Berlanjut

22.6K 2.2K 1.3K
                                        


Caca dibuat sangat kesal karena tingkah satu manusia mungil yang berada di belakangnya. Bagaimana tidak? Sekarang masih jam setengah dua pagi, tapi sudah dibuat bangun lagi. Padahal Caca baru tidur setengah jam yang lalu.

Averly dan Elysian mengajaknya begadang sampai jam satu. Dan sekarang, Elysian sudah kembali bangun dan menjambaknya kencang.

"Abang! Kenapa jambak sih?!" Kaget dan pusing yang dirasakan sekarang, "Mama salah apa sama, Abang?!"

Regan terbangun karena suara Caca. Sebenarnya tidak berteriak, hanya suara pelan tapi penuh akan kekesalan. Sampai-sampai Caca sudah berkaca-kaca.

Elysian akhirnya menangis, mendekati mamanya. Memeluk Caca dari belakang dan sedikit menarik badan Caca agar terlentang, "Udah sana sama Papa aja!"

"Sayang, Abang maunya sama kamu," ucap Regan. Lelaki itu sudah mencoba mengajak Elysian tetapi bayi itu tidak mau.

Caca langsung bangun, dengan sesegukan ia mengangkat Elysian untuk disusui. Regan ikut duduk di sebelah Caca, menyandarkan kepala Caca pada bahunya, "Tidur aja, Yang," ucapnya.

"Gara-gara kamu tuh! Kalau pergi inget anak makanya!" Caca kembali menegakkan tubuhnya, memilih bersandar pada kepala ranjang, "Pulang setengah satu pagi, nanggung banget. Gak sekalian nanti pas matahari udah nongol, biar sekalian anaknya gak tidur!" lanjut Caca dengan suara serak.

Regan menghela napasnya, "Maaf."

Caca hanya melirik sebentar, lalu fokus pada Elysian kembali, "Bobok dong, Bang."

Elysian malah menunjuk ke arah papanya, "Iya, ini sama Papa," balas Caca.

Caca lalu berbaring kembali dengan posisinya mengahadap kanan menyusui Elysian, Averly tidur pulas di samping abangnya, dan Regan tidur di belakang Caca. Cukup sempit, karena space untuk bayinya harus lebih longgar. Kesempatan ini digunakan Regan agar bisa memeluk istrinya.

"Mmmmp."

"Abang, kenapa tadi jambak Mama?"

Regan menyandarkan kepalanya di lengan Caca, "Abang gak suka dipunggungi, Mama," balas lelaki itu.

Memang benar, Elysian pasti akan marah-marah kalau dipunggungi mamanya sewaktu tidur. Memang biasanya Caca akan meletakkan bayinya di samping kanan. Namun, karena tadi Caca kesal dengan Regan, ia menggunakan Elysian untuk pembatasnya.

"Ck! Sana, berat, gak sadar diri banget!"

"Enggmmm!" Elysian melambai memanggil papanya. "Tuh, Abang maunya Papa meluk Mama begini," balas Regan.

"Dih."

Tidak butuh waktu lama, Elysian sudah terelap dalam tidurnya. Caca pelan-pelan menggeser tubuhnya lalu menyelimuti bayinya itu, "Sweet dream, Abang," ucapnya sembari mencium pipi Elysian.

"Gak usah cium-cium!" Regan yang awalnya akan mencium istrinya itu langsung terdiam. "Kan udah minta maaf," ucap Regan pelan.

"Diem atau gak usah peluk-peluk?!" ketus Caca.

Regan langsung diam, menenggelamkan wajahnya pada tengkuk Caca. Masih untung ia tidak disuruh tidur di luar dan masih boleh memeluk istrinya itu. Hari kemarin memang sangat melelahkan, ia butuh istirahat.

Keinginan pulang lalu di peluk istrinya sampai tidur lelap tidak dapat terlaksana untuk sekarang. Regan malah mendapat kemarahan dari istrinya itu. Siapa yang tidak marah kalau suaminya pulang lewat dari tengah malam karena nongkrong?

Karena sudah cukup lelah dan sangat mengantuk, Regan akhirnya tertidur. Caca sedikit menggerakkan tubuhnya. Sejak tadi, ia hanya pura-pura tidur saja.

Menghela napas pelan, Caca sebenarnya tidak tega kalau melihat wajah lelah suaminya itu. Tetapi, suaminya itu sudah keterlaluan menurutnya.

CARAMELLA [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang