Hari ini, Regan nampak berbeda. Lelaki itu pergi dari pagi sampai larut malam. Caca memang belum kembali masuk sekolah karena ia memutuskan untuk ikut ujian susulan di minggu depan.
Caca sudah sehat, ia tidak merasa pusing lagi. Bahkan sudah tidak mual. Sebelum pergi, Regan tadi sudah membeli testpack. Tapi sampai sekarang, Caca belum berani mencobanya.
Bicara tentang masalah sekolahnya. Ciko sudah membuat klarifikasi kemarin saat selesai diskusi. Lelaki itu juga mendapat hukuman dari pihak sekolah hari ini.
Zidan— kakak dari Reyhan, sudah bertindak keras dengan membeli sekolah itu. Lelaki itu memecat kepala sekolah beserta beberapa guru yang terlibat aksi persekongkolan yang merugikan Reyhan.
Ciko mendapat hukuman tidak bisa mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi dibeberapa universitas ternama yang lelaki itu incar. Lelaki itu seperti diberikan raport merah sehingga nantinya akan susah mencari universitas.
Semua informasi itu didapat dari Varena dan Syeina. Caca, baru saja selesai mengobrol dengan dua kaleng rombeng itu. Sebenarnya dua temannya itu tidak ikut memojokkan dirinya kemarin, bahkan Varena sempat menelfonnya berkali-kali untuk memastikan keadaan Caca.
Berdecak kesal, ini sudah hampir tengah malan. Tetapi, suaminya itu belum menampakkan batang hidungnya, "Kemana sih?! Ditelfon gak diangkat. Gak tau apa dari tadi ditungguin."
Mau tidur tetapi tidak bisa, Caca ingin mengomel dulu kepada Regan. Sampai akhirnya hampir jam 1 pagi, Regan pulang. Lelaki itu sedikit kaget saat melihat Caca masih terjaga.
"Dari mana?" tanya Caca pelan.
"Ada urusan," balas lelaki itu singkat.
Caca merubah posisi menjadi duduk bersandar di kepala ranjang, "Urusan apa? Aku tadi telfon om Juna katanya kamu udah balik dari jam 7 tadi. Aku juga tanya Ardi sama Alan katanya gak ada ketemu sama kamu."
Regan tak menjawab, lelaki itu malah masuk ke kamar mandi. Caca hanya menghela napas kesal, perasaan dia tak membuat kesalahan apa-apa. Tetapi kenapa Regan seolah malas kepadanya.
"Udah dites?" tanya Regan. Caca menggeleng membuat Regan langsung berdecak kesal dan keluar kamar dengan sedikit menutup pintu dengan kasar.
Caca ikut menyusul keluar, "Aku ada salah ya sama kamu?" tanya Caca pelan.
"Kenapa gak dites dari tadi?" Regan berucap dengan datar membuat Caca langsung menatapnya, "Kan aku tadi udah bilang, maunya sama kamu ngetesnya," cicit gadis itu.
"Ck. Kenapa harus ada aku sih, Ca," ucap Regan tak habis pikir.
Sebentar, apa tadi? Regan memanggil dengan nama. Apa lelaki itu marah hanya karena Caca belum mengetes ia hamil atau tidak.
Caca menunduk, "Aku takut," cicitnya. Memang Regan tadi mewanti-wanti agar Caca segera mengetesnya.
Lagi dan lagi, Regan menunjukkan kekesalannya dengan menaruh gelasnya sehabis minum dengan keras. Caca jadi tak habis pikir, "Kok kesannya kamu nyalahin aku ya?"
"Makanya kamu kalau disuruh minum pilnya yang bener. Biar gak kejadian kaya gini," ketus Regan.
"Aku belum tentu hamil. Lagian kalau sampai beneran hamil itu juga gara-gara kamu yang selalu ngeluarin di dalem! Emang dikira aku bisa hamil sendiri tanpa ada andilnya kamu!" balas Caca kesal. Ia lalu mendekati Regan yang berdiri di dekat kulkas.
Caca mencium aroma sesuatu, "Kamu mabuk?!" tanyanya dengan mata memicing.
Regan diam tak menanggapi, lelaki itu hanya memandang Caca seperti ada sorot mata sedikit takut. "Tadi kamu milih mabuk daripada pulang? Sumpah ya, aku suka gak habis pikir sama kelakuan kamu!" kesal Caca.
KAMU SEDANG MEMBACA
CARAMELLA [Sudah Terbit]
RomansaSequel Regantara. After they have Elysian and Averly. Baca dulu cerita Regantara biar paham tokohnya! Menjadi orang tua ternyata tidak semudah bayangan, banyak hal yang dilalui Caca sebagai seorang ibu muda. Tangis, bahagia, sedih, dan senang. Begit...
![CARAMELLA [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/288440223-64-k226551.jpg)