Bab 21 : Siblings Quarrel

10.4K 838 5
                                        

Aku lulus SMP pada tahun yang sama dengan Kak Nino lulus SMA. Setelah hari pisah tamat di sekolah, Kak Nino mengajakku jalan-jalan dengan mengendarai motor kesayangannya. Katanya dia mau mengabulkan apapun yang aku inginkan karena sudah berhasil menjadi peringkat tiga peraih nilai tertinggi di angkatanku.

Keinginanku tidak lah muluk. Aku hanya ingin berkeliling kota dan mengunjungi tempat-tempat menarik untuk melepas penat setelah tegang menunggu hasil ujian nasional kala itu.

Semuanya berjalan sesuai rencana. Aku yang dibonceng Kak Nino sesekali berteriak kegirangan. Kebebasan terasa membersamai kami. Sangat riang dan menyenangkan. Hingga petaka itu terjadi.

Harus kuakui, saat itu Kak Nino melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata. Maka, ketika sebuah truk di lajur lain oleng dan kehilangan kendali, Kak Nino tidak punya cukup waktu untuk menghindar. Motor kami bertubrukan dengan badan truk. Aku yang duduk diboncengan terpental entah berapa meter.

Tidak banyak yang bisa kuingat dari peristiwa kecelakaan itu. Yang kutahu adalah saat aku akhirnya sadar satu minggu setelah kejadian mengerikan itu, hampir sekujur tubuhku dibalut perban.

Keluargaku juga tidak mau bercerita banyak tentang kecelakaan yang hampir membuat mereka kehilangan aku saat itu. Mereka hanya fokus pada pemulihan fisik dan trauma yang kualami. Butuh waktu hampir setengah tahun bagiku agar bisa berdiri tegak, meski hanya untuk beberapa menit. Dan butuh tambahan waktu sekitar satu bulan lagi hingga akhirnya aku bisa berjalan dengan tertatih. Masa pemulihan yang cukup lama, memaksaku harus memilih gap year, dan merelakan peluang bebas tes masuk SMA unggulan.

Anggota keluarga terlalu fokus untuk merawatku. Mereka sepertinya lupa jika Kak Nino juga mengalami trauma. Bahkan sejak kecelakaan itu, Kak Nino masih takut dan enggan mengendarai motor. Dia juga butuh ditemani, dikuatkan, dan dihibur. Tapi yang Kak Nino lakukan justru terus berada di sampingku. Dia hampir kehilangan beasiswa dari kampus karena selalu mendahulukan aku.

Banyak hal yang sudah Kak Nino lakukan demi menebus rasa bersalahnya. Meski aku sudah mengatakan kalau aku sudah baik-baik saja, dia tetap jadi orang pertama yang sigap menghampiri jika aku mengeluarkan erangan kesakitan selirih apapun. Selalu siaga di sampingku meski jadwalnya sebagai mahasiswa baru juga menggila. Dia juga melepas banyak kesempatan dalam pendidikan dan organisasinya hanya untuk mendampingiku melewati banyaknya tahapan terapi agar bisa berjalan dengan normal lagi.

Sejak saat itu aku mulai biasa saja jika perhatiannya terkesan berlebihan padaku. Aku membiarkan dia memberi batasan pada pergaulanku, bertanya ini dan itu setiap hari sejak aku masuk asrama saat SMA hingga dua tahun pertama masa kuliah. Hanya memberinya tatapan kesal saat tahu kebohongannya tentang keberadaan Kak Andra yang selalu sukses membuatku tersenyum saat mampir ke rumah saat masa pemulihanku, entah untuk mengerjakan tugas mereka atau sekadar menengok dan mengajakku bicara.

Tapi kali ini aku tidak bisa serta merta patuh saat Kak Nino memintaku untuk menjaga jarak dengan Keenan. Aku suka Keenan. Aku merasa nyaman bersama Keenan. Keluarga kami pun sudah akrab sejak lama. Butuh alasan dan penjelasan yang sangat detail untuk membuatku langsung patuh dan menuruti perintah Kak Nino itu.

"Jawab Kakak, Na. Sejak kapan kamu pacaran sama Keenan?!" Kak Nino mengulang pertanyaannya, menarik kesadaranku dari ingatan muasal sikap posesifnya.

Aku hanya bisa menelan ludah melihat ekspresi Kak Nino. Ada kilatan amarah yang kutangkap dari wajah yang selalu menghiburku itu. Jalan napasku seperti terhambat. Susah payah aku menarik udara agar oksigen memenuhi tubuhku yang tiba-tiba terasa tidak enak.

"Kamu lupa sama permintaan Kakak untuk jaga jarak dari dia?"

"Keenan baik, Kak. Dia bikin Nina nyaman kalau ada di dekatnya. Kita, kan, juga kenal baik sama dia juga keluarganya. Memangnya apa yang salah sama diri Keenan?"

Kak Nino bangkit dari duduknya, berjalan mendekatiku dengan sorot mata yang tajam. "Tidak," ucapnya saat jarak kami sudah dekat. "Kamu belum mengenal Keenan dengan baik."

Aku hanya bisa mengerutkan kening membalas tatapannya. "Memangnya apa yang nggak aku tahu tentang Keenan?"

"Banyak!" jawab Kak Nino cepat dan lantang.

"Aku siap dengar semuanya," tantangku, "Kak Nino sebut saja satu per satu. Kita punya banyak waktu untuk bahas perkara ini."

"Nina!" hardik Kak Nino dan sukses membuatku seketika terkesiap demi mendengar nada bicaranya yang tinggi.

"Apa?!" Aku tidak bisa mengendalikan emosiku lagi. Sudah cukup Kakakku ini terlalu mengatur dan mendikte pilihan hidupku. "Sebutin semuanya sekaligus!"

Kak Nino tidak langsung memberi jawaban. Dia hanya terus menatap mataku, sorotnya kini beralih menjadi sayu. Bisa kutangkap rasa kecewa yang coba dia siratkan dari tatapannya itu.

Aku mengatur tarikan napas. Terbit rasa bersalah dalam diriku mendapati sosok Kak Nino yang seperti itu. "Aku bukan anak kecil lagi, Kak," lirihku, "Aku sudah tahu mana yang baik dan tidak baik buat diriku sendiri."

"Tidak. Kamu belum tahu apa-apa," bantahnya. Dia tetap kukuh untuk menyatakan jika aku salah.

"Ya, salahku di mana?!"

"Keenan nggak baik buat kamu, Na. Percaya sama Kakak."

Aku menghela napas kasar. "Aku capek kalau ucapan Kakak berputar-putar terus. Aku bisa menjaga diri, kok." Aku menjeda, memikirkan konsekuensi jika melanjutkan kalimat yang ada di otakku sekarang ini dalam kondisi yang emosional.

"Kali ini percaya sama Kakak, Na. Ini semua demi kebaikan kamu sendiri."

"Aku butuh alasan kenapa Kakak bilang kalau Keenan itu nggak baik buat aku."

Kak Nino hanya menatapku putus asa. "Apa nggak cukup kamu patuh saja sama perintah Kakak?"

"Nggak," jawabku cepat, "Aku mau dengar alasan yang masuk akal. Aku yang menjalani semuanya, maka keputusan aku tetap sama Keenan itu mutlak ada di tanganku."

Bisa kulihat bibir Kak Nino bergetar. Jelas sekali dia ingin mengatakan sesuatu, tapi sengaja menahannya.

"Kalau semua ini masih karena rasa bersalah tentang kecelakaan waktu itu, aku minta Kak Nino berhenti sampai di sini. Aku sudah sehat, sembuh total. Sudah menjalani kehidupanku dengan normal. Aku yakin bisa jaga diri dengan baik." Aku tidak bisa lagi menahan diri untuk mencegah kalimat itu meluncur dari mulutku.

Kak Nino terlihat terkejut dengan topik masa lalu yang tiba-tiba kuungkit. Sangat jelas dia tampak terluka.

Aku mengambil langkah menuju kamarku. Meladeni Kak Nino yang tetap enggan memberi alasan membuatku malas sendiri. Terserah jika setelah ini dia akan marah atau melapor pada papa juga mama.

"Kakak kecewa sama kamu," lirihnya saat aku berdiri tepat di sampingnya.

Kuabaikan kalimatnya itu. Aku jauh lebih kecewa. Dia melarangku pacaran dengan Keenan tanpa mau memberi alasan yang jelas. Dia yang egois. Aku tidak akan membiarkan hidupku diatur dan dikekang oleh dirinya lagi.

Aku menutup pintu kamar dengan keras. Sengaja kulakukan untuk menunjukkan jika aku juga marah karena larangan kakakku itu. Hidupku adalah aku dan pilihanku. Posisinya sebagai Kakak tidak boleh menjadikannya pihak yang sesuka hati menunjukkan ini dan itu dalam hidupku.

***

The Actor and ICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang