Dari Regan sampai di kampus, sampai sudah mulai perjalanan mendaki, semua anggota mapala yang perempuan terus saja melirik ke arah lelaki itu sembari berbisik-bisik. Hal itu membuat Regan sangat risih. Tanda yang dibuat Caca itu menjadikan Regan menjadi pusat perhatian.
Regan sama sekali tidak peduli dengan anggapan orang lain terhadap dirinya. Hanya saja, dirinya malas menjadi pusat perhatian. Apalagi yang memperhatikannya itu perempuan.
"Nyewa jalang mana sih?! Kenapa gak sama gue aja?!" gerutu salah satu perempuan yang berjalan di depan gerombolan Regan. Regan memang berjalan di barisan paling belakang bersama Ardi, Alan, dan tiga senior yang memang akrab dengannya— Diko, Bintang, Naren.
"Bukannya dihujat malah mau pasang badan, njeng!" gerutu Ardi tak habis pikir. Ardi bahkan sampai geleng-geleng kepala karena para perempuan itu kecewa karena bukan mereka yang memberi tanda.
"Gila sih, orang ganteng mah bebas!" kesal Diko. "Lo juga, tutupin kek tandanya! Mana ada tiga lagi!" lanjutnya.
"Buat apa?"
"Hah?!" bingung Diko.
Ardi yang sudah paham betul tabiat sahabatnya yang sangat irit kosakata itu langsung menimpali, "Buat apa ditutupin, Bang? Itu maksut teman gue."
"Jangan setengah-setengah makanya, njeng!" sentak Diko sembari mendorong Regan karena kesal.
Regan yang tiba-tiba di dorong tidak sempat antisipasi dan menubruk gadis yang ada di depannya. "Ck!" Regan menatap nyalang ke arah Diko, untuk dirinya dan gadis yang ditabrak tidak sampai jatuh.
Sedangkan teman-temannya malah tertawa terbahak-bahak. Gadis yang di tabrak juga malah tersipu malu karena Regan meminta maaf pada dirinya. Padahal Regan hanya mengucapkan kata 'sorry' dengan nada datar dan dingin.
"Emm, iya gakpapa kok Regan. Kamu 'kan gak sengaja," balas gadis itu malu-malu.
"Rekam, rekam, aduin ke ibu ratu," teriak Alan bersemangat, lelaki itu juga mengarahkan kamera ponsel Ardi kepada Regan.
Regan menyaut ponsel itu. Alan memang bercanda, tidak benar-benar merekamnya. Tapi karena kesal, Regan mengantongi ponsel tersebut sebagai barang sitaan.
"Heh, anjing! Hp gue itu!" kesal Ardi. Sayangnya, tidak ada yang menghiraukannya. Mereka semua kembali berjalan, meninggalkan Ardi yang malah cengo di belakang. Alan sebagai penyebab ponsel Ardi diambil Regan malah tertawa mengejek.
"Ngomong-ngomong nih. Lo tadi bilang aduin ibu ratu. Si Regan punya pacar?" tanya Diko, lagi-lagi lelaki itu masih ingin mengulik kehidupan pribadi juniornya itu.
"Emang lo, Bang. Jomblo abadi!" cibir Alan dengan tawa.
Diko berdecak kesal, "Mulut lo gue tabok mampus! Gue pikir orang kaya lo gak mau berada dalam suatu komitmen."
"Iya, anjing! Gue pikir lo semalem nyewa jalang biar kuat nanjak," timpal Naren.
"Gue pikir lo anak baik-baik njeng. Eh ternyata, sama aja kaya kita!" tambah bintang. Diko seketika melotot, "Lo doang yang rusak! Gue mah anak baik-baik," ucapnya tak terima.
Telinga Regan sampai panas dari tadi terus saja ditanya dan menjadi bahan pembicaraan. Dan yang membuat telinga Regan seolah mengeluarkan asap adalah, sejak tadi mereka menganggap bahwa yang membuat tanda adalah seorang jalang. Enak saja istri tercintanya dikatai jalang.
"Bangsat! Brisik lo semua! Ini istri gue yang bikin!" kesal Lelaki itu menatap tajam ke arah tiga seniornya.
"Iye, iye, gak usah ngeg– hah?! Istri?"
Ardi menepuk satu persatu pipi ketiga seniornya itu, "Biasa aja kali, Bang, mukanya. Kek orang bego lo bertiga."
"Ini kuping gue gak rusak kan ya? Lo juga denger 'kan kalau tadi nih curut satu bilang istrinya yang bikin?" tanya Diko kepada Bintang dan Naren.
KAMU SEDANG MEMBACA
CARAMELLA [Sudah Terbit]
RomanceSequel Regantara. After they have Elysian and Averly. Baca dulu cerita Regantara biar paham tokohnya! Menjadi orang tua ternyata tidak semudah bayangan, banyak hal yang dilalui Caca sebagai seorang ibu muda. Tangis, bahagia, sedih, dan senang. Begit...
![CARAMELLA [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/288440223-64-k226551.jpg)