Dalam perjalanannya menuju restoran, sesekali bibirnya menyunggingkan senyum penuh arti. Ia tidak menyangka dengan apa yang telah dikatakan Fendy padanya sebelumnya.
FLASHBACK ON
Wira berlutut di hadapan Fendy dan Dian harap-harap cemas. Jujur saja baik Fendy ataupun Dian memberikan Wira tatapan tajam dan menusuk jauh ke dalam. Ia tau jika perbuatannya kali ini mungkin saja menyulut api amarah keduanya.
Bagaimana pun hasil akhirnya, Wira hanya bisa pasrah. Kalau pun nanti ia ditolak mentah-mentah atau lebih dari itu, ia sudah siap lahir dan batin.
”Wira kamu tau kan ini tuh nggak wajar?“ ujar Fendy yang dijawab anggukan oleh Wira. Wira hanya bisa menunduk pasrah. Ia takut jika harus bersitatap dengan kedua pasang manik mata kakak sepupunya.
Terdengar Fendy menghela nafas berat. “Aku lebih khawatir kalo musti nyerahin Ray sama orang yang nggak tepat,” ujarnya yang seketika membuat Wira bingung penuh tanya.
”Aku mengizinkanmu mencintai Ray tapi..,” Fendy sengaja memberikan jeda pada kalimatnya. Ia menatap Wira yang saat ini tengah duduk bersimpuh di hadapannya. Ketara sekali kekhawatiran di wajahnya. Bahkan, keringat perlahan bermunculan di pelipisnya.
”Jangan pernah maksa dia buat cinta sama kamu Wir, aku mau Ray ngikutin kata hati dia bukan paksaan dari orang lain,“ sontak perkataan Fendy membuat Wira menegakkan kepalanya. Matanya sedikit berbinar ketika mengetahui Fendy dan Dian mengizinkan dirinya yang jatuh cinta pada Ray.
”Bangun Wir,” pinta Dian seraya menepukkan kursi kosong di sebelahnya sebagai isyarat untuk meminta Wira duduk di sebelahnya. Dian meraih tangan Wira dan menggenggamnya erat, ”Mba kenal kamu nggak setaun dua taun Wir,” mata Dian menatap Wira penuh arti.
”Mba percaya sama kamu,” ujar Dian lagi seraya tersenyum penuh arti. Wira tidak perlu lagi penjelasan lebih dari Dian, karena ia tau maksud dari kalimat yang Dian katakan barusan.
Kini perasaan yang mengganjal di hati Wira pun mulai menghilang. Ia bahagia karena baik Fendy ataupun Dian mengizinkannya atau lebih tepatnya merestui dirinya.
”Asal lo sanggup aja nunggu si Ray 10 tahun lagi wkwk,” seketika Wira dan Dian pun menoleh ke Fendy yang tiba-tiba saja berbicara dengan istilah elo gue. Fendy pun hanya tersenyum garing sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
FLASHBACK OFF
Di sebuah bar nampak seorang pria tengah mabuk berat. Bahkan, kini kemeja yang ia kenakan terlihat lusuh karena sedari tadi ia menarik-narik dasi atau kemejanya tidak karuan karena merasa gerah dan panas.
Tiba-tiba seorang wanita menghampirinya kemudian tersenyum. Wanita itu menuangkan bir ke gelas milik Elang yang baru saja ia tenggak habis tanpa sisa.
Fakta bahwa Elang sudah mabuk berat itu memang benar. Namun, ia masih bisa sedikit mengontrol kesadarannya. ”Marry,“ gumamnya menyebut nama wanita yang kini tengah tersenyum padanya.
Elang membalas senyuman Marry penuh arti. Tidak perlu dipertanyakan lagi apa yang akan keduanya lakukan setelah ini. Saling bermesraan di sebuah hotel yang cukup mewah diterangi temaram lampu yang semakin menambah kemesraan keduanya.
Di lain tempat, Dewi yang merupakan istri Elang mondar mandir di kamarnya tidak karuan. Ia tak henti-hentinya mendial nomor handphone suaminya namun nihil. Tidak ada jawaban sama sekali dan bahkan kini handphone Elang mati total.
Waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Ini sudab terlalu larut untuk Elang pulang ke rumah. Tidak biasanya Elang terlambat pulang, dan kalaupun iya sudah pasti akan mengabarkan Dewi sebelumnya.
Perlahan pintu kamarnya pun terbuka menampilkan sosok Elang yang kini sedikit berantakan. ”Kemana aja kamu mas?” cerca Dewi dengan kedua alis saling bertautan.
![Incomplete [BL]](https://img.wattpad.com/cover/281162448-64-k878172.jpg)