Ash kelihatan ragu, seolah ia tahu aku sebenarnya belum ingin mendengarkan, namun ia berlutut di hadapanku. Wajahnya menoleh pada perkamen. Jari telunjuknya menyisir satu nama. "Mirbriand. Keluarga ibumu memiliki darah Mirbriand."
Jari Ash mengikuti cabang pohon jauh ke bawah. "Ini nenekmu, bukan? Dan ini kakekmu. Apa kau mengenalnya?"
Aku mengangguk cepat. Tentu saja.
Jari Ash lalu turun satu tingkat. "Nenekmu masih keturunan Mirbriand. Itu nama keluarga yang tidak asing di tempat aku berasal. Nenekmu sepertinya memilih untuk tinggal di duniamu dan hidup normal sepertimu."
Ash berpindah ke satu nama, yaitu nama ibuku. "Ibumu juga menikahi Orang Luar,"—aku mengernyit saat Ash mengatakan itu—"kemudian mereka punya dua anak, salah satunya adalah kau."
Jari Ash berhenti tepat di namaku. Aku menyela, "Kau sebut apa tadi ayahku?"
Tetapi, Ash abai. Ia melanjutkan tanpa terburu-buru. "Melihat silsilah nenekmu, kau datang dari keluarga Ras Estellion yang terpandang. Sejarah Mirbriand kuat, aura yang diturunkan ke anak-cucunya juga kuat. Tetapi kau—"
"Tunggu." Aku memotong lagi. Apa katanya tadi? Estellion? Aura? "Apa yang kau bicarakan?"
Ash berhenti bicara. Matanya seolah bicara aku—mengerti—ini—terdengar—tidak—masuk—akal. Ia berdiri. Dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap, kepalanya harus menunduk agar pandangannya dapat menemui sepasang mataku, sementara aku harus mendongak padanya.
"Akan kuberitahu alasanku menemuimu, dan penyebab kita bertemu malam itu."
"Sekarang kau akan bicara?"
"Kau ingin kita bicara di atap atau di kolam renang?" tanya Ash. Aku mengernyit lagi. "Mengapa tidak di sini?"
Ash tersenyum. "Kalau begitu, di atap," katanya, lalu menarik tanganku lagi, kali ini lebih lembut. Ia mengangguk padaku, memberi isyarat bahwa aku hanya perlu mengikutinya.
Kami keluar ruang piala, menaiki tangga, mengitari bangunan lainnya. Ash membawaku ke rooftop di sayap kanan komplek kecil ini—atau yang Ash sebut markas. Ada sebuah ruangan tertutup di samping teras itu, namun pintunya tak berdaun dan jendelanya lebar seperti bar. Di ruangan terbuka, terdapat satu set kursi dan meja kayu bergaya shabby chic dengan warna putih.
Dari atas, aku menyaksikan pemandangan elok pulau Santorini. Bangunan-bangunannya yang dibangun di sepanjang tebing, jalanannya yang sempit dan berliku-liku, serta kapal-kapal feri yang menepi di pesisir pantai. Awan putih tipis melintangi langit. Semilir angin datang sesekali. Laut Aegean melatari semua itu.
Ash memintaku duduk di kursi berlengan di seberangnya. Pemuda itu melonggarkan kerah kemejanya. Rambut hitam pekatnya bergoyang lemah diterpa angin. Kedua tangan Ash menyatu di atas meja. Punggungnya tegak. Ia berdeham seperti akan menyampaikan pidato resmi. "Tolong jangan tanyakan apapun sebelum aku selesai."
Aku mengangguk kecil sebagai balasannya. Ash diam selama beberapa detik sampai ia berkata, "Kau sudah lihat silsilah keluargamu. Aku menyebut keluarga Mirbriand, Orang Luar dan aura, istilah-istilah yang tak kau pahami. Sekarang, hal pertama yang ingin kusampaikan padamu adalah, dari silsilah keluarga ibumu, kau keturunan Ras Estellion."
Ia berhenti sejenak, seolah menunggu kerutan di dahiku mengendur, tetapi itu tak terjadi. "Di bumi ini, ada banyak misteri yang tidak kau ketahui. Ada sebuah ras manusia yang bernama Estellion. Kau bisa bilang mereka manusia super. Tetapi anak-cucu Estellion adalah orang-orang biasa yang dianugerahi energi yang melimpah. Aura kami terlihat secara kasat mata."
Ia menunjuk jauh ke udara kosong. "Aku sungguh-sungguh membawamu ke Santorini, ribuan mil jauhnya dari tempat tinggalmu. Aku yakin kau sendiri juga yakin ini nyata. Dan menurutku, keberadaanmu di pulau ini sudah terlalu cukup untuk menjadi bukti bahwa aku tidak sedang bicara omong kosong."
Kepalaku terangguk samar. Cukup adil.
"Karena aura kami berlimpahan, kami juga dianugerahi bakat alami yang mungkin dapat kaupahami sebagai kekuatan super. Kami sendiri menyebutnya sebagai bakat kelainan."
Ash meletakkan telapak kirinya di perutnya. "Kau pasti tahu tentang cakra. Konsepnya seperti itu. Energi berpusat di perut, meluap menjadi bahan bakar bakat kelainan. Pancaran energi itu terlihat berwarna sebagai aura."
Setiap kata yang meluncur dari bibirnya seperti dibisukan saat melewati gendang telingaku. Runutan kalimat Ash terperangkap dalam sunyi dan berputar-putar tak karuan di kepalaku. "Apa yang sedang kau jelaskan?"
Sepasang iris karamel itu menghilang kala Ash menyipit. Ia tersenyum geli. Kedua tangannya terulur lebih jauh di meja, seolah ingin menggapai tanganku. "Jika aku menggunakan auraku, kau akan melihat cahaya biru di sekeliling tubuhku. Kau juga akan mencium aroma laut. Perhatikan."
Ash duduk tegak. Kedua tangannya berpautan lebih erat. Matanya terpejam. Satu-dua detik kemudian, aku mencium aroma angin laut yang sangat kuat. Aroma yang mengingatkanmu pada debur ombak, pasir putih dan bebatuan karang. Bersamaan dengan aromanya yang menguat, aku melihat cahaya biru binar-pudar di sekeliling tubuh Ash.
Biru itu sangat muda, sedikit bercampur dengan tinta ungu, bercahaya putih. Aku kenal apa nama warna itu. Indicolite. Biru itu lalu menguap dan bertengger di sekeliling tubuh Ash.
Mataku membelalak lebar. Rambut Ash ikut berubah warna. Tinta biru itu menjalari akar rambutnya, terus ke batang rambut hingga ujung. Aku menahan napas. Tangan kiriku spontan menutup mulut.
Kini, Ash telah bertransformasi seutuhnya. Ia membuka mata. Napasku tercekat. Sepasang iris cokelat karamelnya telah berubah warna serupa, pucat dan terang seperti air laut pesisir. Tangan Ash hendak meraihku, tetapi ia urung melakukan itu saat melihat punggungku menekan sandaran kursi. Sebagai gantinya, ia tersenyum canggung. "Aku sudah menduga kau akan terkejut, tapi sikapmu jauh lebih tenang dari dugaanku."
Benar. Saking tenangnya, aku hampir tak bernapas menyaksikan hal ini. Setelah lima belas detik yang tak masuk akal, Ash kembali memejamkan matanya. Cahaya di sekelilingnya seolah terserap kembali ke tubuhnya, begitu pula dengan warna rambutnya. Aroma laut itu pun ikut menghilang. Rambut Ash kembali hitam. Sepasang matanya kembali berwarna karamel. Tubuhnya tak lagi bercahaya bak kunang-kunang. Normal.
Matahari turun dan semburat merah-jingga menjalari langit biru-putih. Cahaya hangat itu terpantul pada riak air yang berbuih, pada pagar pengaman aluminium rooftop yang mengilap, pada pipi kanan Ash dan kemeja lengan balonnya. Rambut Ash terlihat bercahaya cokelat. Sore hari yang menawan, tetapi aku sulit menikmatinya. "Apa kau mutan?"
Suaraku terdengar bergetar. Ash menatapku lurus. Ada pancaran rasa geli dan rasa maklum di sana. Ia mungkin merasa wajar kalau aku ketakutan. Suaranya menjawab sehalus mungkin. "Bukan, Will. Itu tadi warna auraku. Semua keturunan Ras Estellion punya aura yang seperti itu. Kau juga."
Aku menunjuk diriku sendiri. Aku?
Ash mengangguk dengan senyum hangat. "Hanya saja, kau tidak pernah menggunakannya. Seperti spons cuci piring, Will, dia akan kering dan kaku jika tidak dibasuh. Auramu mengerut dan melemah karena tidak pernah dilatih."
Ia menjeda. "Dan dengan kejadian di atap, aku yakin auramu terbungkus dengan sangat tebal."
Tempo bicara Ash melambat di kalimat terakhir. Ia terdengar berhati-hati. "Alasanku menemui adalah..."
Aku menunggu.
"karena aku membutuhkan auramu."
.
.
.
Pic on header: https://pin.it/3sIgtl9
KAMU SEDANG MEMBACA
Semidevil
RomanceWilhelmina singkat saja dipanggil Will, sesingkat dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Baginya, jiwanya telah lama mati. Ia telah kehilangan motivasi, semangat, dan minat terhadap hal-hal yang ia sukai sebelumnya. Malam itu, Will sudah siap unt...
