Kemarin, Elysian sudah bisa pulang dari rumah sakit. Elysian dirawat selama delapan hari, biaya yang dihabiskan hampir sepuluh juta. Yang membuat mahal adalah biaya kamarnya yang habis enam juta lebih.
Masalah Varena yang bertemu beberapa hari yang lalu, Caca tidak mengaku apa-apa. Biarkan saja gadis itu berpikir kalau itu memang adik Regan. Lagipula, Regan sudah mengkodenya untuk diam saja.
Kemarin juga Varena langsung pergi setelah dipanggil seseorang. Jadi mereka tak sempat mengobrol banyak. Caca lega, ia malas dan takut dengan respon temannya itu.
Pagi ini, Caca dan Regan tidak berniat pergi kemana-mana. Regan belum mencari pekerjaan tambahan yang harus dilakukan pagi hari, dan Caca malas ke sekolah. Toh, disana paling cuma nongkrong saja.
Atala dan Arala sedang dibawa Ardi. Tadi pagi keduanya sudah dijemput. Mungkin akan menginap ditempat lelaki itu. Katanya Ardi sangat rindu dengan Arala yang super menggemaskan itu.
Caca sedang menyusui Averly, di karpet kamar. Elysian sejak tadi entah mencari apa di kardus tempat mainannya, semuanya sudah dilempar bayi itu tapi tidak kunjung juga mendapat yang ia mau, "Abang nyari mainan yang mana? Kok semuanya dilemparin gitu?" tanya Caca.
"Pappaaa," lirih Elysian masih berusaha mencari sesuatu yang dimau.
"Ya masa nyari Papa di kardus, Bang? Papanya lagi mandi," terangnya.
Isi kardunya sudah habis, dengan mata berkaca-kaca Elysian merangkak ke arah Caca. Memeluk mamanya itu sembari menangis kencang. Caca mengusap punggung bayi itu, "Iya, sebentar lagi Papa keluar, Bang," ucapnya karena Elysian terus memanggil papanya.
Tidak lama, Regan akhirnya keluar dari kamar mandi, "Kenapa, Bang?"
Elysian langsung menoleh, kemudian merangkak cepat menuju papanya yang masih mengeringkan rambut dengan handuk kecil di depan kamar mandi.
Regan berjongkok memeluk bayinya, "Iya, ini 'kan udah sama Papa," ucap Regan.
Elysian semakin kesal. Bayi itu menghentak-hentakkan kakinya sembari berteriak-teriak, "Pappaaa!"
"Abang nyari apa? Bilang dong, Bang, jangan marah-marah gitu," tegur Caca.
Elysian langsung menunjuk ke arah mainan yang berserakan. Regan mengambilkan mainannya satu persatu yang memang Elysian sukai, tapi tidak ada yang cocok.
Regan langsung melihat ke arah Averly yang masih sibuk menyusu sambil memeluk boneka, "Adek tadi lihat mainan Abang? Atau Adek simpenin?"
"Uhhhmmmm?"
Caca menunduk, "Lihat mainan Abang gak, Dek?"
Averly langsung melepas hisapannya. Bayi itu duduk tegap lalu menoleh kanan kiri. Seperti mengingat sesuatu, Averly langsung merangkak ke samping tempat tidur dan tengkurap. Tangan mungil itu meraba kolong tempat tidur.
"Nahgg?" Averly menyodorkan mainan yang ia temukan ke arah Elysian.
Seketika, Elysian berbinar. Merangkak cepat ke arah Averly, mengambil mainan mobil-mobilan yang disodorkan Averly.
Caca geleng-geleng kepala dengan kelakuan anaknya itu. Jadi, alasan Elysian menyebut papanya itu maksudnya mobil-mobilan baru yang dibelikan Regan kemarin saat di rumah sakit.
"Terima kasih Adek, udah nemuin mainan Abang," ucap Regan mengelus puncak kepala bayi itu. Walaupun Regan tahu, Averly yang sudah memasukkan mainan itu ke kolong tempat tidur.
Itu memang kebiasaan baru Averly, memasukkan barang-barang ke kolong. "Lain kali kalau mau masukin ke kolong, Mama di kasih tau ya, biar gak bingung nyarinya, 'kan kasihan Abangnya nangis tadi nyariin," ucap Regan lagi menasehati.
KAMU SEDANG MEMBACA
CARAMELLA [Sudah Terbit]
RomanceSequel Regantara. After they have Elysian and Averly. Baca dulu cerita Regantara biar paham tokohnya! Menjadi orang tua ternyata tidak semudah bayangan, banyak hal yang dilalui Caca sebagai seorang ibu muda. Tangis, bahagia, sedih, dan senang. Begit...
![CARAMELLA [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/288440223-64-k226551.jpg)