Regan berjalan menyusuri lorong salah satu apartemen mewah yang berada di pusat kota. Setelah pulang kuliah, Regan di minta untuk menemui Zidan.
"Lo belum bisa bawa asinya?" tanya Zidan di depan pintu.
Regan mendengus, dirinya baru sampai dan langsung ditodong seperti itu, "Belum."
"Ck! Istri lo bener-bener gak punya hati apa gimana?!" sarkas Zidan membuat Regan tidak suka.
"Lo ngapain nyuruh gue ke sini?!" tanya Regan ketus tak menanggapi ucapan Zidan tadi.
Zidan hanya memutar bola mata malas, Regan ini lebih dingin daripada manusia pada umumnya, "Bawa Erio."
"Gue gak bisa," balas Regan cepat bahkan tanpa berpikir.
"Buat sementara, sampai gue nemuin Erin. Gue gak bisa ninggalin Erio gitu aja sama Reyhan yang masih kaya gitu." Zidan memang nampak lelah mengurusi semua ini.
Hening tak ada balasan apapun dari Regan. Zidan masuk ke dalam lalu keluar membawa suatu berkas kesehatan milik Reyhan, "Kondisinya lagi gak stabil. Ini semua terjadi setelah pertemuan sama lo di sekolah waktu itu."
"Harus banget lo nyari perempuan itu?"
Zidan mengangguk, "Erin itu pawangnya Reyhan. Dia bakal cepet pulih."
"Lo bilang, dia benci cewek itu."
"Reyhan cuma belum tau aja kebenarannya. Sebenci apapun, tuh anak bakal tetep nemplok sama Erin."
"Gue tetep gak bisa bawa Erio," terang Regan final. "Dia juga punya pengasuh," lanjutnya.
Zidan berdecak kesal. Lelaki itu menyandarkan kepalanya ke sofa, "Bokap gue pasti bakal nyariin Erio, bisa aja sampai nyelakain keponakan gue itu. Bahaya kalau Erio cuma sama sustetnya."
Regan menaikkan satu alisnya, "Ngapain bokap lo nyariin Erio?"
"Ya pasti Erio disalahin atas sakitnya Reyhan. Bokap gue 'kan gak tau kalau masalahnya gara-gara lo," balas Zidan tidak santai.
"Kenapa lo nyalahin gue?!" ketus Regan.
Zidan memutar bola mata malas, "Sama aja lo berdua, sensitif. Kaya pantat bayi. Capek gue ngomong sama lo!" balasnya tidak kalah ketus.
Regan berdiri, "Gue harus pergi. Ada kerjaan." Tanpa menunggu balasan Zidan, lelaki itu langsung keluar.
Memang benar, Regan ada kerjaan. Lelaki itu ada janji untuk bertemu dengan Alan mengurusi pekerjaannya. Selain itu, Regan juga tak mau terus dipaksa membawa Erio.
Sampai di tempat kerjanya, Regan langsung memasuki ruangan Alan. Di situ ternyata juga ada Ardi yang langsung menatap Regan horor, "Heh bisa-bisanya ya lo, kemarin ke club gak ngajak-ngajak!" ketus Ardi.
Regan menatap datar lalu duduk di sofa. Duduk bersandar di kepala sofa, menutup matanya dengan lengan.
"Anjir! Malah merem nih anak setan!"
"Kemarin Caca bingung nyariin lo. Kalau mau kobam ajak-ajak dong, Njing!" timpal Alan yang ikut duduk di sofa.
"Bacot!"
Ardi menoyor badan Regan kencang, "Bener-bener anak Anj–" Tak jadi melanjutkan ucapannya, Ardi cengengesan berdiri menjauhi Regan. Pasalnya, lelaki itu siap melayangkan tinjunya ke wajah Ardi.
"Hehe, damai, damai. Bercanda elah, Sat," ucap Ardi meringis.
Regan malas menggubris, ia mrmilih mengambil berkas yang ada di meja Alan, "Revisinya kaya apa?"
"Udah ditulis tuh di kertas belakang. Katanya mau tambahin space buat semacam gazebo di luar kafe. Lo di suruh nata yang pas. Mereka minta 4 gazebo aja." Regan mengangguk lalu berdiri, "Gue cabut."
KAMU SEDANG MEMBACA
CARAMELLA [Sudah Terbit]
RomanceSequel Regantara. After they have Elysian and Averly. Baca dulu cerita Regantara biar paham tokohnya! Menjadi orang tua ternyata tidak semudah bayangan, banyak hal yang dilalui Caca sebagai seorang ibu muda. Tangis, bahagia, sedih, dan senang. Begit...
![CARAMELLA [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/288440223-64-k226551.jpg)