Bisik-bisik antara Arbei, July dan Sebas terdengar sampai luar ruangan. Ash awalnya acuh karena tidak mendengar jelas kata-kata mereka. Namun, mendengar namanya disebut, Ash mendorong pintu dan masuk. Ketika mata temannya serempak berpaling padanya. Ash belum sempat mengucapkan salam saat Arbei mencercanya lebih dulu.
"Ash, apa benar kau mengajarkan Will bakat kelainan?" tanya Arbei terus terang. Ash diam sejenak, memahami arah pembicaraan ini.
Arbei melempar pandangan saat Ash menjawab, "Aku hanya membantunya memahami asal-usulnya."
Arbei menyahut tidak sabar, "Ya, ya, tapi intinya kau membantunya mencari bakat kelainannya."
Tak ada tanggapan langsung dari Ash, tapi Arbei paham tanpa perlu mendengarnya. Sebelah tangannya memegangi dahi, sebelah lagi berkacak pinggang. Ia berbalik memunggungi Ash.
"Ash, kau tahu kita tidak boleh melakukan itu. Dia masih orang luar." July menengahi. Sebas di belakangnya hanya menggeleng-geleng.
"Dia bukan orang luar, dia juga Estellion," Ash bersikukuh. July menanggapi sebelum kalimat Ash usai. Ia mengatakan sekalipun Will seorang Estellion, dia hidup sebagai Orang Luar. Dia belum tentu ingin ke Negeri Dalam. Sementara itu, Arbei mencerocos pada plafon ruangan. "Bisakah kita berhenti berurusan dengan orang luar?"
Selama semenit, Ash dan July beradu pendapat, sementara Arbei mengomel sendirian. Sebas menonton. Celetukkannya datang sesekali.
Arbei ingin mengomel lagi, namun ia urung saat mendengar Sebas berkata, "Sudahlah, kita tidak akan menang melawan Ash. Dia menyukai Will."
"Siapa menyukai siapa?" cetus seseorang dari ambang pintu. Itu Abel, baru tiba, namun ekspresi wajahnya menunjukkan seolah dia di sana sejak tadi. Abel melirik tegas pada wakilnya. "Ash, kau suka Will?"
Arbei dan July berdiri kaku. Sebas duduk di atas meja dengan tangan terlipat. Semua menunggu jawaban Ash.
"Ya."
Dua huruf itu mengempaskan orang-orang di ruangan itu ke sandaran masing-masing. Abel melongo. Sebas mendengus geli. Arbei mencengkeram gagang pintu. July menekan pelipisnya.
"Kau-bodoh," sembur Arbei dengan penuh penekanan. Sementara itu, July berdiri di depan Ash. "Aku tidak mengerti. Kau benar-benar menyukainya?"
Abel mendekat selangkah dari pintu. "Ash, jangan main-main. Kau bilang dulu tidak akan ada apa-apa di antara kalian."
"Kenapa kita membicarakan ini?" Giliran Ash yang memijat pelipisnya.
"Karena aku ingat kau hanya membawa Will ke sini untuk keberhasilan tim. Kau tidak bermaksud mengencaninya."
"Kau hanya menganggapnya mitra." Arbei menambahkan.
"Kau bahkan memperingatkanku." Sebas mengangkat bahu.
"Ash, kau yakin?" Abel mendekat selangkah lagi. Ash berkeliling pandang. Semua orang menjatuhkan vonis padanya. Ia lalu mendebat. Mereka adu mulut. Sementara itu, aku bersandar di dinding, tidak mendengar apa-apa lagi setelah kalimat 'kau hanya menganggapnya mitra'. Bibirku bergetar. Air mataku meluap. Ash tidak pernah serius padaku. Semua rayuannya palsu. Ia telah menipuku.
Manipulasi.
Aku berjalan gontai menjauhi pintu. Suara Arbei, July dan Ash masih beradu, namun kini hanya terdengar bak gumaman. Begitu terpukulnya aku hingga tak memerhatikan langkah. Ujung jariku menabrak meja hias. Suara ketukan menghentikan debat mereka. Aku menengok lambat. Pintu dibuka. Seketika wajah orang di sana pucat. Aku berlari ke luar.
Ash menghadangku tepat sebelum mencapai pagar. Aku bergerak ke samping, namun Ash lebih cekatan. Ia menahan kedua lenganku. Aku menggeliat, tetapi percuma. Seorang gadis urban biasa mana bisa menang melawan prajurit lelaki.
"Lepas." Aku mendesis sambil getaran. Ash bergeming. Aku balas menantangnya. Pemuda itu kelihatan menciut. Ia membujuk, "Kau harus dengar penjelasanku dulu."
"Tentang apa?" Aku bertanya ketus padanya. "Aku sudah dengar semua."
"Itu memang benar."
Aku melongo mendengar kejujuran itu. Apa dia mengejarku hanya untuk mengkonfirmasi?
"Tapi itu dulu, awal-awal kita bertemu."
Sekarang klarifikasi?
"Aku minta maaf karena telah mengecewakanmu. Aku sangat menyesal. Aku ingin sekali bisa memutar waktu untuk memperbaiki itu."
Bibirku terkatup rapat. Mataku nyalang.
"Awal perjumpaan kita, aku memang mendekatimu agar kau bisa membantu kami. Tidak ada lagi yang kupikirkan selain keberhasilan tim. Apalagi, kami di ambang krisis. Kami butuh sebanyak-banyaknya bantuan. Kau bagai berlian di tengah lumpur."
Ingin kutunjukkan apa jadinya kalau berlian itu dicuri.
"Tetapi itu tak berlangsung lama."
Ash menghela napas lambat. "Tidak butuh waktu lama untuk aku menyadari pesonamu."
Pemuda itu menatapku dengan mata berbinar. "Kau menarikku seperti magnet. Aku tak bisa melepaskan pandanganku darimu."
Kini, tangan Ash turun ke lengan atasku, berdiam diri di sana.
"Aku sungguh-sungguh jatuh cinta padamu. Kau, dan sepasang mata hijau-hazelmu, dan rambutmu yang hitam berselingan dengan cokelat. Aku menerka-nerka, apa kau mengecatnya atau kau memang terlahir dengan rambut begitu."
Lahar panas yang tadi menggelegak mendadak tak beruap, tak mendesis. Suhunya tak lagi mendidih. Tangan kanan Ash naik ke puncak kepalaku. Jari-jemarinya mengelus hati-hati helaian rambutku, seolah batangnya bisa patah saat disentuh. Iris mata karamelnya menggelap sekaligus berkilau. "Aku menyukai tulang pipimu yang tinggi, membuatmu kelihatan rapuh, tatapanmu yang sendu menawan, apa kau tahu kau secantik itu?"
Ash menelan ludah. Ia seolah tersesat di alam mimpi. "Jari-jarimu sangat halus dan anggun. Aku ingin menggenggamnya seharian."
"Bibirmu sangat mungil dan semerah darah, tapi tiada hentinya mencerocos jika sudah tentang hal yang kau sukai. Kalau kau sedang murung, kau akan mengunci rapat bibir itu. Aku terkadang bertanya-tanya, apa kau diam karena kesakitan? Apa warna merah bibirmu itu sebenarnya karena bibirmu berdarah?"
Apa yang dia katakan?
"Setiap kata yang kau ucapkan menjadi mantra sihir. Aku mengikutimu ke mana pun kau pergi. Aku merindukan senyummu. Setiap aku memejam mata, aku mendengar suaramu. Wajahmu, sudah tercetak di pelupuk mataku."
Napas kami sama-sama tertahan. Pipiku mulai bersemu.
"Kau tidak tahu betapa aku merasa nyaman memelukmu. Semenjak kita bertemu, aku ingin lagi dan lagi, seolah kita terlahir sebagai sepasang sepatu. Aku mencemaskan dirimu lebih dari mencemaskan diriku sendiri."
"Dan kau selalu dalam baju oversized seperti ini, membuatku penasaran."
Resmi sudah. Air mata mendadak terlupakan. Aku melarikan pandangan. Ash namun menangkup pipiku, menolehkan kembali wajahku padanya. Tatapannya sendiri terlihat mengawang.
Daguku diangkatnya dengan halus. Ash lalu memiringkan kepala. Aku menahan napas. Suara entakan napas Ash menggelitik daun telingaku. Dan ia mengelus setiap mili bibirku dengan bibirnya. Lama dan lambat. Ash mengangkat wajah, lalu memelukku. Ia membenamkan wajahnya di tengkukku, mengibaskan rambut, lalu menghirup udara di sana. Lengannya mendekap lebih erat. Ia berbisik dalam satu helaan napas, "Aku jatuh cinta padamu."
.
.
.
Pic on header: https://pin.it/2LAQIGE
KAMU SEDANG MEMBACA
Semidevil
RomansaWilhelmina singkat saja dipanggil Will, sesingkat dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Baginya, jiwanya telah lama mati. Ia telah kehilangan motivasi, semangat, dan minat terhadap hal-hal yang ia sukai sebelumnya. Malam itu, Will sudah siap unt...
