Dalam bathtub besar kedua pria tinggi itu duduk berendam dengan mesranya.
"Aku khan tadi sudah mandi Jun" ujar Zhehan cemberut sambil menyipratkan air ke Junjun.
"Kau panggil aku apa barusan?" tanya Junjun sambil menyenderkan kepalanya pada bahu Zhehan
"Namamu masih Junjun khan" ujar Zhehan mulai melancarkan aksi protesnya.
"Itu nama dari orang tuaku, namun bila kau memangilku seharusnya apa" ujar Gong Jun sambil memainkan pinggang Zhehan dan menggigit kecil pundak Zhehan sehingga meninggalkan jejak kecil di sana.
"Aaah... Aku lusa ada pemotretan Jun" protes Zhehan lagi. Namun nafasnya kini terdengar tak beraturan.
Tangannya turun hendak menyapa juniornya. Namun tangannya di tepis oleh Gong Jun tidak mengizinkannya bermain dengan juniornya sendiri.
"Kau panggil aku apa?" ujar Gong Jun di telinga Zhehan dan meniup kecil di sana.
Menerima pelayanan Gong Jun padanya membuat junior Zhehan semakin gelisah.
Terlebih saat tangan Junjun bermain di kedua bola bawah leher jenjang juniornya yang membuatnya semakin menggemuk gelisah.
"Ehhhhmm" erang Zhehan, kakinya menekuk dan terbentang di bawah, tangannya mengangkat dan meremas rambut Gong Jun.
Namun Gong Jun malah menghentikan gerakan tangannya dan terus menuntut jawaban.
"Bilang dulu kau harus memanggil apa padaku"
"Baobei, Laogong, Shuai Jun, aaah ayoo lanjutkan" rengek Zhehan semakin tak sabar dibuatnya. Menarik tangan Junjun kembali kepada juniornya.
Junjun tersenyum bahagia mendengar kembali rengekan yang telah lama dia rindukan itu.
"Baby.. Apakah ini enak?" tanya Junjun.
"Sssssh eeehm. Ini enak Bao" erang Zhehan.
Tangan lain Junjun bermain di ujung dada bidang yang menonjol mengeras itu.
Sesekali dia mengulum bibir merah Zhehan.
Sontak saja Zhehan semakin tak terkendali diapun segera bangkit dan memasukkan juniornya ke dalam mulut Junjun, yang dengan segera melahapnya hingga tak terlihat.
"Aaah. aaaah, baby.. Ini enak sekali.. Lidahmu sangat menggelitik" erang Zhehan
Plak!!
Bokong semok Zhehan di tampar dengan lembut oleh Gong Jun.
"Aaah.." teriak Zhehan semakin mempercepat gerakan bokongnya keluar masuk mulut Junjun.
Jari jemari Junjun tak hanya menampar namun juga menyelusup ke dalam lorong sempit idamannya itu.
"Aaaah baby.. Sakit.. Terus.. Aaaauw aaah jemarimu sungguh panjang seperti juniormu" erangan Zhehan semakin nakal membuat Gong Jun semakin menggila mendengarnya.
Gong Jun pun segera melepaskan mulutnya dari Junior Zhehan dan bangkit berdiri lalu duduk di tepi bathtub mereka.
Gong Jun menepuk pahanya memberi isyarat pada Zhehan untuk duduk di atasnya.
Tanpa disuruh dua kali Zhehan segera duduk di atas pangkuan Gong Jun dan mendorong Bokongnya menyuapi Junjun Junior.
"Aaaah.. Sempit baby.. Pelan-pelan Eeehm" erang Gong Jun .
"Diam... Tentu saja sempit, juniormu seharusnya diet agar aaaah tak segemuk itu... Ssasssh aaaaakh" Zhehan mengerang keras setelah terasa seluruh leher Junior Junjun menyelusup masuk ke dalam bokongnya dengan mulus.
Keduanya mengerang nikmat saling meremas, saling menggigit dan meninggalkan jejak merah keunguan di tubuh mereka yang dapat mereka raih dengan bibir mereka.
"Baby jangan tinggalkan aku" erang dan isak Gong Jun tedengar.
"Aku tak akan meninggalkanmu bila kau tidak menjauh dan mengabaikan diriku" jawab Zhehan sambil meremas rambut Junjun.
"Maafkan aku Han, bila aku melakukannya tampar saja diriku" ujar Junjun.
Plak!!
Zhehan benar-benar menampar pipi Junjun.
"Aduuh!! Aaaah eeeehm mengaaapah kau tampar aaaaku" ujar Junjun ditengah erangan
"Eeehn latihan kalau nanti lupa aaah bao, aku mau sampai..." erang Zhehan sambil menjambak rambut Junjun
Apakah kau sedang membalas dendam padaku Han? batin Junjun sembari mempercepat gerakan juniornya.
"Tunggu aku ... Yaaa bersama" jawab Junjun akhirnya.
Setelah membersihkan diri merekapun keluar dari kamar untuk makan.
"Yuyu mana bi?" tanya Zhehan
"Belum datang" jawab bibi sambil memberikan minuman pada mereka berdua.
"Yuyu!! Kau ada dimana? Memangnya kau beli bubur di Gajah Mada ya lama bener banget!!" Omel Zhehan di telepon
"Ya ampun bos, ini baru sampai. Lagi pula kau juga kebangetan nyuruh beli bubur yang lokasinya hampir 1 jam dari rumah. Kenapa tidak sekalian suruh beli ke Bogor saja sekalian biar lebih lama lagi" bantah Xiao Yu.
"Bawel!! Sudah cepetan!!" jawab Zhehan.
"Bi, air apaan ini koq aneh?" tanya Gong Jun sambil mengeryitkan dahinya.
"Ooh itu ramuan spesial dari kampung halamanku, bagus untuk pinggang" jelas bibi dengan wajah datar mengawasi Gong Jun meminum sampai habis.
Kalau aku bilang itu air ramuan penetral sihir dari nyonya tua Gong kau tak mungkin mau meminumnya, batin bibi.
"Sudah minum saja sampai habis kenapa sih? Toh itu untuk kebaikanmu juga" omel Zhehan.
"Coba aku minum milikmu kau khan juga butuh rambuan untuk pinggangmu" ujar Gong Jun sambil mengambil gelas Zhehan dan meminumnya.
"Weeeeeks ini rasanya lebih aneh!" gerutu Gong Jun
"Naaah berarti pinggang siapa yang paling harus lebih kuat" ujar Zhehan sambil tertawa melihat wajah Gong Jun yang mengerenyit itu.
Bibi hanya berpura-pura buta dan tuli saja melihat tingkah kedua tuannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Diary
Fiksi PenggemarZhehan menuliskan segala kenangannya bersama Junjun. Pada saat dia marah atau senang ditumpahkan dalam buku diarynya. Hingga pada saat ada keinginanan untuk berpisah karena pertengkaran dia dapat membaca kenangan manis saat bersama Junjun. Apa sih...
