Tidak banyak yang berubah sejak rumah sebelah kembali berpenghuni. Sepertinya Keenan cukup tahu diri untuk berinteraksi kembali dengan kami sama seperti sebelumnya, dan aku merasa lega untuk sikapnya itu.
Atau mungkin juga karena rumah kami lebih sering kosong. Setelah pensiun, Papa memutuskan membuka toko alat olahraga dan lebih banyak menghabiskan waktunya di sana, Mama yang merasa bosan sendirian di rumah pun juga lebih senang menemani Papa.
Sementara aku yang satu bulan terakhir menjadi admin toko online Kak Nita, juga lebih suka menghabiskan waktu di luar rumah. Seringnya ke toko Papa, tapi kadang juga jalan-jalan sendiri sekadar membuang penat setelah bersusah payah menyusun skripsi.
Kali ini aku memilih menghabiskan waktu di kafe yang sering kukunjungi bersama teman-temanku dulu. Rasanya sedikit aneh, biasanya banyak percakapan dengan topik sembarang yang membersamaiku menikmati pesanan, kini rasanya sepi. Mereka semua sudah sibuk menentukan rencana hidup setelah wisuda, sementara aku merasa tertinggal sendiri dan masih kebingungan.
Gerakanku yang sedang mengaduk milkshake dengan sedotan perlahan melambat saat menangkap sosok familiar yang baru saja keluar dari mobil di area depan kafe. Posisi dudukku pada meja panjang yang menempel dinding kaca depan membuatku leluasa untuk menangkap pemandangan halaman kafe hingga ke jalan raya.
Aku refleks menundukkan kepala saat dua orang itu memasuki kafe, sambil berharap jika mereka tidak menyadari keberadaanku. Aku terus memantau pergerakan keduanya yang terpantul samar pada dinding kaca kafe.
Kehadiran mereka langsung menyedot perhatian para pengunjung kafe, yah, kuakui penampilan mereka memang tetap mencolok meski dengan outfit yang terlihat sederhana.
Pesona pesohor seperti Rebecca memang tidak bisa terkalahkan dan sosok yang bersamanya itu, meski hanya pernah melihat lewat foto, aku yakin tidak salah orang. Penampilannya dengan tubuh ramping ala model seakan mengubah jalan dari pintu masuk menjadi arena catwalk.
Aku jutru merasa kagum pada beberapa orang yang hanya sekadar berbisik dengan kehadiran keduanya dan memilih menahan diri untuk tidak mengganggu dan menginterupsi kegiatan dua orang terkenal itu.
Aku kembali fokus untuk menikmati cheesecake pesananku saat mereka memilih duduk terlalu dekat dari posisiku. Memutuskan kembali menundukkan wajah agar Rebecca tidak melihatku. Astaga ... dari sekian banyak meja kosong di tempat ini, kenapa mereka malah memilih meja panjang yang sama denganku?
"Masih banyak meja lain, woy. Harus banget, nih, pilih meja yang menghadap jalan?" protes Rebecca.
Tidak terdengar tanggapan dari temannya. Dan aku tidak berniat untuk mencari tahu reaksinya.
"Jadi kapan pulang ke Amerika lagi?" suara Rebecca kembali terdengar.
"Mungkin minggu depan."
Sungguh, aku tidak ada niat untuk menguping, suara mereka pun tidak terlalu keras. Memang hanya posisi kami yang terlalu dekat hingga membuatku mendengar percakapan mereka. Yang kulakukan hanya menikmati pesananku, menghabiskannya sampai tandas, sembari berharap Rebecca tidak melirik sedikit pun ke posisiku.
Aku baru saja memasukkan suapan terakhir ke mulut ketika satu tangan terjulur tepat di depanku. Jemari lentik itu mengetuk pelan bagian meja di dekat gelasku. Dan setelah menarik napas dalam, aku mengangkat wajah dan mengulas senyum.
"Nah, beneran Nina," seloroh Rebecca ceria, "Jangan bilang udah tahu dari tadi kalau gue di sini."
Aku hanya menyengir salah tingkah. "Hei, apa kabar?" aku berbasa-basi
Rebecca mencebik gemas. "Kalau enggak disapa duluan, lo pasti tetap pura-pura enggak liat, kan?"
"Sorry, cuman takut ganggu."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Actor and I
Chick-LitOrang-orang mengenalnya sebagai aktor ternama dengan akting yang memukau. Teman-temanku bahkan terlalu sering membicarakan apa saja tentang dia. Namun, bagiku dia hanyalah salah satu penghuni rumah sebelah yang jarang berinteraksi denganku. Sedangka...
