Bab 17 : Sibling's Care

12.2K 995 5
                                        

Keenan sepertinya benar-benar percaya pada ucapanku. Tiga hari ini dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Dan hanya muncul menjelang sore di halaman belakang dengan setelan olahraganya. Yang kutahu itu hanya modus untuk mengajakku bertemu karena dia selalu mengirim pesan sebelum muncul dengan senyuman polosnya. Keenan sukses membuat rasa bersalahku semakin berlipat ganda.

"Nggak ada jadwal mendaki lagi, Ta?"

Aku tersentak mendengar suara Keenan yang mendekat ke teras belakang, tempatku bersama Kak Nita menikmati camilan yang baru dibikin mama. Segera kuperbaiki posisi dudukku yang terlalu santai membaca buku.

"Basi, lo," Kak Nita mencebik, "Modus, kan, biar bisa numpang makan camilan buatan mama gue."

Aku menahan tawa, sementara Keenan sudah terbahak.

"Sensi banget sama gue, Ta." Keenan mendekat dan memilih duduk melantai tepat di depan kursiku.

"Eh, jangan duduk di situ. Masih ada kursi kosong loh," cegahku.

"Polos banget, sih, Na. Keenan cuma penasaran sama camilan kita sore ini. Makanya nggak mau jauh-jauh dari meja." Kak Nita mendorong toples kripik pisang ke depan Keenan. "Nih."

"Kalau gue bilangnya ke sini karena mau dekat-dekat sama Nina, lo nggak mau percaya?"

Kak Nita tidak menanggapi. Dia memilih kembali fokus pada laptopnya. Sementara Keenan memilih bersandar, menempelkan punggungnya yang berkeringat tepat pada lututku yang terlipat di atas kursi dan sukses membuatku berdebar. Aku tidak bisa lagi fokus pada isi buku yang kubaca.

"Lagi baca apa, Nin?" Suara Keenan terkesan terlalu nyaring jika hanya ingin didengar olehku yang berada tepat di belakangnya.

Aku melirik Kak Nita, tampak masih fokus pada layar laptopnya. Aku tidak memberi jawaban, justru mendorong punggung Keenan dengan lututku.

Keenan tertawa renyah, kemudian mengambil lagi segenggam keripik pisang di tangannya. "Makan, Nin," tawarnya sambil menaikkan tangannya yang memegang keripik ke depanku.

Benar-benar nekat. "Tidak, terima kasih," tolakku, lalu berusaha bangkit. Terlalu lama berdekatan dengan Keenan di depan Kak Nita membuat kondisi jantungku tidak kondusif.

"Lo nganggur lagi?" Kak Nita menutup laptopnya, lalu mengambil paksa toples keripik di pangkuan Keenan. "Na, tolong ambilin air lagi dong. Sekalian buat tetangga yang hobby numpang makan ini."

"Heem," aku bergegas meninggalkan tempat duduk.

"Ngeliatin Nina sampai segitunya, Nan. Kenapa? Lo ada rasa?"

Ingin rasanya aku menyimak jawaban Keenan jika saja aku sudah berada di balik dinding. Sayangnya posisiku masih berada tiga langkah dari pintu, berdiri tepat di samping Kak Nita. Jika berhenti sekarang, Kak Nita pasti langsung curiga. Terpaksa langkah tetap kuteruskan, menganggap lalu ucapan kakakku barusan.

Aku tergesa mengambil dua gelas, mengisinya penuh dengan air putih, kemudian bergegas menuju teras belakang kembali. Saat mencapai pintu, kembali kubuat santai langkahku agar tidak kentara terlalu ingin mencuri dengar percakapan Kak Nita dan Keenan.

"Nih minumnya." Aku meletakkan dua gelas di atas meja.

Rasanya aneh saat mendapati Keenan dan Kak Nita justru diam. Bukankah harusnya ada pembahasan lanjutan setelah pertanyaan tadi? Aku melihat Keenan, berharap dia memberi sedikit petunjuk.

"Kenapa, Nin?" Keenan bertanya santai saat menyadari aku terus menatapnya. Dia bergerak meraih gelas dan meneguk setengah isinya dengan ekstra kedipan untukku.

"Nggak!" Aku mengambil buku, kemudian meninggalkan teras belakang setengah dongkol. Awas saja kalau nanti malam dia mengajak bertemu, bakal kutolak mentah-mentah.

"Kusut amat tuh muka. Kenapa?" Kak Nino yang baru pulang langsung merangkulku. Dia melongok ke teras belakang. "Digangguin Nita lagi?" tanyanya yang melihat Kak Nita yang memang bisa dipantau dari tempat kami berdua berdiri.

"Nggak ada apa-apa." Aku berusaha melepas tangan Kak Nino yang melingkar di leherku. "Lepasin, Kak."

Bukannya membebaskan aku, Kak Nino malah menyeretku kembali ke teras belakang. Masih ada Keenan yang menikmati kripik pisang dengan santai.

"Si bungsu diapain lagi, Ta?" Kak Nino menendang kaki kursi tempat Kak Nita duduk.

"Lah? Nggak gue apa-apain," protes Kak Nita. "Cuman gue minta ambilin minum. Masa gitu aja lo ngambek, Na?"

"A-aku nggak ngambek kok."

"Terus mukamu kusut itu kenapa?"

Aku hanya bisa menggeleng. Tidak mungkin kujawab kalau aku ngambeknya ke Keenan, kan? Aku melirik si tersangka utama yang mengulum senyum sambil mengendikkan bahu. Matanya seolah berkata, 'Kalau kamu sudah mengaku kita pacaran sama saudaramu ini, aku yang akan mengaku.' Dasar jail.

"Ya, sudah." Kak Nino memilih duduk di tempatku tadi, menepuk pundak Keenan yang sebelumnya mengangkat tangan menyapanya. "Nanti malam kita ke resepsinya Andra, ya. Tadi dia nanyain kenapa kamu nggak ikut pas akad."

"Gue yakin Andra tahu deh kalau Nina pernah suka sama dia. Dia pengin banget tuh pamer kalau udah move on dari Nina. Dia kan juga pernah ngaku kalau ada rasa sama adek bungsu kita ini," ucap Kak Nita santai.

Keenan yang sedang menghabiskan sisa air minumnya seketika tersedak. Dia menepuk-nepuk dadanya setelah meletakkan gelas di atas meja. Aku hanya bisa menelan ludah saat menyadari Kak Nino menatap Keenan dan aku bergantian.

***

Keenan :

Sudah pulang?
Bagaimana pestanya?
Ciyee ... ketemu mantan gebetan.
Kok ga dibalas?
Aku ga bisa tenang mikirin pacarku yang ketemu orang yang pernah dia suka.

Aku menahan tawa mendapati notifikasi beruntun dari Keenan. Sengaja pesannya tidak langsung kubalas, selain karena ingin mengerjainya dan membuat dia uring-uringan lagi, juga karena aku masih bersama Kak Nino sekarang ini.

"Kamu pernah pacaran?"

"Hah?!" aku refleks menoleh dengan mata melotot pada Kak Nino yang sedang memegang kemudi. "Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"

"Cuma penasaran," jawabnya dengan yang tetap pandangan fokus pada jalan raya.

"Nggak," jawabku dengan tatapan lurus ke depan. Lagi-lagi aku berbohong. Maaf, kak.

"Kakak kok ngerasa kalau tingkah Keenan mirip sama kelakuan Andra pas dulu masih naksir kamu, ya?"

Aku menelan ludah. "Hah? Perasaan Kakak aja tuh," ucapku dengan tawa sumbang. Astaga, saudaraku ini benar-benar peka sekali. "Aku nggak boleh pacaran, ya?"

Kak Nino tertawa menoleh menatapku sejenak, kemudian kembali melihat ke depan. Dia hanya mengendikkan bahu tanpa memberi jawaban.

"Apa sih? Nggak jelas."

"Kakak nggak kasih larangan kok. Tapi, sebisa mungkin mengawasi orang-orang yang kurang baik pergaulannya buat dekat-dekat kamu."

"Aneh," protesku, "Jadi secara nggak langsung Kakak ngaku kalau pergaulan Kakak itu kurang baik."

"Bukan begitu," Kak Nino menghela napas. "Andra orang yang baik untuk diajak berteman, tapi, waktu itu nggak cocok buat jadi pasangan kamu. Satu, waktu Andra ngaku kalau dia naksir kamu itu, dia baru putus sama pacarnya. Kakak nggak mau kamu cuma dijadikan pelarian. Dua, kamu masih terlalu kecil waktu itu, baru mau masuk SMA."

Terima kasih Tuhan karena telah mengirimkan saudara laki-laki yang begitu perhatian untukku. "Kalau Keenan, kenapa Kakak minta aku jaga jarak sama dia?"

Kak Nino menarik napas dalam. Dia menarik rem tangan karena kami sudah tepat di depan rumah. Dia melepas sabuk pengaman, kemudian memiringkan badan menghadapku. "Lingkungan pergaulan Keenan tidak cocok buat kamu. Jadi sebelum telanjur terlalu akrab, Kakak minta kamu jaga jarak sama dia, ya."

Aku mengangguk kikuk. Meski masih bingung dan merasa abu-abu dengan permintaan kakakku, menunjukkan persetujuan dengan inginnya adalah hal terbaik saat ini.

"Kakak nggak mau masa kuliah kamu jadi kacau kalau terlibat lagi sama dia," ucapnya Kak Nino tegas.

Sepertinya aku dalam masalah besar kalau hubunganku dengan Keenan terungkap nanti.

***

The Actor and ICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang