Stelan jas hitam dengan rantai kecil di bagian kiri membuatnya terlihat gagah, apalagi warna rambutnya yang silver kontras akan kulitnya yang putih. Ia pun menekan tombol kecil di dekat jendela mobilnya dan membuat jendela mobilnya otomatis terbuka separuh.
Dari sini ia melihat seseorang yang ada disana berjalan tertatih-tatih mengenakan tongkat di sebelah kirinya. Orang itu tidak segan-segan mengelus pucuk kepala anak-anak panti kemudian mengecupnya sayang.
Hatinyq teriris teramat sangat melihat pemandangan yang ada. Ingin kakinya melangkah menghampirinya namun rasa bersalahnya yang besar membuatnya gengsi untuk sekedar bertegur sapa.
Cukup sudah pengalamannya yang mendekam di jeruji besi selama 9 tahun menorehkan luka sekaligus penyesalan yang mendalam di hatinya. Keserakahannya membawa banyak orang terluka, termasuk ayahnya sendiri.
”Jalan,“ perintah Robert kepada sekretarisnya sekaligus supir pribadinya.
Disana Elang termenung melihat sebuah mobil hitam metalik yang berlalu begitu saja. Jarak yang jauh membuatnya tidak bisa mengenali siapa gerangan orang yang ada di dalam mobil tersebut. Kedua alisnya saling bertautan ketika ia mengingat-ingat kembali, kalau mobil hitam metalik yang baru saja ia lihat cukup sering memarkirkan mobilnya di ujung jalan sana.
”Nanti aku samperin deh kalo kesini lagi,” gumamnya bertekad untuk menghampiri mobil itu lagi kalau-kalau nanti datang berkunjung lagi kesini.
”Daddy susu susunya daddy,” rengek salah seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir dua yang menyodorkan gelas plastik pada Elang. Anak itu memintanya supaya mau mengisi gelasnya yang kosong dengan susu.
Elang pun tersenyum kemudian dengan senang hati meraih gelas plastik tersebut lalu mengisinya dengan air susu murni. Ia pun memberikannya pada anak perempuan yang tadi merengek cemberut. Seketika matanya berbinar setelah mendapatkan segelas susu tambahan dari Elang.
Ya, setelah kecelakaan naas yang membuatnya kaki sebelah kirinya lumpuh total, Elang memilih mengabdikan dirinya di panti asuhan. Rama beberapa kali membujuknya untuk kembali bergabung di perusahaan sementara Wira mengurus perusahaan Sean Anderson di Inggris.
Tentu Elang menolaknya mentah-mentah. Ia masih belum siap untuk kembali bergabung di perusahaan sang ayah. Ia takut kalau-kalau suatu saat ini kembali terjun ke dunia hitam yang membawanya kembali pada permusuhan dan akhirnya melukai orang-orang di sekitarnya.
”Mas?” seru seorang wanita berdress hijau muda bernama Arini. Arini tersenyum lembut kepada Elang. Dialah yang membantu semua kebutuhan Elang disini dan merawatnya dengan telaten ketika Elang pertama kali bergabung di panti ini.
Arini adalah sosok wanita yang lemah lembut, ramah tamah, dan keibuan. Sayangnya sebaik apapun sosok Arini tidak mampu membuat Elang jatuh hati padanya. Beberapa waktu lalu Arini pernah menyatakan perasaannya pada Elang. Namun, dengan halus Elang berkata, ”Arini, bagi saya kamu itu adalah seorang adik yang harus saya sayangi dan lindungi. Maaf, saya nggak bisa nyayangin kamu lebih dari ini.”
Siapa yang hatinya tidak sakit ketika pernyataan cinta mu ditolak oleh orang yang kamu sukai dan kamu cintai? Arini berusaha mengindahkan rasa sakitnya dengan tersenyum selembut-lembutnya, meskipun ia tau rasa sakit dan kecewa ketara sekali di wajahnya yang putih bersih.
Elang menoleh. Ia mendapati Arini yanh menghampirinya sambil menggendong si bayi yang bernama Hanan. Ya, beberapa waktu lalu pula panti ini dikejutkan oleh kehadiran seorang bayi laki-laki tepat di depan pintu panti. Elang tidak habis pikir betapa teganya kedua orang tuanya yang telah membuang darah dagingnya sendiri. Tidakkah mereka berpikir masih banyak di luar sana orang yang mandul berobat kesana kemari demi mendapatkan keturunan. Tapi, ini malah ditelantarkan begitu saja?
![Incomplete [BL]](https://img.wattpad.com/cover/281162448-64-k878172.jpg)