Tidak Benar

25.4K 2.4K 1.1K
                                        


Pernah merasa jadi orang paling bodoh karena melakukan sesuatu tanpa pikir panjang? Begitulah yang dirasakan Regan sekarang. Bisa dibilang, lelaki itu menyesal. Sangat menyesal lebih tepatnya.

Regan, tidak bisa mengontrol emosinya sendiri ketika masalahnya berhubungan dengan Caca ataupun anaknya. Itu alasan kenapa selalu memilih pergi ketika sedang emosi dengan Caca. Ia takut kelepasan dan bertindak buruk. Apakah itu tindakan yang benar? Tidak. Apapun itu, Regan tetap salah. Salah besar malah.

Setelah tadi ia meninggalkan Caca lagi. Pikirannya terus berkecamuk. Isi kepalanya penuh. Sampai-sampai pekerjaan yang dilakukan di bengkel ada beberapa yang salah. Hal itu membuat Regan kena tegur.

Sebenarnya, Regan sangat emosi karena foto yang dibuat ig story Caca itu di capture oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab dan di posting kembali di base akun plus-plus. Inti dari postingan itu, foto Caca akan dijadikan 'bahan' fantasi oleh manusia yang tidak bertanggung jawab.

Regan tahu dari salah satu temannya saat tadi sedang mengerjakan tugas kelompok di perpustakaan. Kebetulan temannya itu juga followers akun tersebut. Saat itu juga Regan membuka akun instagram Caca dan emosinya langsung tidak terkontrol.

Foto yang di base itu sudah di takedown. Tapi Regan tidak bisa mencegah orang-orang yang sudah terlanjur menyimpan foto Caca itu.

"Lo katanya mau balik jam sembilan. Malah masih di sini," tegur Zeo— teman kelasnya sekaligus kariawan bengkel yang membantu Regan masuk bengkel ini.

Regan hanya menoleh sekilas lalu kembali menyesap rokoknya. Sekarang sudah jam sepuluh lebih, tetapi lelaki itu masih duduk di angkringan depan bengkel.

"Anjir, dikira gue setan kali ya," gerutu Zeo ikut duduk di samping Regan. "Sapa tuh, cantik amat," ucap Zeo mengintip ponsel Regan.

Regan langsung mengunci ponselnya, "Punya gue."

"Anjing! Beruntung banget lo dapet bidadari," heboh Zeo.

"Banget."

Zeo membuka ponselnya yang sepertinya ada pesan masuk, "Ck. Gue duluan, Nyet. Emak gue nyuruh pulang mulu." Regan mengangguk, "Lo mah enak kaga ada yang nyari," lanjut Zeo sebelum pergi.

Tidak ada yang mencari? Salah besar, nyatanya sejak pukul sembilan tadi sudah ada yang mencari dan menyuruhnya cepat pulang. Siapa lagi kalau bukan Caca.

Sekarang, Regan bukan tak mau pulang. Lebih tepatnya malu untuk pulang. Rasanya, salahnya saat ini harusnya tidak perlu termaafkan. Sesalah apapun istrinya itu, Regan tidak perlu sampai berbuat kasar. Bahkan kasar secara fisik— melempar ponsel, walau itu juga tidak sepenuhnya sengaja. Mungkin ini bisa dikategorikan kdrt?

Yang membuat Regan tidak punya muka untuk pulang adalah, Caca mengirimkan pesan permintaan maaf dan memohon Regan untuk pulang cepat. Padahal, Caca harusnya marah saja karena Regan keterlaluan.

Setelah berperang dengan isi kepalanya, kali ini Regan mengedepankan hati nuraninya. Lelaki itu akhirnya bersiap untuk pulang.

Membuka pintu kamar pelan. Regan langsung melihat Elysian yang tersenyum kepadanya. Bayi itu memeluk perut mamanya, menumpukan dagunya di pinggang Caca. Posisi Caca memang tidur miring membelakangi pintu kamar.

"Papaaaaa," panggil Elysian pelan.

"Udah malem, Abang kok belum bobok?" tanya Regan mendekat, melihat Caca yang ternyata sudah tidur sembari menyusui Averly yang juga sudah tertidur.

Elysian menengadahkan tangannya minta di gendong, "Paaaa."

"Bentar, Bang, Papa masih kotor, mandi dulu ya."

CARAMELLA [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang