Makan siang yang agak terlambat. Rum memasak nasi goreng dengan bahan makanan yang ada. Saat memasak, ponselku berdenting. Kuhampiri benda futuristik berteknologi layar sentuh itu di meja ruang santai. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi sebuah pesan. Ibu ingin aku ikut belanja bulanan.
"Kau harus ikut." Rum bersuara dari belakangku. Aku terkejut. Bisa-bisanya dia sudah di belakang. "Bukankah kau sedang memasak?"
Rum duduk dengan teflon berisi nasi goreng yang mengepulkan harum rempah. "Kau harus ikut. Ibumu ingin memperbaiki hubungan denganmu. Masa, kamu tidak mau?"
Aku melamun. "Tapi aku sedang tidak ingin bertemu dengannya."
"Tapi kau mau bertemu denganku?"
"Itu karena-" aku berhenti sementara alis Rum terangkat."Kau tahu kau satu-satunya yang tahu soal kondisiku."
Lama datangnya tanggapan Rum sampai ia berkata, "Aku senang aku satu-satunya, tapi saranku, kau harus ikut. Dan kau harus mendengarkan saranku karena aku satu-satunya yang tahu soal kondisimu."
Aku diam. Rum meletakkan teflon di meja kaca. "Will, lihat aku. Kau ingin sembuh, kan? Kau ingin berhenti berada dalam depresi ini?"
Kepalaku mendongak padanya. Mataku menatap Rum ragu.
"Tidak akan pernah kau menemui jalan keluar kalau kau sendiri tak bergerak. Temui ibumu. Kau harus berani menghadapi ketakutan terbesarmu."
Ia memang benar, tapi ia tidak tahu betapa aku mencemaskan dan tidak ingin bertemu orang-orang yang berpotensi membicarakan karir, rencana masa depan, dan kewajiban duniawi lainnya saat ini. Keluarga adalah ancaman teratas dalam daftar penyebab. Aku benar-benar enggan untuk ikut, namun perkataan Rum juga tidak ada salahnya. Mungkin aku hanya mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi secara berlebihan.
Aku juga berpikir, aku belum menanyakan hal ini: sejarah keluarga. Setelah beberapa hari yang lalu aku pulang dari sesi pertama penangkapan monster, aku tersadar bahwa waktu sudah berjalan hampir sebulan semenjak aku bertemu Ash dan ibu belum tahu soal ini. Aku belum bercerita, belum sempat bertanya dan belum mendengar sendiri kebenarannya dari ibuku. Jika terjadi sesuatu, aku khawatir keluargaku tidak akan tahu karena aku belum pernah mengatakan apa-apa. Ajakan belanja bulanan ini bisa jadi kesempatan untuk menceritakan apa saja yang sudah terjadi. Jantungku berdetak lebih cepat, cemas menerka-nerka akan seperti apa reaksi ibu nantinya.
Atas saran dan bujukan Rum, aku berakhir di antara deretan makanan beku dan produk susu, berdiri mendorong troli belanjaan. Ibuku tiga langkah di depan, sedang memilih-milih keju.
"Menurutmu, apa kita bisa pakai keju edam untuk buat kue nastar?"
"Untuk apa buat nastar?" Aku mendorong troli mendekat kepadanya. Ibuku menoleh singkat. "Sebentar lagi natal. Ibu mau coba buat nastar."
"Ibu juga buat nastar saat Ramadhan." Aku memprotes cepat. Bibirku membentang lurus. "Pakai keju cheddar saja. Edam terlalu mahal."
Selesai berbelanja, kami langsung pulang. Kami bolak-balik dari mobil ke dapur untuk menurunkan belanjaan. Semenjak separuh jalan lagi menuju rumah, lidahku terasa gatal. Sesuatu menyumbat tenggorokan, minta dikeluarkan. Setelah berada di dapur, aku merasa ini waktu yang tepat untuk menanyakan sejarah keluarga kami.
"Bu."
Aku berdeham. Ibu bergumam acuh sementara tangannya memasukkan toples ke rak di atas kompor.
Ayolah, Will, ini masalah serius.
"Apa nenek manusia super?"
Pertanyaanku terdengar konyol.
Ibu namun mematung sesaat. "Nenek memang super, Will. Dia biasa makan nasi dua piring waktu muda, tapi badannya tetap langsing."
KAMU SEDANG MEMBACA
Semidevil
RomanceWilhelmina singkat saja dipanggil Will, sesingkat dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Baginya, jiwanya telah lama mati. Ia telah kehilangan motivasi, semangat, dan minat terhadap hal-hal yang ia sukai sebelumnya. Malam itu, Will sudah siap unt...
