Bab 39 : Insight

10.4K 800 27
                                        

"Ngerusak frame ih."

"Outfitnya gitu banget, Kak."

"Nggak level woii."

"Beda sirkel nih. Sadar diri dong. Masa nongkrong bajunya kaya mau wawancara kerja, sih?"

"Yang lain udah keren banget. Tapi, pakaiannya Kakak kayak anak magang. Lain kali perhatiin outfit dong."

Atas nama rasa terima kasih dan niat ingin membantu Bre mempromosikan kafenya, aku memutuskan membuka gembok akun instagram, dan me-repost unggahannya di akunku, tapi justru rentetan balasan seperti itu yang kudapatkan.

Orang-orang sibuk memgomentari penampilanku tanpa mau mencari tahu dulu alasan aku mengenakan pakaian yang katanya tidak sepadan dengan yang lain. Aku hanya menghela napas panjang membaca balasan mereka semua.

"Lagi liat apa? Serius banget?"

"Hah?!" Aku berusaha santai, menaruh ponsel ke dalam saku dan mengulas senyum untuk Keenan yang baru masuk ke mobil. "Cuma iseng baca-baca timeline medsos, kok," jawabku.

"Oh." Keenan mengangguk, memasang sabuk pengaman dan mulai menyalakan mesin mobilnya. "Pakai sabuk pengamanmu."

Aku menuruti perintah Keenan, mengamatinya yang mulai memutar kemudi dan membawa mobil keluar dari area parkir kantor managemennya.

"Aku ganteng banget, ya, kalau nyetirnya cuma pakai satu tangan begini?" tanya Keenan iseng meski matanya tetap fokus mengatur posisi mobilnya.

"Dasar narsis," desisku yang dia tanggapi dengan tawa renyah.

Mobil mulai melaju meninggalkan area halaman kantor. Mataku beralih memandang deretan gedung tinggi yang kami lewati. Dan tiba-tiba saja pikiranku memutar ulang situasi saat kami di kantor tadi. Senyumku seketika mengembang demi mengingat kembali perlakuan manis Keenan padaku beberapa saat lalu.

Aku merasa sangat tersentuh ketika dia terus menggenggam tanganku saat kami mulai melewati pintu masuk. Keenan berjalan santai di sampingku, mengarahkan langkah kami menuju satu ruangan untuk mengembalikan kunci mobil kantor, sekaligus melapor.

Keenan seakan menunjukkan jika dirinya akan selalu ada untuk membersamaiku. Aku yakin dia sangat peka jika aku mulai minder dengan pakaianku yang terlalu 'mencolok' ini. Ya, pikiranku hampir sama lah dengan pesan-pesan nyinyir yang kuterima tadi.

Dan aku baru sadar jika dalam hubungan kami, justru Keenan lah yang selalu memberi perhatian lebih. Sering menanyakan kabar dan suasana hatiku. Rasanya aku hanya terus menerima kebaikan hatinya tanpa bisa membalas dengan layak semua sikap baiknya itu.

"Hei, ngelamunnya sampai senyum-senyum begitu. Mikirin apa, sih?" tegur Keenan.

Tanpa memberi jawaban, aku menoleh dan hanya melebarkan senyum untuk Keenan.

"Kamu, kok, jadi aneh begini," komentarnya, kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya.

Lampu lalu lintas baru saja berubah menjadi merah. Ada waktu 90 detik bagi Keenan untuk mengalihkan fokus dari jalan raya.

"Eh, Kita belum pernah foto berdua aja, ya?" seloroh Keenan, ibu jarinya sibuk menggulir layar ponsel miliknya.

"Oh, iya, ya." Aku juga baru sadar untuk satu hal ini.

"Foto, yuk, terus jadiin foto profil."

"Ih, norak. Nggak usah," tolakku.

"Kok norak, sih?" protesnya, kemudian dengan sigap meraih tangan kananku dan menautkan jemari kami, lalu mengarahkan kamera ponselnya. "Bagus, kan?" tanyanya memperlihatkan hasil fotonya.

The Actor and ICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang