. Senyumnya semakin lebar. Bisa kulihat bibirnya sedikit bergerak, mungkin ingin bicara, tapi sejak mendapat serangan stroke, dia masih kesulitan untuk melakukan hal yang satu ini. Untungnya gangguan pada motorik lidahnya itu tidak terlalu mengganggu proses makannya.
"Lekas pulih, ya, Oma," harapku dengan tatapan tulus untuknya. "Nina mau ketemu sama Keenan dulu, ya," pamitku. Aku beranjak setelah Oma menutup mata cukup lama, kemudian membukanya lagi. Aku anggap itu sebagai pernyataan iya.
Aku mengubah gerakanku menjadi amat pelan saat melihat Keenan tampak duduk tenang dan membelakangi area rumahnya. Tapi niatku yang ingin mengejutkannya seketika batal saat Keenan tiba-tiba batuk dan itu cukup intens.
"Hei, kamu nggak apa-apa?" tanyaku, kemudian segera menepuk-nepuk punggungnya. Dan sekarang aku yang justru dibuat terkejut saat melihat benda yang terselip di sela jari Keenan.
"Kamu ngerokok?" selidikku saat menyadari Keenan tampak tidak terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba di dekatnya.
"Ekspresi kamu kenapa kayak gitu? Enggak suka, ya? Jangan marah dulu, ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Actor and I
ChickLitOrang-orang mengenalnya sebagai aktor ternama dengan akting yang memukau. Teman-temanku bahkan terlalu sering membicarakan apa saja tentang dia. Namun, bagiku dia hanyalah salah satu penghuni rumah sebelah yang jarang berinteraksi denganku. Sedangka...
