Bab 28 : Deep Talk

10.6K 792 7
                                        

Aku tidak bisa menyembunyikan lagi rasa khawatirku pada kondisi Keenan. Hampir satu minggu tanpa kabar darinya membuatku uring-uringan. Dan saat mama--yang baru pulang tadi pagi, mengatakan hendak ke rumah sebelah untuk menjenguk nenek Keenan, aku bergegas mengikuti langkahnya. Kuabaikan delikan Kak Nita yang terlihat mengejek tingkahku.

"Tumben, Dek, mau ikut. Biasanya, kan, kamu itu paling malas kalau disuruh ke rumah tetangga," komentar Mama saat aku mengamit lengannya ketika kami melangkah memasuki pekarangan Keenan.

"Bosen di rumah, Ma. Kak Nita lebih sering sibuk sama hapenya."

"Ya, mau gimana lagi? Kerjaan kakakmu itu ada di hapenya to," balas Mama, "Lagian Nino juga kayaknya betah banget di studionya. Sampai lupa buat pulang ke rumah."

Aku menggigit bibir, tidak berani membuka suara. Jangan sampai radar Mama menangkap sinyal perselisihanku sama Kak Nino.

"Selamat sore, Bu," sapa mama saat kami mencapai teras depan rumah Keenan. Ada nenek dan ibu Keenan di sana. Mereka menyambut kami dengan senyum ramah.

Kubiarkan mereka bertiga berbincang. Pandangan kuarahkan pada area dalam rumah, memindai kehadiran ayah Keenan yang akhir-akhir ini semakin jarang terlihat.

Sekitar tiga puluh menit aku duduk dan mencoba tenang mendengarkan topik seputar keluhan kesehatan para wanita tua. Hampir saja kuputuskan untuk pamit lebih dulu ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah Keenan.

Aku tentu saja otomatis mengulas senyum saat Keenan muncul dari dalam mobil. Dia melangkah menuju teras dengan menenteng ranselnya. Di belakang ada Kak Adi yang langsung pamit dengan melambaikan tangan pada kami.

"Ponselmu kenapa, hah? Mama telepon dan kirim pesan nggak dapat balasan." Tante Ana menyambut anaknya dengan ungkapan khawatir berbalut omelan.

Keenan tidak memberi jawaban. Dia hanya meraih dan mencium punggung tangan ibunya. Setelah itu dia beralih pada sang nenek, melakukan hal yang sama, kemudian memberi pelukan hangat. Keenan juga melakukan tindakan sopan santun itu pada mama. Dia masih bersedia menunjukkan rasa hormatnya meski penampakannya sudah sangat kelelahan.

Aku terus memantau Keenan hingga dia mengangkat kepala, melepas pegangan pada telapak tangan Mama.  Pandangan kami tepat bertemu, aku melebarkan senyum lebih dulu. Keenan bergerak mendekatiku, dia menepuk pundakku pelan dan berucap lirih, "Hai."

"Hai juga," balasku kalem, padahal sebenarnya aku sangat ingin sekali meraih dan menggenggam erat tangannya.

"Maaf, saya permisi dulu, ya. Mau istirahat," seloroh Keenan kemudian.

"Nggak makan dulu?"

"Nggak usah, Ma. Mau tidur aja dulu," jawab Keenan, lalu perlahan membawa langkahnya ke dalam rumah.

Aku terus memandangi langkah Keenan. Menatap punggungnya hingga menghilang di balik dinding. Sedikit kecewa karena hanya mendapat satu kata darinya setelah sekian hari kami tanpa komunikasi.

***

Aku tersentak, terjaga dari tidur saat ponsel yang sedang kugenggam bergetar karena menerima pesan secara beruntun. Terlalu senang dengan kepulangan Keenan membuatku siaga menunggu pesan darinya hingga ketiduran.

Dengan semangat kubuka kunci layar ponselku. Tapi akhirnya hanya bisa manyun karena pesan yang menghampiri hanya dari operator.

Sepertinya Keenan benar-benar butuh istirahat lebih panjang. Kuputuskan untuk bangkit ke kamar mandi, menggosok gigi dan mencuci muka sebelum benar-benar tidur malam ini.

Ingin mengirim pesan lebih dulu rasanya juga sungkan. Mengingat komunikasi terakhir kami yang dia akhiri dengan sepihak. Atau aku yang terlalu gengsi? Ah, sudah lah. Suka-suka Keenan saja.

The Actor and ICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang