Bab 16 : The First Lie

13.1K 1K 0
                                        

Keenan :
Take terakhir sudah selesai.
Yeaayy.
Nanti malam ketemuan, yah ❤️

Aku tidak bisa menahan senyum membaca pesan yang baru saja kuterima. Akhirnya ada kesempatan juga untuk bertemu Keenan setelah beberapa hari hanya bisa berbalas pesan saja.

"Ada yang seru di grup chat jurusan kalian?"

Aku mengangkat wajah, mendapati Nara yang melihatku dengan sebelah alis yang terangkat. "Nggak, kok. Kenapa?"

Nara menunjuk dengan dagunya. "Tuh, teman sekelasmu lagi senyum-senyum juga. Persis ekspresimu tadi."

"Yang bisa bikin Mila senyum kek gitu pasti nggak jauh-jauh dari idolanya. Yakin gue kalau yang dia lihat di hape itu update tentang Keenan," komentar Uty.

"Syuting buat series terbaru Keenan sudah selesai," seloroh Mila antusias, lalu memamerkan video pendek yang ditontonnya. "Kali ini gue harus ikut kalau ada acara meet and greet pas seriesnya dirilis."

"Si bucin satu ini tumben nggak ada komentar." Nara beralih pada Diyah yang diam sejak duduk bersama kami di meja kantin.

"Keenan mana mau ikut pusing bantu gue ngerjain tugas pak Umar. Astaga dosen galak sok disiplin itu ngasih tugasnya nggak kira-kira." Diyah mengomel dengan jemari yang sibuk menari di atas keyboard laptopnya.

Kami terkekeh bersamaan. Menemukan waktu untuk berkumpul lengkap sejak semester baru dimulai adalah hal langka. Sayangnya kami tetap tidak bisa santai bersenda gurau seperti saat menghabiskan malam saat masih di asrama dulu.

"Kalian sadar nggak sih? Teman sekelas gue belakangan ini jadi lebih rajin pegang hape. Bahkan sering senyum-senyum sendiri."

"Sepakat." Nara mengetukkan jari di atas meja.

"Oh, ya?" Diyah bahkan menepikan laptopnya untuk mendengar celotehan lebih lanjut dari Mila. "Tumben banget," komentarnya.

Aku melirik Uty yang belum menanggapi. Dia sepertinya ogah membuka mulut, mungkin mengingat janjinya pagi tadi.

"Baru berapa bulan kita bebas dari asrama? Bisa-bisanya dia langsung dekat sama cowok."

"Gue iri, gue bilang."

Aku mengulum senyum. "Santai banget gibahnya, gue masih di sini woy."

"Kita mah anti bicara di belakang, Na. Jujur deh, lo lagi dekat sama cowok, kan? Tuh pesan dari siapa coba sampe bikin lo senyum kayak orang kasmaran."

"Dari Keenan," jawabku santai setelah meletakkan ponsel, lalu menatap Mila menunggu reaksinya.

"Segila-gilanya gue sama Keenan, nggak pernah sehalu lo juga, Na," sinisnya.

Aku hanya bisa menahan tawa. Benar-benar menunggu momen saat mengungkap jika idolanya itu benar-benar pacaran denganku. "Gue nggak maksa lo buat percaya kok, Mil."

Mila memajukan bibir. "Seujung kuku pun nggak bakal gue percaya, Na."

"Gue rindu masa-masa kita masih bareng di asrama." Uty membuka topik baru. Raut wajahnya yang seperti orang patah hati membuat kami merasa bersalah.

Diantara kami berlima, Uty memang satu-satunya anak perantauan. Ketika kami berempat merasa senang kembali ke rumah semester ini, dia menggalau seorang diri karena harus menghabiskan sisa waktunya sebagai anak kosan yang kesepian. Aku merasa bersalah sudah merayakan kebahagiaanku menjadi anak rumahan di depannya.

"Drama lo, Ty. Lo, kan, bahagianya bukan main karena bebas begadang sampai tengah malam. Ditambah lagi ada tetangga kosan lo yang cakepnya nggak ketulungan itu, kan?"

The Actor and ICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang