Keenan: Bagaimana ujian hari terakhir?
Pesan dari Keenan adalah yang pertama kubuka setelah meninggalkan ruang ujian. Jemariku dengan cepat mengetik balasan untuk pesan yang masuk 10 menit sebelumnya ini.
Nina : Nothing special. Hehe
Tidak butuh waktu lama sampai ponselku mendapat panggilan, menampilkan nama Keenan pada layar. Sepertinya dia sedang memegang ponsel saat pesan balasanku sampai.
"Berarti sekarang sudah free, dong?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi.
"Begitu lah. Ada apa?"
"Aku juga lagi luang sekarang. Ketemuan, yuk. Ajak temanmu sekalian."
Aku memeriksa jam yang melingkar di tangan kiriku, pukul 15.13. Masih ada cukup waktu untuk keluyuran sebelum pulang. "Di mana?"
"Ke kafe temanku. Aku jemput, ya. Kebetulan kami udah dekat kampusmu, nih."
"Kami?"
"Ya. Aku sama Kak Adi. Hari ini aku mau treat Kak Adi like a king. Eh, dia malah maunya cuma nongkrong rame-rame aja katanya." Aku menjauhkan ponsel dari telinga karena mendengar tawa Keenan yang cukup nyaring.
"Oh, oke. Tunggu di depan kampus aja. Aku sementara jalan mau keluar, nih."
"Sip, oke sayangku."
"Hmm." Aku tidak membalas ucapan Keenan, terlalu malu untuk mengucapkan hal yang sama karena di sekitarku sedang banyak orang. Rasanya menggelikan jika menjadi pusat perhatian hanya karena ikut membalas kalimat sayang dari pacar.
"Mil, Keenan ngajak kumpul, nih. Mau ikut?"
Mila hanya menatapku tanpa minat, juga tidak mengucap satu kata pun.
"Kenapa?"
"Ogah gue jadi obat nyamuk. Dan lagi, bukan cuma lo, ya, Na, yang lepas ujian bisa langsung hangout bareng ayang," jelas Mila dengan raut wajah sok angkuh.
Tanpa perlu tambahan penjelasan panjang lagi, aku sudah paham betul maksud Mila. "Serius, lo, Mil?" Aku menanggapi antusias. "Siapa orangnya?"
Mila hanya mengulum senyum dan mengedipkan sebelah mata. "Nanti lah gue kenalin," jawabnya, kemudian beralih pada ponselnya yang berdering.
Aku mengamati Mila yang tampak sibuk bicara dengan ponselnya. Dia pamit dengan lambaian tangan centil yang biasa kami lakukan. Langkahnya tergesa menuju gerbang kampus yang sebenarnya hampir kami capai. Senyum semringah terus menghiasi wajahnya.
Apa aku seperti itu juga saat sedang kasmaran pada masa awal pacaran dengan Keenan?
Aku baru saja mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Keenan ketika sebuah mobil berhenti tepat di depanku, kemudian membunyikan klakson. Senyumku segera melebar saat jendela kaca bagian depan perlahan turun. Menampakkan Keenan yang tampak keren mengenakan kemeja dengan lengan yang digulung hingga siku.
"Hai, cewek," ucapnya genit, "Mau ikut?"
Aku tidak bisa menahan tawa melihat tingkah Keenan. Hanya menuruti ucapannya dan bergabung ke dalam mobil.
"Halo, Kak Adi," sapaku ramah mendapati manager Keenan itu sedang duduk santai layaknya majikan di kursi belakang.
"Halo juga pacarnya artis yang hari ini mau jadi pesuruhku," balas Kak Adi. Sambutannya itu tentu saja membuat tawaku semakin panjang.
"Dalam rangka apa, nih?" tanyaku sambil mengenakan sabuk pengaman. Mataku sempat menangkap sebungkus rokok pada dashboard tepat di depan Keenan, dan ya, itu sedikit menggangguku.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Actor and I
ChickLitOrang-orang mengenalnya sebagai aktor ternama dengan akting yang memukau. Teman-temanku bahkan terlalu sering membicarakan apa saja tentang dia. Namun, bagiku dia hanyalah salah satu penghuni rumah sebelah yang jarang berinteraksi denganku. Sedangka...
