Graduated

21.8K 2.3K 1.2K
                                        


Caca duduk lesu di sofa kamarnya. Gadis itu sedang bingung harus menggunakan apa saat hari kelulusan besok. Upacara kelulusan sekaligus perpisahan besok menggunakan dresscode kebaya. Dan seumur-umur Caca tidak pernah punya atau memakai kebaya.

"Masa harus beli sih? Kan cuma buat sekali aja, sayang duitnya," leluhnya. "Mana tinggal besok lagi, ishhh!"

Sebenarnya, informasi dresscode sudah diberitahu sejak dua hari yang lalu. Tapi memang dasarnya Caca yang jarang membuka grup, ia baru tahu informasi ini sekarang. Itupun karena Syeina menanyakan pada Caca warna kebaya yang akan digunakan besok.

Coba saja Syeina tidak bertanya. Bisa-bisa Caca malah menggunakan seragam putih abu-abu miliknya. Dan berakhir malu tujuh turunan.

"Ammamaaah!"

"Apa, Dek?" jawab Caca masih fokus dengan ponselnya.

Averly sudah merangkak mendekati Caca, menarik kaos yang mama kenakan, "Uuuw nennn!"

"Kan tadi baru aja nen, Dek." Caca meletakkan ponselnya lalu mengangkat Averly untuk di pangku.

"Auuuwwwmaaa!"

Caca menggendong Averly, meletakkan bayi itu di samping Elysian yang sedang bermain mobil-mobilan di karpet, "Yaudah, Mama buatin dulu ya. Adek main sama Abang dulu sini."

"Bang, Adeknya dijagain ya." Elysian hanya menatap mamanya sebentar lalu kembali asik bermain.

Ini yang membuat Caca berpikir dua kali untuk membeli sesuatu yang tidak terlalu penting. Dua bayinya sudah mulai minum susu formula sejak dua bulan yang lalu. Dan yang menjadi masalah adalah, susu formula Elysian dan Averly itu cukup mahal dengan merk berbeda.

Caca sudah mencoba dengan berbagai macam merk susu formula yang lebih affordable bagi keuangan mereka. Tapi masalahnya, Elysian maupun Averly tidak cocok dengan merk tersebut. Entah perihal rasa susunya atau pencernaan mereka jadi terganggu.

Caca menyodorkan botol dot kepada Averly, "Nih, Dek."

"Enneeennn Ma." Tolak Averly masih menarik baju mamanya itu yang sudah duduk di sebelahnya.

"Iya, ini nen Mama, tapi ditaruh di dot, Dek," bujuk Caca. "Sama ini," tambahnya lagi meyakinkan.

Averly malah menunduk dengan bibir mengerucut. Itu artinya, Averly sedang marah, maunya nen langsung bukan lewat dot.

"Adek, rasain dulu coba. Masa langsung ngambek sih?" bujuk Caca.

Kebetulan sekali, Regan datang. Saat tau papanya sudah pulang, Averly langsung minta bantuan papanya itu. Averly merajuk agar mendapatkan yang dia mau.

"Uwwwenen Ammaa Paaa," rengek Averly.

Regan langsung menatap Caca. Ia harus tau apa yang terjadi sebelum menjawab rengekan bayinya itu. Tidak mungkin kalau Caca menolak menyusui bayinya kalau tidak ada sebabnya.

Caca menghela napas pelan, "Adek tadi kan baru aja nen, makanya sekarang ganti pakai dot."

Sebenarnya Caca juga tidak tega. Apalagi wajah Averly itu sangat sedih. Tapi mau bagaimana lagi, semakin kesini asinya semakin sedikit. Kalau tidak begini, salah satu bayinya tidak akan mendapat asi dan berakibat rewel.

Pernah terjadi, asinya sudah dihabiskan Averly diawal. Ketika Elysian minta gilirannya malah sedikit sekali yang keluar, dan akibatnya bayi itu menangis karena kesal yang ia dapatkan hanya sedikit.

Regan meminta dot itu dari Caca, lalu memberikannya kepada Averly, "Coba rasain dulu. Kalau gak suka boleh gak diminum," bujuknya lagi.

Elysian yang tadinya bermain langsung ikut-ikutan duduk di dekat Regan. Bayi itu memang suka ikut menenangkan adiknya, walau kadang malah bikin tambah nangis. Elysian bersandar pada tubuh papanya, memperhatikan adiknya yang masih terus cemberut.

CARAMELLA [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang