Aku telah mengucapkan tiga mantra itu.
Keputusasaan telah lama merasukiku. Sudah saatnya iblis berpesta pora setelah lama menantikan ujung kesedihan ini. Dia sedang menonton dari dalam tanah. Jauh di bawah sana, namun bisikannya terngiang kencang di gendang telinga. Seolah aku bisa melihatnya lewat mata batin, iblis tersenyum lebar. Kedua tangannya terentang untuk menyambutku.
Satu langkah lagi dan kau akan terbebas.
Alangkah menggodanya rayuan itu. Iblis tertawa. Bukankah?
Siulan angin mengelus pipiku, memijat pundakku, lalu menyisir rambutku. Setiap kali melintasi daun telingaku, dia mendesis. Setiap kali ia mendesis, aku bertambah dekat dengan tepi atap.
Kerlap-kerlip lampu ibukota terlihat indah di bawah sana. Lalu lintas berjalan lancar, tidak seperti biasanya. Beberapa titik bintang terlihat jelas. Jarang-jarang bintang muncul di langit berpolusi. Seharusnya, aku membawa ponselku. Ada hal bagus untuk diabadikan.
Oh, aku lupa. Aku takkan punya waktu untuk mengenangnya nanti.
Aku telah mengucapkan tiga mantra itu:
Aku tidak berguna.
Aku menyerah.
Aku lebih baik mati.
Angin menutup kedua mataku. Sayap halus terbentang lebar di punggung. Aku siap terbang.
Seseorang akan menerima email berisi ucapan terima kasihku malam ini. Esoknya, begitu ia datang ke apartemenku, ia akan dengan mudah menemukan setumpuk surat wasiat. Rum tidak akan kesulitan menangani ini. Pasti. Rum sudah banyak kurepotkan. Terima kasih, Rum. Aku janji ini yang terakhir kali.
Siulan angin berdengung makin kencang. Kedua kakiku sudah tiba di tepi atap. Ujung sol sepatuku mengambang di udara. Dorongan angin yang begitu halus membantuku untuk menjatuhkan diri. Terima kasih, dunia, atas kepedihan yang kau limpahkan. Aku takkan pernah menutup mata dari perbuatanmu.
Gravitasi menarik tubuhku. Sebentar lagi, koran lokal akan memuat beritaku. Semoga. Berita itu dimulai sekarang, saat aku jatuh...
...jika memang itu yang terjadi.
Bisakah satu detik terbagi ke dalam dua momen?
Angin baru saja menari-nari di sekelilingku, kini kurasakan dekapan erat pada bahuku. Detak jantung dan desahan berat mengusir desau angin. Kehangatan menepis habis udara dingin. Iblis yang sejak awal menonton kehilangan seringainya. Aku sangat yakin bahwa aku sendirian tadi. Mengapa kini aku merasa dipeluk seseorang?
"Tutup matamu."
Sebuah suara maskulin mencegatku untuk membuka mata, tetapi aku bukan gadis yang mudah. Tubuhku merasakan sensasi seperti melayang di udara. Kubuka mata tepat saat kurasakan ujung tumitku menyentuh permukaan yang keras.
Pandanganku dihalau oleh gerakan naik-turun permukaan dada yang bidang. Kaus hitam yang melapisinya basah. Tarikan napas yang memburu menggelitik daun telinga. Aku mendongak. Siapa ini?
Wajah seorang pemuda terbingkai tujuh inci dari batang hidungku. Rambutnya segelap malam, jatuh berantakan di dahi. Sinar sepasang matanya menyaingi terang bulan. Sekejap aku terpana.
Tunggu, sejak kapan dia di sini? Dan bukankah tadi aku sudah jatuh? Tiba-tiba aku merinding. Apa dia manusia?
Lama aku mengamatinya hingga aku tersadar lengannya melingkar erat di pinggangku. Sontak, aku mundur tiga langkah. Pemuda itu melepaskan lengannya dariku. Sepasang mata cokelat berkilau menghujam tepat padaku. Aku sekali lagi mengamatinya. Inikah wujud malaikat maut?
KAMU SEDANG MEMBACA
Semidevil
RomanceWilhelmina singkat saja dipanggil Will, sesingkat dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Baginya, jiwanya telah lama mati. Ia telah kehilangan motivasi, semangat, dan minat terhadap hal-hal yang ia sukai sebelumnya. Malam itu, Will sudah siap unt...
