Kami berteman sejak kami dilahirkan. Ibu Rum dan ibuku bertemu tiap jadwal konsultasi kandungan, lalu kebetulan kamar inap mereka bersebelahan. Kebetulan juga aku dan Rum masuk taman kanak-kanak yang sama. Kami jadi teman dekat sejak itu. Sejak itu pula, kami menyemai jejak yang sama. Kami masuk SMP dan SMA yang sama, kampus yang sama. Tetapi, mengikuti Rum bukan hal yang buruk. Aku selalu beruntung, selalu berhasil. Hanya saja, aku harus masuk jurusan sesuai mimpi ayah-ibuku, masuk kerja di bidang yang diinginkan mereka. Rum bilang, "Aku akan melamar di kantor yang sama."
Kami sama-sama diterima. Rum kelihatan baik-baik saja, hidupnya normal, sedangkan aku tidak. Semakin lama aku menghabiskan waktu di kantor, semakin aku menyadari waktuku semakin menipis dan impianku belum juga terwujud. Karena ulah siapa ini? Karena aku. Karena sikapku yang selalu mendahulukan kebahagiaan orang lain dibandingkan aku. Sekarang, aku menyesalinya.
Rum dan aku saling menyayangi. Kita jadi terbuka tentang segala hal sejak SMP. Aku dan Rum sudah seperti saudara kandung. Faktanya, aku bahkan lebih dekat dengan Rum daripada dengan adikku sendiri. Rum adalah kakak buatku, panutan yang selalu benar. Bagi Rum, aku adalah adiknya yang selalu ia cemaskan.
"Apa kau sudah mengenal semua anggota keluarganya?" Ia bertanya tiba-tiba. Tangannya melipat pakaian. Matanya menonton tv, namun bibirnya berbicara padaku. Aku di sampingnya yang sedang mengupas apel melirik. "Siapa?"
"Keluarga Ash," cetus Rum. Aku mengerjap gugup. "Belum."
"Kau menghabiskan lebih banyak waktu dengannya daripada denganku sekarang. Kalian sudah ke mana saja?"
Aku pura-pura sibuk menyingkirkan biji apel. "Aku tidak-kami tidak-"
Rum pelan-pelan memutar pandangannya padaku.
"Maksudku, kami tidak bertemu sesering yang kau kira. Aku juga mulai sibuk ikut kursus. Dan kau juga sibuk."
Rum mengangguk lamat-lamat. "Pokoknya, jangan menginap terlalu sering."
Aku bersiap menyangkal lagi, tapi Rum lebih cepat menginterogasi. "Apa orang tuanya menanyai pekerjaanmu?"
Dalam kasus-kasus tertentu, Rum bisa naik kelas dari kakak menjadi ibu tiri. "Itu..."
Rum memutar posisi duduknya menghadapku. "Will."
Aku mendongak. Dalam raut wajahnya, garis-garis halus terbentuk di dahi. Pelupuknya menyipit. "Akan kukatakan padamu. Aku tidak terlalu menyukai Ash."
Alisku naik. "Kenapa?"
"Yah, ada banyak hal." Ia menerawang. "Pertama, aku tidak tahu pasti bagaimana kalian bertemu, tapi bagaimana bisa dia muncul di saat kau berhenti kerja dan sedang dalam 'krisis' besar? Kebetulan seperti itu memberinya kesan buruk bagiku. Seolah dia memanfaatkanmu untuk sebuah alasan."
"Rum!"
Rum menutup mata dengan senyum masam. "Iya, aku minta maaf. Aku cuma menyampaikan pendapatku. Aku tidak suka padanya karena kalian bertemu di situasi yang buruk."
Itu tidak bisa disalahkan. Siapapun akan curiga pada pria yang kau temui setelah kau mau bunuh diri dan berhenti kerja.
"Kedua." Rum melanjutkan. "Dia sering membawamu ke luar, seolah-olah dia menarikmu ke dunianya tanpa memberimu jeda. Aku tahu, kalian mungkin sedang jatuh cinta dan ingin menghabiskan waktu bersama, tapi kau jadi terlena. Pikirkan juga kehidupanmu. Mulai sekarang, kau sudah harus melamar kerja lagi."
Bagian ini membuatku sedikit menciut.
"Ketiga, aku tahu dia dari keluarga kaya. Hidupnya pasti mudah. Tapi kau harus hati-hati, Will. Keluarga kaya seringkali memanipulasi atau mengakuisisi. Aku hanya khawatir kau diperlakukan tidak enak di sana. Aku takut kau diremehkan." Rum cemberut. "Kau harus langsung cerita padaku kalau hal-hal seperti itu terjadi. Aku akan membantumu putus."
Aku melamun ngeri. "Terima kasih, Rum."
Rum melotot. "Aku serius." Kepalaku mengangguk-angguk.
"Keempat. Ini kali pertama kau pacaran. Jangan bodoh!"
Anggukanku berubah takzim. Rum menghela napas, mengamatiku dengan prihatin. "Aku heran bagaimana caranya kau kelihatan mandiri dan menolak semua pria yang mendekatimu. Adakah satupun yang berhasil memikatmu?"
"Mereka baik, tapi aku tidak merasa cocok."
"Lalu, pria misterius yang muncul tiba-tiba ini cocok denganmu?"
Lidahku mendadak macet.
"Dari mana kau bisa yakin?"
Aku kehilangan kata-kata.
"Aku masih menunggumu, kau tahu."
Dagu Rum mendongak pada apel. "Apa rasanya manis?"
Aku memerhatikan daging apel yang putih bersih dan kulitnya yang merah ranum. "Manis."
Rum mendengus. "Kau bilang apelnya manis, padahal kau baru mengupas kulitnya."
Aku terdiam. Merasa bodoh dengan jawabanku tadi. Rum meraih satu potong apel, lalu bertanya lagi. "Apa kau sudah menceritakan Ash pada ibumu?"
Gelenganku memancing lagi kerutan di dahinya. "Kenapa belum? Ibumu pasti senang mendengarnya."
Sepertinya tidak. "Aku bingung harus mulai dari mana."
Rum diam sejenak. "Kenapa harus bingung? Ceritakan saja sesuai urutan kronologinya. Kau bisa mulai dari siapa dia dan bagaimana kalian bertemu."
Ia tersenyum untuk menyemangatiku. "Aku tahu ini kali pertamamu, tapi tidak usah cemas. Ash sudah memperkenalkan kamu pada keluarganya, dia pasti senang jika kamu melakukan hal yang sama."
Aku memilih untuk menggigit apel. Ternyata dagingnya memang manis, tapi kerongkonganku terasa kering. Setiap kali percakapan seperti ini terjadi, aku semakin merasa bersalah karena telah membohongi Rum. Akan tetapi, bagaimana dia akan menerima kenyataan yang tak masuk akal ini? Aku sendiri butuh waktu berminggu-minggu untuk menyadari ini bukan mimpi. Dan, bagaimana jika Rum menganggapku berhalusinasi? Membutuhkan bantuan ahli kejiwaan lagi? Sejauh mana bukti yang harus kutunjukkan padanya?
"Omong-omong," Rum meraih ponselnya di nakas di bawah tv. "Aku mau menunjukkan sesuatu," lanjutnya sambil menggulir layar. Ia lalu menyodorkan ponselnya padaku. Aku menerimanya. Di sana, tertera iklan lowongan kerja dari suatu perusahaan di instagram.
"Coba saja kirim portofoliomu ke situ. Oke?"
Aku melirik Rum yang melirikku dengan penuh semangat. Kegundahan menggelitik hati. Aku hanya ingin istirahat sebentar. Tolong bebaskan aku dari hal-hal seperti ini untuk sejenak.
"Ya, akan kucoba."
Senyum Rum mengembang senang. Ia kembali melipat pakaian bersih sambil menonton tv.
.
.
.
Pic on header: https://pin.it/7mwJW1j
KAMU SEDANG MEMBACA
Semidevil
RomantizmWilhelmina singkat saja dipanggil Will, sesingkat dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Baginya, jiwanya telah lama mati. Ia telah kehilangan motivasi, semangat, dan minat terhadap hal-hal yang ia sukai sebelumnya. Malam itu, Will sudah siap unt...
