"GONG JUN KAU DIMANA?!!" suara Zhehan menggema namun tak ada jawaban dari Gong Jun
Zhehan terus berjalan memasuki ke dalam kastil.
Tampak lorong panjang dengan beberapa ruangan di kanan kirinya.
Zhehan berjalan menuju ke sebuah pintu dan membukanya.
Tampak sebuah adegan dimana ada seorang anak remaja berusia belasan tahun yang sedang berbicara dengan seorang pria dewasa berusia tiga puluhan di sana.
"Papa?" gumam Zhehan demi melihat orang itu adalah sosok papanya yang telah tiada.
Dan anak itu adalah dirinya saat dia masih duduk di bangku sekolah dahulu.
Namun kedua sosok itu tampak tidak memperhatikan dirinya mereka terus berbicara.
Zhehan hanya bisa mendengarkan mereka berbicara
"Pa, kenapa kau tidak datang saat ulang tahunku. Papa sudah berjanji saat itu khan" tanya Zhehan remaja
"Maafkan papa nak, saat itu papa terluka dalam tugas, jadi papa tidak bisa datang"
Dalam sebuah bayangan nampak tubuh papa Zhehan yang berlumuran darah di sebuah jalan yang sepi tertatih tatih menuju ke jalan besar untuk meminta pertolongan, namun tidak ada siapa-siapa di sana yang bisa menolongnya.
Papa Zhehan terus berjalan dan beberapa kali harus berhenti untuk meluruskan tubuhnya agar lebih nyaman.
Akhirnya Papa Zhehan bisa sampai di sebuah rumah dan mengetuk pintu rumah itu. Ternyata rumah itu adalah rumah seorang tabib tradisional.
Dibantu oleh tabib dan asistennya, Papa Zhehan bisa tertolong dan diobati.
"Apakah kau anggota xxx?" tanya tabib itu.
Papa Zhehan langsung bersiaga demi mendengar ucapan tabib itu, papa mengambil sebuah bilah belati yng disembunyikan di dalam sepatunya.
"Jangan khawatir aku bukan bagian dari siapapun. Aku hanya melihat tanda di cincinmu" ujarnya sambil menunjuk ke arah jari manis papa.
Cincin itu seperti cincin kawin pada umumnya. Namun ada tiga garis di sisi kirinya. Itu adalah tanda pasukan khusus di departemen tempat papa Zhehan bekerja.
Namun hanya orang yang terlibat di dalamnya nya yang mengetahuinya. Bagaimana seorang tabib, bisa mengetahui hal ini.
Lalu tabib itu mengeluarkan cincin yang sama dan menunjukkan pada papa Wang.
Ya nama asli Papa Zhehan adalah Wang Yi Han. Namun demi keselamatan keluarganya, outerabsatu-satunya yakni Zhehan menggunakan nama marga mamanya.
"jadi kita satu keluarga" ujar Papa Zhehan
"Aku tidak akan menanyakan tentang misimu. Namun apakah keluargamu harus tahu tentang ini?" tanya tabib itu.
"Tidak perlu. aku tak ingin mereka khawatir mengenaiku. Terutama putera tunggalku" ujar Papa Zhehan
"Hari ini dia ulang tahun aku berjanji akan membawanya nonton pertandingan basket di kota, namun..." kata-kata papa Zhehan terputus dan memandang ke dirinya dengan tertawa getir.
"Apakah ada hadiah yang ingin kau berikan padanya? Aku bisa membantumu" ujar tabib itu.
"Tidak..terima kasih, aku akan sampaikan sendiri nanti" ujar papa Zhehan.
"Apakah kau takut aku akan mencelakai anakmu?" tanya tabib lagi.
"Bukan begitu, namun akan terasa beda bila aku yang memberikan sendiri" jawab papa Zhehan.
Melihat itu air mata Zhehan mengalir deras mengingat dimana dia marah pada papanya dan membuang bola basket buatan lokal hadiah papanya saat itu
"Untuk apa papa memberikan ini. ini palsu aku ingin yang asli!!" teriak Zhehan saat itu. Kemudian membuang bola basket itu ke halaman.
Dia tidak melihat air mata papa Zhehan yang menitik dan dengan jalannya yang tertatih akibat lukanya yang belum pulih mengambil bola itu dan memasukkan ke dalam rumah.
Mama Zhehan hanya dapat mengelus punggung suaminya dan berkata "maafkan dia, dia masih terlalu kecil untuk mengerti dan mengetahui kondisi kita"
Lagi-lagi saat itu Zhehan semakin membenci papanya karena dikira mengadu perbuatannya pada Mama hingga malam itu dia dihukum menulis Essay tentang laki-laki bertanggung jawab"
"Bagaimana aku bisa menulis tentang itu bila papa sendiri tidak memberikan contoh yang baik padaku!!" omel Zhehan saat itu.
Betapa kasar dan jahatnya diriku saat itu. Aku bersalah pada papa. Ternyata papa melukai harga dirinya demi melindungi diriku dan mama.
Papa bersedia dicemooh menjadi lelaki tak bertanggung jawab karena meninggalkan mama dan dituduh karena wanita lain.
Namun sebenarnya papa tidak ingin kami dilibatkan dalam urusan pekerjaannya. Itulah alasannya kenapa mama memilih untuk hidup sendiri.
Aku begitu egois tidak mengira penderitaan kedua orang tuaku.
Zhehan menangis tersedu-sedu. Mengingat kembali tingkahnya dahulu.
Aku mengira aku memang bukanlah anak yang mereka inginkan, aku berfikir bahwa aku adalah korban ketidak pedulian seorang ayah.
"Pa..." panggil Zhehan pada sosok laki-laki si hadapannya itu.
Laki-laki itu menoleh kepada Zhehan dan tersenyum.
"Kau datang nak" ujarnya.
"Aku rindu papa" ujar Zhehan sambil berlari memeluk tubuh ayahnya itu.
"Kau sungguh tumbuh menjadi pria dewasa dan sukses. Kini aku sudah bisa tenang" ujar Papanya dengan mengelus punggung Zhehan.
"Apakah papa membenciku?" tanya Zhehan.
"Bagaimana bisa orang tua membenci darah dagingnya sendiri"
"Memarahimu adalah karena sayangku tak ingin kau terluka, membentakmu adalah karena aku begitu mencintaimu hingga tak ingin kau bersedih"
"Melihat tawamu adalah kebahagianmu, menyaksikan tangisan dan penderitaanmu ada penyesalan diriku"
"Jagalah mamamu, jagalah keluargamu, jagalah dirimu jagalah dan hormatilah orang-orang yang telah mendukungmu dengan hati. Perlakukan mereka seperti yang kau ingin diperlakukan oleh orang lain"
"Pa.. Apakah kau merestuiku dengan Junjun?" tanya Zhehan.
"Haruskah kau tanyakan hal itu? Bukankah kau bahagia hidup bersamanya?'
"Bila mamamu merestui maka itu mewakili suaraku" jawab Papa Zhehan dengan mengelus lembut rambut dan mencium kepala Zhehan.
"Terima kasih pa" ujar Zhehan
"Apakah papa bahagia di sana?" tanya Zhehan
"Sekarang aku sudah bisa beristirahat dengan tenang di sini, kau begitu diberkati. Berbahagialah" ujar Papa Zhehan.
"Jadilah dirimu sendiri Han. Kau pasti kuat dan bisa" ujar Zhehan muda.
Mereka berdua lambat laun kini menghilang dalam kabut.
Pintu tertutup dan Zhehan telah berada di lorong tadi.
Lalu dengan mengusap air mata dia terus berjalan sambil berteriak.
"Bao... JUNJUN kau dimana?" teriak Zhehan
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Diary
FanfictionZhehan menuliskan segala kenangannya bersama Junjun. Pada saat dia marah atau senang ditumpahkan dalam buku diarynya. Hingga pada saat ada keinginanan untuk berpisah karena pertengkaran dia dapat membaca kenangan manis saat bersama Junjun. Apa sih...
