Tidak pernah ada adegan buru-buru dalam keseharianku sebagai mahasiswi pada semester sebelumnya. Sekalipun dapat jadwal kelas jam 8 pagi, aku masih bisa rebahan santai di kamar asrama sampai jam 7. Jarak gedung asrama ke area kampus utama hanya menghabiskan waktu lima belas menit berjalan kaki. Dan gedung fakultasku adalah bangunan pertama yang menyapa dari arah asrama. Ada banyak waktu luang untuk bersantai sebelum menerima teori-teori manajemen.
Dan situasi santai nan senggang itu berbanding terbalik untuk semester ini. Pagi ini waktu bahkan belum menunjukkan jam 7 tepat, tapi aku sudah rapi dan siap berangkat. Aku hanya melahap satu roti bakar dan bergegas keluar rumah. Berniat berjalan kaki saja ke jalan raya sambil berharap segera mendapat angkot. Aplikasi taksi online yang kubuka sejak tadi tidak kunjung mendapat tanggapan.
"Hei, sudah mau berangkat? Ayo, bareng."
Aku terlalu fokus pada ponsel sampai tidak menyadari Keenan sedang jongkok di samping si kembar yang sedang berjemur. Ada Kak Nisa juga yang sesekali menggoyangkan kereta bayinya.
"Huh?"
"Kamu ada kelas pagi, kan?"
Aku mengangguk kaku. Berharap Kak Nisa tidak terlalu peduli dengan percakapanku bersama Keenan.
"Ayo, buruan."
Keenan bergerak mendekatiku. Membuatku melotot dan memberinya isyarat agar berhenti. Tapi, dia sepertinya menikmati untuk menggodaku.
"Loh, Na, kirain sudah berangkat dari tadi. Awas kena macet nanti."
"Iya, nih, Kak. Dari tadi diajak berangkat malah jadi patung." Keenan menimpali.
"Kalian mau berangkat bareng?"
Aku menelan ludah demi menunggu jawaban Keenan.
"Iya, Kak," jawab Keenan, lalu menatapku, "Kita searah."
"Oh, baguslah. Kapan lagi bisa dianterin sama seleb, Na. Keenan hati-hati, ya, nyetirnya," ucap Kak Nisa, kemudian kembali fokus pada anak-anaknya.
"Sip, Kak." Keenan memberi hormat, lalu kembali menatapku. "Ayo," gegasnya.
Aku berlari kecil mengikuti langkah lebar Keenan. Dia bahkan menunggu dan membukakan pintu mobil untukku, kemudian berlari kecil menuju sisi lainnya dan akhirnya duduk tenang di kursi kemudi.
"Pakai sabuk pengamanmu," perintahnya sambil menyalakan mesin.
"Kamu, ya, suka banget bikin orang jantungan."
"Loh, aku kenapa?"
"Aku belum cerita ke siapapun kalau kita ...." Aku tidak sanggup melanjutkan kalimatku, rasanya masih aneh sendiri menyebut status hubunganku dengan Keenan.
Keenan yang sebelumnya sibuk merapikan interior mobil langsung fokus padaku. Senyum jailnya menghilang.
"Kamu masih belum yakin, ya?" Ada senyum di akhir kalimatnya, tapi itu tampak menyedihkan di mataku.
"Bu-bukan begitu."
Keenan fokus memutar kemudi. "Aku kesannya maksa kamu, ya?"
"Nggak kok," jawabku cepat.
Aku bisa melihat dia tersenyum kecil dari samping. "Baiklah, aku ikut aturan kamu saja," ucapnya.
"Kamu bukannya istirahat malah repot-repot nganterin aku kuliah pagi."
"Aku nggak mau kamu ngambek lagi. Hari ini syuting adeganku mulai siang kok. Masih ada waktu buat santai. Setelah ini juga langsung ke kantor baru ke lokasi."
"Aku nggak ngambek."
"Iya, kamu nggak ngambek. Aku yang salah paham." Keenan menatapku sejenak, lalu kembali fokus ke jalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Actor and I
Chick-LitOrang-orang mengenalnya sebagai aktor ternama dengan akting yang memukau. Teman-temanku bahkan terlalu sering membicarakan apa saja tentang dia. Namun, bagiku dia hanyalah salah satu penghuni rumah sebelah yang jarang berinteraksi denganku. Sedangka...
