Semua Bisa Kalau Ada Uang

23.3K 2.2K 342
                                        


Caca, gadis dengan segala kepribadiannya. Bagi Regan, Caca ini gadis yang suka menggunakan topeng jika berhadapan dengan orang lain. Bisa dilihat sekarang Caca duduk berbincang dengan Cleo, Ardi, dan Anna seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal tengah malam, gadis itu masih menangis meraung-raung di pelukan Regan sampai subuh.

Mereka sedang di parkiran sekolah Caca. Ini berkaitan dengan surat pemanggilan orang tua yang Caca berikan kepada Regan kemarin. Di sini mereka sedang menunggu kedatangan Juna yang akan berperan sebagai walinya Caca.

"Si Adel ngapain dah di mobil terus sama Alan? Jangan bilang tuh orang berdua mau nganu lagi," tanya Ardi menyelidik, memperhatikan mobil yan terparkir di sebelah mobil Danielo. Sontak Anna langsung menabok lengan pacarnya itu, "Jangan ngaco deh! Mereka bawa Aleon, makanya di dalem terus," balas gadis itu sinis.

"Lah tumben, biasanya juga dititipin emaknya si Alan tuh bocah," cibir Ardi.

Cleo yang sedang asik mengajak bercanda Averly yang sedang di pangku Danielo langsung menoleh ke kursi penumpang, "Onty lagi ikut om Alnio ke luar kota katanya."

"Aduh, gue kasihan sama Aleon. Apa kaga kena mental tuh diasuh Adel sama Alan. Mending gue aja deh yang ngasuh," timpal Ardi lagi-lagi.

Caca menatap sinis ke arah Ardi, "Kaya becus aja lo. Ngajak Elee aja lo udah kewalahan," cibirnya.

Ardi yang ingin membuka hoodie yang menutupi tubuh Elysian yang sedang menyusu terurungkan karena tangannya sudah dicekal Regan. Padahal Regan tadi masih fokus kepada laptop di pangkuannya.

"Mau gue patahin juga?!" sinis Regan membuat Ardi seketika menyengir, "Hehe, maaf gak dulu, Bang."

"Sukurin," ucap Caca terkekeh.

Anna yang sejak tadi memperhatikan Caca tiba-tiba memegang leher temannya itu yang duduk di kursi depannya,  "Lo gakpapa, Ca?"

Respon Caca itu tidak biasa, karena gadis itu kaget. Tapi sebelum Regan memarahi Anna, Caca langsung tersenyum menoleh ke belakang, "Lah emangnya gue kenapa, Na?"

"Badan lo anget soalnya," ucap Anna kikuk. Padahal maksud Anna bukan perkara itu.

Sebenarnya mereka semua yang berada di mobil terus memperhatikan Caca diam-diam. Sedikit heran pada Caca karena gadis itu seolah tidak ada beban masalah.

Tidak tahu saja mereka, Caca sejak masuk ke dalam mobil terus menggenggam tangan Regan. Bukan hanya menggenggam, ia juga meremas tangan lelaki itu untuk menyalurkan kegelisahannya.

Ketukan dari kaca mobil sebelah Regan mengalihkan pandangan semua yang ada di dalam mobil. Ternyata Juna sudah sampai.

"Udah lama lo semua? Sorry, gue ke kampus dulu, nitip tugas buat kelas pagi," ucap Juna.

Regan hanya berdehem, lelaki itu membuka pintu mobil. Tiba-tiba Elysian menyembulkan kepalanya membuat Caca langsung kalang kabut menutupi dadanya, "Mpaaaa," pekik bayi itu.

Ardi sendiri langsung memicing, "Ngapain deh lo, Cil."

"Nenennn!"

"Dih, ngegas, mentang-mentang bisa nyusu," cibir Ardi.

Regan mendengus lalu menunduk, "Abang di sini dulu ya," ucapnya megangkat bayi itu lalu di dudukkan di sebelah Caca.

"Gue titip mereka ya, Cle, Na. Kalau misal rewel telfon aja," ucap Caca merapikan penampilannya.

"Okay, Cacantik. Tenang aja ya, Cle sama Anna pasti bisa jagain mereka berdua," balas Cleo bersemangat.

Menjadi pusat perhatian, itu sudah biasa bagi mereka. 5 lelaki mengawal 1 perempuan. Mereka yang memang masih di depan kelas, terus memperhatikan dan berbisik-bisik perihal Caca yang dikawal para lelaki tampan.

CARAMELLA [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang