Tanganku melingkar pinggang dan lehernya. Sehingga pelukan kami terasa semakin erat.
Membaca lembar ini tangan Gong Jun meluncur ke dalam boxernya membayangkan kembali hari itu. Matanya terpejam membayangkan tangan Zhehan meraih juniornya yang mulai menggemuk, dan membelainya dengan paha melebar.
Dalam imaginasi Gong Jun
Zhehan hanya memandangi junior Gong Jun tanpa melakukan apa-apa disana.
"Laogong, apakah si Xiaojun selalu panjang dan sebesar ini?" tanya Zhehan sembari meniup kepala Xiao Jun dan melirik nakal ke arah wajah Gong Jun. Dan tangannya membelai perlahan menggunakan ujung jarinya di kedua paha Gong Jun.
Tentu saja kelakuan Zhehan membuat menggila.
"Sayang, baby, pangeranku dia milikmu kau boleh memilikinya" jawab Gong Jun dengan suara serak menahan hasrat.
"Begitukah? Hai Xiojun ini aaammmmph" ucapan basa basi Zhehan tenggelam karena Gong Jun telah memasukkan juniornya ke dalam mulutnya.
"Mmmmmph... Mmmmmmm" gumam Zhehan sesekali tangannya bermain di leher XiaoJun dan kedua bola yang berkedut di bawahnya.
Sesekali daerah pereniumnya juga merasakan jilatan dan hisapan.
Erangan Gong Jun dan pahanya yang bergetar membuat Zhehan semakin liar menghisap, menjilat dibawah sana. Hingga terasa mulutnya dipenuhi oleh benih putih cinta Gong Jun.
"Apakah kau menyukainya Jun?"
"Aaah sangat, sangat suka, membuatku gila baby. Sssssh aaash" erang Gong Jun.
Dengan cepat Gong Jun mengangkat tubuh Zhehan ke meja makan, menurunkan boxer Zhehan, menekuk kedua pahanya dan dengan segera Gong Jun meraih dan mengulum junior Zhehan.
Zhehan hanya dapat menengadahkan kepalanya dan meremas rambut sesekali menekan kepala Gong Jun dan mengangkat panggulnya membuat Gong Jun semakin mempercepat kulumannya.
Jemari Gong Jun bermain di mulut Zhehan yang menghisapnya bagaikan permen lolipop.
Sesekali jemari Gong Jun berusaha masuk ke dalam lorong sempit Zhehan.
Namun karena tidak ada pelumas saat itu maka lidah Gong Jun dijadikan pelumas darurat, hingga jemarinya bisa masuk.
"Aaaakh saaaakit" jerit Zhehan
Demi mendengar jeritan Zhehan, Gong Jun segera menghentikan usahanya tersebut.
Hingga akhirnya bokong Zhehan bergetar hebat dan Xiaohan akhirnya memuntahkan isi lehernya karena terlalu kenyang dengan sensasi gila kedalam mulut Gong Jun yang menghisapnya hingga tak tersisa.
"Apakah kau senang sayang?" tanya Gong Jun sembari mengusap bibirnya.
Dan mengusap peluh di dahi Zhehan.
"Maafkan aku. Mungkin aku belum terbiasa" ujar Zhehan sambil memeluk Gong Jun.
"Tidak apa-apa... Karena kita bisa mencobanya di kamar mandi" ujar Gong Jun sambil menggendong Zhehan masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur Zhehan.
"Aaaah... Juuuun" ujar Zhehan dengan wajah memerah dan menyandarkan kepalanya di leher Gong Jun.
"Aaaaakh Zhehaaan aaah aaah baby" erang Gong Jun saat mencapai klimaksnya saat membaca diary Zhehan tadi.
Setelah membersihkan diri, Gong Jun segera membuka kembali lembar demi lembar diary Zhehan.
Dear Diary
Drama kami mendapat respon yang baik dari penonton, maka kesibukan kamipun semakin meningkat. Setiap hari wajah kami akan ada di media, wajah kami berdua juga menghiasi papan iklan di jalan-jalan utama, angkutan umum, kereta.
Karenanya waktu kami berdua untuk bertemu semakin sempit, privasi kami mulai terusik, keamanan kami pun mulai rentan.
Berulang kali Gong Jun meminta kepastian tentang hubungan kami.
Kau ini bodoh atau apa ya.. Harusnya tanpa perlu kau tanyakan kau seharusnya tau hubungan kita.
Mana ada teman yang akan meniduri temannya (walaupun kami belum sampai tahap itu sih). Mana ada seorang sahabat yang menyuapi, mencium sahabatnya seperti kita.
Setiap hari Junjun bagaikan orang bodoh perajuk yang manja.
Bernyanyi sumbang dengan bangganya, mengumbar otot perutnya, dan selalu mengikuti apa yang aku perintahkan.
Akhirnya aku sudah tak tahan lagi dengan sikapnya yang merengek menuntut kepastian dariku.
Pada akhir konser akhirnya aku memberikan jawaban bahwa aku ingin menua bersamanya.
Dan di ruang ganti itu aku memberikan cincin yang semua orang juga tahu bahwa itu adalah cincin yang kupersiapkan untuk pasangan hidupku kelak.
Namun karena cincin itu pasti tidak muat di jemarinya maka aku memesan kembali yang sesuatu dengan lingkaran jarinya.
Dan malam setelah acara resepsi makan bersama dengan seluruh kru kami menginap di hotel dimana kami memesan 1 lantai itu hanya untuk kami berdua.
Junjun yang terkenal hemat selama ini, seolah mematahkan prinsipnya demi memberikanku malam pertama yang tak terlupakan saat itu.
Yaa malam pertama kami. Karena pada malam itulah aku menyerahkan diri dan bokongku seutuhnya padanya.
Malam itu kami berdua berendam dalam bathtub yang besar dan dipenuhi dengan aroma bunga gardenia yang harum lembut namun menyegarkan itu.
Tubuh kami yang semula terasa lelah menjadi lebih rilex dan seolah melunturkan segala kepenatan kami tadi
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Diary
FanfictionZhehan menuliskan segala kenangannya bersama Junjun. Pada saat dia marah atau senang ditumpahkan dalam buku diarynya. Hingga pada saat ada keinginanan untuk berpisah karena pertengkaran dia dapat membaca kenangan manis saat bersama Junjun. Apa sih...
