His Faulth

25.1K 2.2K 1.2K
                                        


Bagaimana Caca tidak kesal kalau kelakuan Regan begitu. Lelaki itu jelas melanggar dari apa yang pernah mereka sepakati. Walaupun Regan sudah menjelaskan. Caca tidak bisa serta merta menerima permintaan maaf lelaki itu. Biarpun yang ia lakukan itu demi anaknya.

Masih ada pekerjaan lain kan? Mereka masih punya tabungan, tidak perlu uang sampai sebanyak itu juga.

"Apa sih?! Jauh-jauh sana!" ketus Caca lagi dan lagi.

"Sayang, jangan marah dong."

Apa katanya? Jangan marah dong. Memang tidak tahu diri, Regan ini. Coba saja Caca yang melanggar aturan. Kemarin saja Caca sampai di lempar ponsel.

Caca masih duduk di sofa. Sedangkan Regan duduk di samping istrinya itu. Kepalanya menunduk memeluk perut Caca.

"Kamu tuh ah!" Caca tak bisa melanjutkan kata-katanya. Pegal juga tangannya sejak tadi memukuli Regan, bukannya bikin badan Regan sakit malah tangannya yang nyeri.

"Maaf."

Sekarang sudah jam tiga pagi. Mereka belum tidur. Mana bisa tidur kalau keadaannya seperti ini. "Sayang, Maaf," ucap Regan lagi.

"Maaf, Yang."

"Ngomong sana sama perut!"

"Iya nanti ngomong lagi sama perut, kalau udah ada isinya," balas Regan pelan.

Caca melotot, menjewer telinga suaminya itu, "Ngeselin banget jadi orang!"

"Aduh, aduh, sakit, Yang."

"Ikut balap liar di jalan raya, hampir ketangkep polisi lagi. Nyari mati apa gimana sih?!" kesal Caca. "Gak bisa apa kalau mau ngelakuin sesuatu ngomong dulu sama aku, izin gitu?! Kalau kaya gini kamu tu sama aja gak nganggep aku!"

"Bukan gak nganggep, Yang. Pasti nanti gak kamu bolehin, makanya aku gak bilang. Lagian yang penting menang, gak ketangkep juga," balas Regan pelan. Lelaki itu sudah seperti anak yang di marahi ibunya.

"Jawab terus bisanya!"

"Niat banget mau bohongin aku! Pakek segala beli parfum biar aku gak tau kalau habis balapan. Orang kalau mau bohong tuh pinteran dikit kenapa sih?!" kesal Caca lagi-lagi.

Regan diam, lelaki semakin menenggelamkan wajahnya ke perut Caca. Sedangkan Caca masih terus mengomel, "Ngapain juga itu benda di sisain satu, terus dikantongin?! Aku 'kan jadi mikir kamu habis aneh-aneh!"

Jadi, Regan ikut balap liar. Waktu itu ada salah satu temannya yang menawari, dan kemarin Regan langsung terfikirkan untuk menghubungi temannya itu. Hadiahnya uang sepuluh juta dan satu box alat kontrasepsi.

Regan juga tak paham kenapa ada hadiah seperti itu. Yang jelas, setelah menerima hadiah itu, Regan mengambil satu untuk di kantongi dan sisanya diberikan kepada temannya.

Sejak awal, Regan memang tidak ingin bilang pada Caca kalau ia ikut balap liar. Makanya saat pulang lelaki itu mampir ke indoapril untuk membeli parfum. Niatnya agar bau asap rokok dan kendaraan tersamarkan. Tapi malah menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.

Sebenarnya Regan itu pintar atau tidak sih? Emang orang pinter kalau lagi bodoh seperti itu tingkahnya? Tapi memang disetiap orang pasti ada aja cacatnya. Seperti Regan ini contohnya.

"Kalau ada orang nanya tuh dijawab!"

"Kan, salah lagi aku," gumam Regan. Tadi pas jawab dibilang jawab terus bisanya. Sekarang, milih diem di marahin juga. Jadi Regan harus gimana?

"Ya kamu emang salah!"

Caca menarik kepala Regan agar ia bisa menatap wajah suaminya itu, "Jawab, Regan!" tekan Caca.

CARAMELLA [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang