Bab 48 : Time Heals

6.9K 635 18
                                        

Ada banyak hal dalam hidupku yang bisa--dan harusnya lebih menjadi prioritas untuk dipikirkan, dibanding sekadar menggalaukan urusan percintaan yang tidak berjalan mulus sesuai harapan.

Sebagai mahasiswa menjelang semester akhir, aku mulai disibukkan dengan proses penelitian dan persiapan seminar proposal , belum lagi tugas mata kuliah untuk semester ini yang cukup memusingkan.

Ditambah lagi dengan kondisi Kak Nita yang masih dalam tahap pemulihan. Keterbatasannya dalam beraktifitas tentu saja membuatku tidak tega membiarkannya kesulitan, meski sebenarnya sesekali aku ingin memukul kakinya--yang sudah lepas dari gips, karena terlalu sering menjailiku ditengah sakitnya.

Semua itu sudah cukup menyita waktu dan tenaga. Memberi ruang untuk menyesali masa lalu sungguh buang-buang waktu. Aku yakin, perlahan tapi pasti, dia akan menjadi hal yang biasa saja setelahnya.

"Waah ... Keenan makin keren aja, nih, bisa masuk nominasi piala citra loh dia."

Aku mendengus, baru saja membangun tembok percaya diri bisa mengendalikan diri jika mendengar tentang dia, eh, Kak Nisa dengan entengnya malah menyebut lantang namanya di depanku. Bisa kulihat Kak Rian menyikutnya pelan sambil melirik padaku.

"Lihat deh, Ay," seloroh Kak Nisa sambil menyodorkan ponselnya, mengabaikan isyarat yang diberikan sang suami.

"Move on, Na, retak di bahu gue udah sembuh, nih. Masa hati lo belum, sih?" Kak Nita sepertinya melihat reaksiku.

Aku mencebik mendengar komentar Kak Nita. Duo kakak perempuanku ini kalau bertemu memang paling jago untuk urusan menggodaku.   

Satu hal yang tidak bisa kuabaikan, akhir-akhir ini Keenan memang semakin sering terlihat di media, baik online ataupun di televisi. Entah itu untuk iklan, atau sekadar berita tentang kegiatan terbarunya. Aku yang sudah menutup akses komunikasi--secara pribadi dengan dia tetap saja tidak bisa memblokir segala informasi tentangnya.

"Aku udah biasa aja, loh, Kak. Tapi kalau namanya keluar mulut kalian berdua, kedengarannya, kok, malah bikin kesal, ya?" Aku membuat alasan.

"Dih, alasan," cibir Kak Nisa.

"Udah, ah, berantemnya. Enggak malu apa sama Erika? Nanti ipar kalian ini malah males kalau diajak kumpul bareng seperti ini lagi." Mama menengahi.

"Enggak, kok, Ma." Kak Erika menyanggah dengan anggun. "Aku malah suka kalau ramai begini. Lebih seru rasanya, Ma," tambahnya.

Aku mengulum senyum melihat reaksi anggota baru keluarga kami itu. Kak Erika sepertinya masih berusaha menyesuaikan diri. Sesekali aku masih mendapatinya tampak terkejut saat mendengar celotehan kami bersaudara.

Keluarga kami semakin sering berkumpul pasca pernikahan Kak Nino, atau mungkin ini untuk menghibur dan mendukung kesembuhan Kak Nita? Entahlah. Yang pasti momen hangat dan ramai seperti sekarang ini sangat menyenangkan--dan tentu saja cukup ampuh untuk mengobati 'luka yang tak terlihat'.

"Dulunya malah lebih ramai, loh. Tetangga sebelah kita sering ikut makan-makan bareng di sini. Kadang kita gantian juga buat jadi tuan rumah."

"Oh, ya? Tetangga yang ..." Kak Erika tidak melanjutkan kalimatnya, dia justru beralih menatapku dan tampak sungkan.

"Iya, Kak. Iya. Tetangga kita sekaligus keluarganya mantan aku," selorohku, dan sukses mencipta tawa mereka semua.

"Uu ... Ngambek." Kak Nisa langsung memeluk dan mengacak rambutku. Kali ini aku tidak bisa protes lagi. Kubiarkan dia puas menjailiku. "Jarang-jarang Dek, kakakmu ini bisa iseng kaya gini. Mumpung si kembar lagi banyak pengawasnya."

Aku hanya bisa mencebik mendengar alasan itu.

"Oh, ya, Ma. Mama enggak pernah kontakan lagi sama Tante Ana?"

Mama yang tengah menuangkan teh herbal untuk Papa hanya menggeleng pelan mendengar pertanyaan Kak Nita. Dan itu sukses membuatku merasa bersalah.

"Bukan, bukan karena kamu, kok," ucap Mama, matanya menyorotku. Seperti biasa, Mama dengan mudah membaca raut wajahku. "Mama hanya merasa sungkan aja. Mamanya Keenan pindah, kan, untuk menenangkan diri sekaligus berobat juga. Takutnya suasana hatinya terganggu lagi kalau Mama tiba-tiba hubungin dia. Bikin dia ingat sama rumahnya, juga sama ibunya."

Aku hanya bisa menghela napas mendengar jawaban Mama.

"Udah, ah. Mama enggak suka kalau sendu-sendu kaya gini. Kita, kan, kumpul-kumpul untuk seru-seruan," seloroh Mama cepat saat menyadari hanya hening yang tercipta setelah kalimat panjangnya.

Kak Nino yang bergerak paling pertama, bergegas mengambil alih kompor portabel dan berjalan menuju teras belakang. Kami akan memanggang daging. Lagi. Entah kenapa hanya menu ini yang terlintas saat kami berdiskusi--di grup obrolan keluarga.

Tidak butuh waktu lama untuk kembali menghangatkan suasana. Kami benar-benar menikmati kebersamaan, meski sudah rutin mengulangi kegiatan ini. Ada saja celotehan yang sukses mencipta tawa di antara kami.

Aku yang hanya terus makan tanpa mendapat giliran memanggang akhirnya merasa begah juga. Jadi kuputuskan untuk menggendong Daaniyah yang mulai tampak bosan dan gusar di kursi khususnya.

"Mainnya di depan TV aja, Na. Perlengkapan tidurnya ada dekat sofa, siapa tahu nanti dia ngantuk," pesan Kak Nisa saat melihatku membawa anak perempuannya beranjak masuk ke rumah.

Aku menyalakan TV setelah Daaniyah mulai duduk tenang dan sibuk dengan mainannya. Dan kurasa semesta sedang kompak untuk menguji keteguhanku, penampakan Keenan langsung menyapa begitu layar TV menyala. Tapi aku pun merasa sudah 'sembuh', kali ini tidak kuganti lagi saluran TV, justru menyimak berita yang menyajikan dirinya sebagai topik utama.

"Serius amat ngeliatin mantan. Kangen?" Kak Nino duduk di dekatku, kemudian mengangkat Daaniyah ke pangkuannya.

"Enggak lah!" sanggahku cepat.

"Kakak masih sering komunikasi sama Keenan."

"Itu hak Kakak," balasku.

"Kamu ... enggak mau tahu kabarnya?"

"Enggak minat," jawabku tegas.

Kak Nino terbahak. "Padahal dulu garang banget pas dilarang buat pacaran sama--"

Ucapan Kak Nino terputus saat aku melemparnya dengan bantal sofa. "Udah lewat, Kak. Udah selesai."

"Yakin?"

Aku mengangguk tegas. "Aku bahkan udah lupa, kenapa dia tiba-tiba minta putus dulu. Eh, kayanya memang enggak ada alasan jelas, deh," tambahku, lalu terkekeh sendiri. "Maaf, ya, Kak. Dulu aku enggak dengerin nasehat Kak Nino."

"Kalau dia mau balikan, gimana?"

Aku mendengus, menatap Kak Nino dengan jengah. "Sekarang aku maunya fokus sama persiapan skripsi dulu. Sekalian nyiapin CV buat mulai cari kerja," jawabku, "Juga mau ngawasin pertumbuhan bocah kecil ini sama abangnya," tambahku sambil mencubit gemas pipi Daaniyah.

"Terserah kamu ajalah," komentar Kak Nino dengan tangan yang mengacak pelan rambutku. "Kalau ada apa-apa, tetap cerita sama Kakak, ya," pintanya

"Siap, bos!" jawabku dengan gestur memberi hormat, kemudian meraih remot TV dan memindahkan saluran. Bukan karena merasa tidak senang dengan berita panjang tentang Keenan, tapi hanya ingin mencari acara yang lebih ramah anak untuk Daaniyah.

Rasanya sudah cukup segala hal dan perkara tentang Keenan dalam hidupku.

***

The Actor and ICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang