Pillowtalk

21.6K 2.2K 654
                                        


Regan hanya fokus pada ponselnya. Lelaki itu sedang ada pembekalan untuk mengikuti seleksi ukm Mapala. Dua minggu lagi, mereka akan seleksi untuk menjadi anggota baru.

Para senior mulai menjelaskan apa saja yang harus dipersiapkan. Selain itu juga menjelaskan acara yang nantinya akan dilakukan di lokasi. Mereka akan melakukan seleksi saat sudah libur semester. Rencananya, seleksi akan dilakukan pada hari senin dan selasa, kemudian dilanjut pengumuman hari kamis, dan dihari jumat sampai minggu mereka akan melakukan Diksar.

"Tidak ada yang boleh bawa make up, skincare, dan bodycare. Untuk perlengkapan pribadi, kalian hanya boleh membawa alat ibadah, obat-obatan, dan alat mandi. Selain itu, barang-barang kalian sudah diatur oleh panitia."

"Psssst, huy, Regan, kiw."

"Heh, itu siapa yang berisik?! Kalau ada yang ngomong di depan itu jangan malah berisik sendiri!" Bukan Regan yang merespon, malah salah satu senior yang dekat dengan gadis itu.

"Kavira, maju kedepan! Ngapain kamu berisik panggil-panggil Regan?! Yang namanya Regan, sekalian maju kedepan!"

Sialan! Padahal Regan sudah diam saja tapi gara-gara gadis tidak jelas seperti Kavira, lelaki itu jadi terlibat. Kavira ikut masuk ukm ini karena Regan. Bukan hanya Kavira, tapi banyak sekali mahasiswi yang ikut masuk ukm ini karena adanya Regan yang juga mendaftar ukm ini.

Dengan malas, Regan maju ke depan. Menatap tajam ke arah Kavira yang malah cengengesan. Menyebalkan memang.

Gara-gara Kavira, Regan tidak bisa lagi melihat wajah istri cantiknya. Sejak pembekalan dimulai, Regan memang melakukan videocall bersama Caca dan bayi bayinya. Dari pagi Regan memang sudah berangkat untuk bekerja, jadi lelaki itu ingin melihat istri dan kedua bayinya walau dengan videocall.

"Kenapa kamu panggil-panggil Regan?!"

Kavira menatap Regan meminta bantuan. Tapi lelaki itu bahkan tak mau menatap Kavira. "Jawab! Jangan malah ngeliatin Regan," sentak senior itu lagi.

"Mmm, aku mau nanya yang gak ngerti, Kak."

"Kalau gak ngerti tanya senior! Bukan malah ganggu temen yang lain! Paham?!"

"Ehm i-iya, Kak, paham."

Regan tak mengerti, kenapa ia harus ikut maju kedepan. Padahal dia tidak ditanya. Regan malah menjadi pusat perhatian seluruh isi ruangan.

Biasanya, yang ikut ukm mapala di dominasi oleh kaum lelaki. Tapi sekarang, diangkatan baru, malah lebih banyak kaum perempuan. Dan itu karena ada Regan, Zeo, Ardi, dan Alan yang masuk ukm ini. Keempat lelaki tampan yang sudah menjadi idaman para mahasiwi sejak menginjakkan kaki mereka di kampus ini.

"Makanya gak usah ganteng-ganteng!" cibir salah satu senior perempuan yang berdiri di dekat Regan.

"Mata lo aja yang pada jelalatan!" sinis Regan lalu duduk ke kursinya kembali. Padahal belum ada yang menyuruhnya duduk.

"Ngapain kamu duduk?!"

"Ngapain saya berdiri di depan?!"

Setelah perdebatan kecil dan juga pemberian hukuman kepada Kavira. Acara pembekalan dilanjutkan sampai dengan jam sembilan malam. Setelah itu, mereka diperbolehkan untuk pulang.

Regan buru-buru untuk keluar bersama Alan juga. Ardi dan Zeo kebetulan masih stay di ruang mapala ini, masih ingin berkumpul dengan yang lain.

"Lo berdua, ikut kumpul dulu lah. Ngapain buru-buru balek kek anak perawan aja lo!" celetuk salah satu anak mapala.

Ardi yang paham dengan temannya itu langsung menjawab, "Dia berdua beda. Pawangnya galak, mana gak cuma satu lagi pawangnya."

"Anjir, lo berdua ceweknya banyak, man?"

CARAMELLA [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang