"Kepalaku masih pening tapi kau mau pergi?" Sajda mengeluh. Ia berdiri memegangi kepalanya di samping teman-temannya. Cuaca cerah hari ini. Angin melewati rooftop rendah dan merayu. Aku tersenyum. "Maaf aku menganggu tidurmu."
"Will." Abel membuatku mengalihkan pandangan. "Terima kasih atas bantuanmu selama ini. Kau selalu menunjukkan hasil yang memuaskan pada kami. Aku harap, kita bisa bertemu lagi di suatu kesempatan yang menyenangkan."
Abel menjabat tanganku, resmi dan lugas, meski ekspresi wajahnya menunjukkan ekspresi Abel si anak tongkrongan yang membuatku takjub. Begitu Abel melepas jabatan tangannya, Arbei langsung memelukku. "Kau pantas dapat yang lebih baik daripada kakakku, bisiknya. Aku tergelak rendah. Ia memeluk lebih erat. "Aku akan merindukanmu sampai Ash membawamu ke rumah."
Sajda ber-tos ria denganku. "Sampai kapanpun, kau adalah muridku. Lain kali, kita harus mabar lagi."
Tawaku melebar. Sebas tersenyum padaku. "Aku harap, apapun yang kukatakan semalam, kau mau menyimpannya seperti rahasia negara."
Aku terbahak-bahak. Arbei menyipit penasaran pada Sajda. Pemuda itu memyipit balik pada Arbei. Sebas mendengus malu. Aku mengedarkan pandangan pada mereka. "Kalian selalu bisa mengunjungiku."
Semuanya saling menyahut.
"Oh, tentu."
"Kau pikir kita alien? Kita masih hidup di bumi yang sama."
"Saat kubilang kita harus mabar lagi, itu artinya aku akan mengetuk pintumu tiap minggu."
Begitu banyak tawa di ujung momen. Perpisahan menjadi semakin terasa berat. Ash meminta tanganku. Aku menatapnya untuk sesaat. Ini yang dia lakukan ketika pertama kali membawaku ke sini. Ini yang dia lakukan untuk kali terakhir.
Aku menyambut tangan Ash. Arbei melambai padaku. Yang lainnya berdiri dan tersenyum. Pemandangan itu lambat laun sirna bersama cahaya putih. Aku menutup mata. Begitu kembali terbuka, latar tempat telah berganti ke apartemenku.
"Apa aku juga bisa mengunjungimu?"
Sepasang mataku tertarik pada wajah Ash. Dia sedang menatapku lekat-lekat, sungguh-sungguh dan mendamba. Belum pernah dia menatapku seintim ini. Selama ini, dia yang menjadi magnet bagiku. Aku mendongak, mendekat, dan menyentuh pipinya. Ash memejam. Sebelah tangannya naik untuk membungkus tanganku. Ia mengeluskan wajahnya ke telapak tanganku.
Pemuda itu kelihatan lebih berantakan sejak terakhir kali kuperhatikan. Ikal hitamnya mencuat ke berbagai arah. Kemejanya kusut dan tiga kancing teratasnya tanggal. Celana jeans-nya bernoda lumpur. Rantai perak masih menggantung di lehernya.
Ash menangkup rahangku, menunduk agar ia bisa menciumku.
Ia juga jadi lebih berani.
Ketika ia saling berpelukan, aku berbisik di telinganya. "Maaf aku telah marah padamu."
Aku bisa merasakan Ash menggeleng. "Tolong jangan memberiku eglantine lagi."
Ash melepas pelukan kami dengan separuh keengganan. Matanya menyorot putus asa. "Kau harus merindukanku, paham?"
Aku mengangguk polos. Senyum Ash terkembang. Ia mundur selangkah. Tangannya masih bertautan dengan tanganku. Pelan sekali ia melepasnya. Sebelah matanya berkedip jahil. Cahaya putih membawa wujudnya menghilang, kembali ke daratan di Laut Aegean.
Kamarku menjadi sepi. Aku menjadi sedih. Tiba-tiba, aku merasa sedih. Aku merindukan Ash. Tiba-tiba, aku jatuh tersungkur. Aku merasa seperti akan kehilangan Ash selamanya. Dadaku terasa sesak dan air mata mulai berlinangan. Aku menangis keras. Mengapa, sedetik pun aku tak bisa lepas darinya?
.
.
.
Pic on header: https://pin.it/2FFRxQx
KAMU SEDANG MEMBACA
Semidevil
RomansaWilhelmina singkat saja dipanggil Will, sesingkat dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Baginya, jiwanya telah lama mati. Ia telah kehilangan motivasi, semangat, dan minat terhadap hal-hal yang ia sukai sebelumnya. Malam itu, Will sudah siap unt...
