"Beneran mau masuk kuliah, Yang?" Itu pertanyaan Caca kepada Regan untuk kesekian kalinya. Memang karena kemarin kehujanan, Regan dan dua bayinya sakit.
Caca tadi izin tidak masuk sekolah karena tidak tega meninggalkan Regan dan bayinya. Padahal suaminya itu sudah memaksa Caca untuk berangkat sekolah saja.
"Hari ini aku ada presentasi. Dosen matkuk ini juga ngeselin orangnya."
Caca cemberut, "Kamu 'kan lagi sakit, masa gak ada toleransi sih," gerutunya.
Regan terkekeh melihat ekspresi Caca. Walau masih sedikit pusing, tapi dirinya tidak selemah itu. Bahkan dulu, Regan pernah sakit lebih parah dari ini tetapi masih pergi kerja.
"Udah gakpapa kok, Mama. Jangan khawatir ya," ucap lelaki itu sembari mengelus kepala Caca.
Caca mengangguk, "Tapi langsung pulang. Jangan kerja!" tegasnya.
"Tap–"
"Gak ada tapi tapian! Kalo kamu kerja, aku bakar nanti rukonya siAlan!" ucap Caca galak.
"Galak banget, Mama," balas Regan dengan terkekeh geli.
"Biarin. Kamu kalau gak digalakin suka ngeyel!" Caca lalu berdiri, "Aku siapin air panasnya dulu buat kamu mandi."
"Gak, gak! Emang aku bayi apa!" balas Regan sebal. Lelaki itu lalu cepat-cepat masuk ke kamar mandi.
Regan sudah siap untuk berangkat ke kampus. Ia sedang memakai sepatunya di teras. Caca keluar membawa jaket milik Regan. Lelaki itu bingung, ia sudah memakai kemeja yang dilapisi sweater yang tebal. Masa iya harus pakai jaket lagi?
"Harus pakai jaket lagi? Ini 'kan udah tebel, Yang," ucap Regan memelas.
Caca mengangguk mantab, "Kamu 'kan naik motor, nanti kena angin jadi dingin. Orang badan kamu masih panas gini," ucapnya sembari menyentuh dahi Regan.
"Udah gak panas, Yang."
"Ck. Kalau gak mau pakai jaket, naik taksi aja kalau gitu," balas Caca tegas.
Regan berusaha mengambil kunci motor yang dibawa Caca tetapi tidak bisa karena Caca langsung menyembunyikannya, "Yaang," rengek lelaki itu.
"Yaudah sana naik taksi."
Akhirnya lelaki itu menurut untuk memakai jaket. Daripada naik taksi nanti ongkosnya lebih mahal, lebih baik menurut saja.
"Nah, kalau gitu 'kan ganteng," ucap Caca tersenyum lebar. Ia lalu menangkup pipi Regan, mengecup bibir lelaki itu sekilas. Posisi Regan yang masih duduk membuat hal itu mudah dilakukan.
"Cepet amat," goda Regan dengan terkekeh.
"Udah sana berangkat. Awas ya, pokoknya langsung pulang, gak boleh kelayapan dulu!" ucap Caca tak mau dibantah.
"Siap, Mama," balas Regan mengecup kening Caca.
"Hati-hati, jangan ngebut!"
Setelah Regan benar-benar berangkat, Caca masuk untuk memulai kegiatannya. Seharian tadi, Caca hanya bisa bergelung di atas kasur karena tiga bayinya yang tidak mau ditinggal olehnya.
Sekarang Caca mulai dengan beres-beres dan mencuci baju, mumpung dua bayinya sedang tidur dan satu bayinya pergi kuliah. Ia harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Caca mulai merogoh satu persatu kantung pakaian. Itu kebiasaan Caca sejak dulu, siapa tau di situ masih ada barang berharga. "Ini punya siapa?" tanya Caca sendiri, ia menemukan gelang emas di saku jaket Regan.
"Apa jangan-jangan, Regan beliin ini buat gue?" monolognya lagi. Lama mengamati, Caca langsung menggeleng, "Tapi gak mungkin deh, ini gelang mahal."
Tidak mau banyak berpikir negatif, Caca meletakkan gelang itu di atas meja samping mesin cuci.
KAMU SEDANG MEMBACA
CARAMELLA [Sudah Terbit]
RomanceSequel Regantara. After they have Elysian and Averly. Baca dulu cerita Regantara biar paham tokohnya! Menjadi orang tua ternyata tidak semudah bayangan, banyak hal yang dilalui Caca sebagai seorang ibu muda. Tangis, bahagia, sedih, dan senang. Begit...
![CARAMELLA [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/288440223-64-k226551.jpg)