Bab 19 : Meet and Greet

10.7K 875 3
                                        

Satu kesalahan besar menuruti permintaan Mila. Harusnya sekarang aku sudah bernapas lega karena sudah mengikuti kelas Pak Umar yang seringnya sukses bikin mengantuk. Bukan malah terjebak disituasi sesak di antara banyaknya penggemar yang menanti kemunculan para pemain series yang menjadikan Keenan sebagai salah satu pemerannya.

Kami sudah di lokasi sejak satu jam yang lalu, sementara acara baru akan dimulai sekitar setengah jam lagi, itu pun kalau pelaksanaannya tepat waktu. Aku melirik jengah Mila yang masih tampak penuh tenaga dan sesekali fokus pada ponsel, kemudian ikut histeris jika kerumunan kompak meneriakkan nama idola mereka. Setidaknya kami sedikit beruntung karena mendapat kursi di belakang para wartawan yang turut meliput acara ini. Bukannya harus berdiri di belakang yang pastinya sangat tidak nyaman.

"Lo nggak capek, Mil?"

Mila menatapku gemas. "Astaga, Nina. Ini kesempatan langka buat bisa interaksi sama artis idolaku. Nggak ada kata capek untuk hari ini, Na," ucapnya setengah berteriak karena situasi sekitar kami terlalu riuh.

"Mau gue bantu ketemu Keenan?"

Bukannya memberi reaksi antusias, Mila justru menatapku sinis. "Gue makasih loh, Na, lo mau nemenin sampai sini. Tapi, kalau mau minta pulang nggak gitu juga kali," ucapnya.

"Gue cuma kasih penawaran sih."

"Nanti gue beliin Milkshake lagi deh. Nih, di tas gue cuma ada snack. Ambil, gih, lumayan buat nunda lapar."

Aku menerima uluran tas Mila, padahal aku sudah berniat baik untuk membantunya. Kubuka satu bungkus snack cokelat dan mulai menikmatinya sambil mengedarkan pandangan pada penonton yang rasanya terus bertambah, beberapa orang juga terlihat membawa banner dan poster seriesnya. Lawan main Keenan lumayan cantik. Ah, salah, itu sih cantik banget.

Aku terlalu menikmati camilan milik Mila hingga menghabiskan bungkus kedua. Bersamaan dengan tanganku yang hendak membuka kemasan snack yang ketiga, Mila menarik tanganku untuk berdiri. Acara sepertinya sudah dimulai.

MC memberi arahan agar penonton menjaga ketertiban. Meminta semua yang hadir untuk berhenti berteriak agar dia bisa membuka acara dan memanggil artis dan kru series tampil ke panggung. Aku kembali duduk tenang di tempat mengikuti instruksi.

Akhirnya, satu per satu pesohor yang terlibat dalam series mulai bermunculan. Teriakan penonton kembali pecah. Terlebih saat nama Keenan dan Rebecca--lawan mainnya disebutkan. Berbeda dengan artis lain, keduanya justru dipanggil untuk naik ke panggung bersamaan. Menciptakan sorak sorai yang semakin riuh lagi.

Keenan di sana. Berjalan santai dengan senyum hangatnya. Sesekali melambai pada penonton. Sampai di tengah panggung, dia mempersilakan Rebecca duduk lebih dulu. Perlakuannya itu sukses membuat banyak cewek yang menonton berdecak iri.

"Menurut lo, gimana tanggapan ceweknya Keenan kalau liat semua ini?" Mila berbisik tepat di telingaku.

Aku mengendikkan bahu. Fokusku kini hanya pada Keenan yang mulai menyapa dan memperkenalkan tokoh yang diperankannya.

"Kalau gue sih nggak bakal kuat, Na," komentar Mila lagi. "Apalagi sekarang ini banyak fans bar-bar. Selalu berharap cuople di drama buat jadian di real life," lanjutnya, membuatku menoleh menatapnya. "Dan gue bukan tipe fans yang kayak gitu, ya," tambahnya seakan bisa membaca makna sorot mataku.

Pandangan kembali kualihkan pada panggung. Cemburu? Entahlah. Yang kutahu adalah aku tidak suka melihat interaksi Keenan dan lawan mainnya itu. Bisa kupastikan nanti tidak akan menonton series ini. Toh, aku memang tidak suka nonton sinetron dan sejenisnya.

"Mil, gue ke foodcourt aja, ya. Lama-lama gerah juga di sini." Aku pamit ke Mila sebelum meninggalkan kursiku.

"Jangan!" Mila mencegatku, menarik tanganku hingga aku kembali terduduk. "Lo masih nyimpen kupon seratus penonton pertama tadi, kan? Nanti bakal diundi buat dapat merch eksklusif. Di sini aja," pintanya.

The Actor and ICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang