Incomplete 32

303 24 2
                                        

Somchair berdiri dan menghampiri beberapa kerabat dekat di depan sana. Dia mengobrol sambil sesekali tersenyum lebar. Sementara sedari tadi dia sama sekali tidak ada mengajak Prima ngobrol berdua. Entah mengapa; Prima merasa perih; saat Somchair sebegitu cueknya kepada dirinya. “Prim?“ seru Sunstra. “Hm? Iya, ma?“ sahut Prima tersadar dari lamunannya. “Kamu sakit? Nggak enak badan? Biar mama suruh Som nganterin kamu ke hotel, ya?“ ucap Sunstra. Prima menatap Somchair sesaat. “Nggak, ma. Hm, aku istirahat di mobil aja,“ sahut Prima tersenyum.

Prima benar-benar sangat lelah. Somchair mengambil cuti cuma lima hari saja. Bisa kalian bayangkan, betapa lelahnya seorang Prima, yang juga harus terbang selama 17 jam 20 menit dari Indonesia ke Irlandia. Belum lagi persiapan ini dan itu. Terlebih pernikahan ini juga diadakan secara mendadak. Huft, Prima menghela nafas berat sembari melepas ikatan dasi di lehernya. Ia sengaja menurunkan kaca mobil, supaya bisa menikmati semilir angin yang berembus. Perlahan-lahan ia pun terlelap.

Somchair pun datang. Ia melihat Prima yang nampak sangat kelelahan dengan kondisi kaca mobil sengaja dibuka. Lalu, ia pun segera masuk ke dalam mobil, dan duduk di kursi kemudi. Bahkan ia membantu Prima memasang seatbelt. Seletih itu kah Prima? Sampai-sampai dia tidak terusik sama sekali?, batin Somchair. Somchair pun langsung melajukan mobilnya menuju Glenlo Abbey Hotel and Estate. Ia harus memastikan Prima bisa beristirahat dengan baik. Sepulsa itu Prima tertidur. Hingga saat mobil ini tiba di hotel pun. Ia masih berada di alam mimpi.

Prima langsung terbangun saat ia merasakan tubuhnya digendong oleh seseorang. “Pak Som?“ gumam Prima. Langkah kaki Somchair pun terhenti seketika. “Mas,“ ucap Somchair menegaskan satu kata itu. Bahkan Somchair sama sekali tidak tersenyum. Sangat berbeda sekali dengan saat ia berinteraksi dengan kerabat dekatnya. “Turunin aku ma-mas,“ gumam Prima. “Jangan gerak,“ ucap Somchair masih ingin menggendong Prima. Prima berusaha curi-curi pandang sedikit. Barangkali ia bisa melihat Somchair tersenyum, namun nihil.

Prima dan Somchair pun disambut oleh kamar dengan nuansa coklat muda, dan ranjang dengan sprai putih bersih. Somchair pun merebahkan Prima di atas ranjang king size. Setelah melepas stelan jas—yang ia kenakan, dan cuma menyisakan kemeja serta celana saja, ia pun langsung naik ke atas ranjang, dan rebahan di sebelah Prima. “Prima,“ gumam Somchair menatap langit-langit, lalu menoleh ke samping. “Kamu pasti kaget liat aku cuek ke kamu, kan?“ ucap Somchair memastikan. Tanpa Prima bicara pun, ia tahu dengan jelas. Huft, ia pun menghela nafas. “Inilah aku dengan segala kekurangan aku, Prim. Cuek, perfeksionis, dan keras kepala. Trus jarang senyum juga,“ ucap Somchair, lalu rebahan dengan posisi miring ke samping menghadap Prima.

“Dan aku harap kamu bisa sabar ngadepin aku ke depannya. Inget. Kita nikah bukan buat main-main. Tapi, buat seumur hidup. Jadi, belajar dari sekarang, Prim,“ ucap Somchair. Lalu, ia pun mendekap tubuh Prima. Somchair pun memejamkan mata. “Eugh sssttt,“ gumam Prima menahan perih. Ia merasa seperti ada sesuatu masuk ke dalam lubang itu. Benar. Somchair menelusupkan tangannya di balik celana, lalu memasukkan jari tengahnya ke lubang itu. “Sakit? Itu jari aku, Prim,“ ucap Somchair. Ja-jari?, batin Prima. Entahlah. Prima juga tidak mengerti. Kenapa ia malah membiarkan Somchair berbuat seperti itu, dan tidak berontak sama sekali? “Ummhhh aahhhh ungh,“ gumam Prima sambil menggigit bibir, saat jari tengah Somchair menyentuh titik itu.

Shea langsung melempar map berisi foto-foto pernikahan Prima dan Somchair ke sembarang arah. Sialan! Dasar anak durhaka, batin Shea. Belum jua ia membersihkan namanya sendiri di depan public, dan sekarang malah ada masalah baru? Sampai saat ini ia masih belum bisa menghubungi Prima. Kecuali nomor hp si Somchair. “Nggak mungkin banget kalo aku musti nelpon Somchair sekarang. Urusan aku cuma antara aku dan Pria. Tapi, kenapa dia malah ikut campur?“ batin Shea. Tunggu Prima pulang ke Indonesia dulu aja deh, baru aku ngomong empat mata sama dia, batinnya lagi.

Incomplete [BL]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang