13. Argumen.

300 31 0
                                        

"Tumben cepet, bro." Nala tersenyum miring saat melihat Aidan datang menghampirinya dan duduk disofa seberang.

"To the point aja." Balas Aidan ketus, tidak ingin terlihat kalah dari Nala.

"Woah, santai Aidan. Keburu balik rapat lagi? Duh, ketua himpunan. Sibuk ya?" Nala menekan nadanya pada kata himpunan. Seolah menegaskan jika kehadiran Aidan ditempat ini adalah sebuah skandal.

Lelaki didepan Nala terdiam. Mengamati seluruh gerak-geriknya yang harus diakui memang menyebalkan.

"Rokok?" Tawar Nala. Aidan menggeleng, ia bersiap menguatkan diri jika akan mendapatkan makian culun atau sejenisnya. Tapi Nala adalah si selalu diluar perkiraan, lelaki itu justru mematikan rokoknya.

Aidan masih memperhatikan Nala dengan saksama. Merancang skenario apa yang akan ia lakukan dan ia jawab jika Nala melakukan atau bertanya sesuatu. Ia menghela napas. Tangannya mengambil satu sloki vodka yang Nala tuangkan untuknya.

Ia menegaknya cepat. Tanpa merasakan panas yang membakar seperti dulu pertama kali mencoba minuman itu. Ah, lupa. Aidan peminum yang kuat, dengan toleransi alkohol yang cukup baik.

"Apa?" Tanya lelaki itu saat melirik kearah Nala yang juga memperhatikan dirinya.

"Jauhin Wanda." Tertebak. Bibir Aidan menyunggingkan senyum miring.

"Mau apa emang? Lo bukan siapa-siapa nya."

"Lo nggak tau apa-apa soal Wanda. Jauhin dia."

Aidan mengangguk, membenarkan. "Tapi setidaknya gue tau cara ngehargai perasaan perempuan."

Nala tertawa, meremehkan. "Oh ya? Lo bahkan nggak tau soal gue sama dia."

Kepala Aidan menggeleng-geleng heran. "Nala, Nala. Masih takut kalah saing sama gue ya ternyata."

Wajah Nala berubah masam seketika. "Jaga mulut lo. Gue nggak pernah takut kalah saing sama pecundang kayak lo."

Kedua alis Aidan terangkat. "I see. Takut Wanda hilang ya?"

Lelaki itu menghela napas pendek. "Gue cuman nyuruh lo jauhin dia. Gamau? Kenapa, jatuh cinta sama dia lo?"

Anggukan dari Aidan cukup membuat Nala terdiam. Ada emosi asing yang membakar egonya kembali. Perasaan sakral yang ia sangkal, tetapi enggan beralih dari otak bahkan benaknya.

Aidan tersenyum miring sekali lagi. Ia memajukan tubuhnya dan berujar tegas. "Pilih satu, Abhiseka. Wanda atau Mala. Lo gabisa genggam api sama air barengan. Salah satu bakal lenyap. Atau justru dua-dua nya mati."

Ia lantas beranjak berdiri. "Bills on me. Tenang aja." Saat akan melangkah pergi, Aidan menoleh kembali. "Oh, satu lagi. Pilih satu lagi, Nal. Ego atau hati. Gue duluan." Aidan keluar dari ruangan yang Nala sewa khusus untuk mereka itu.

Nala yang sedari tadi mengepalkan kuat jemari tangannya, menahan amarah. Setelah pintu tertutup, ia melemparkan asbak rokok yang ada didepannya kearah pintu. Hingga abu rokok bertebaran mengotori karpet.

"Bajingan. Aidan selalu bajingan."

Aidan dan Wanda duduk bersama dibawah pohon rindang tempat mereka pertama kali bertemu. Kali ini mereka memilih untuk tidak membahas tugas kelompok yang dateline sebentar lagi itu.

Memilih menghabiskan waktu untuk menikmati sejuk udara danau kampus yang sepi. Meski langit sedikit lebih gelap, tak ada tanda-tanda akan ada yang beranjak diantara mereka.

"Dan." Panggil Wanda pelan. Lelaki itu menoleh kearahnya. Wanda menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Gue sama Nala enggak kayak apa yang–"

mistake [selesai] ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang