Matanya menatap kosong keluar jendela. Sesekali ia menghembuskan nafasnya berat seolah terdapat jutaan kilo beban disana. Bagaimana ia bisa tenang? Bagaimana ia bisa menjalani hari-harinya setelah ini? Jikalau dirinya tidak bisa melihat sosok anak yang teramat dicintainya setiap hari. Akankah ia kuat menahan ini semua?
Segelas kopi pahit pun bahkan tak mampu mengikis keresahan hatinya. Potret wajah Ray yang menggemaskan dan membuatnya rindu berputar-putar ria di benaknya. Ia merindukan Ray. Ya, sedetik pun tak lepas hatinya untuk merindukan anak itu.
”Wira,” seru George. Wira pun menoleh malas. Rasanya ia tidak ingin meninggalkan Indonesia secepat ini. Hatinya terasa berat dan sakit.
”1 jam lagi pesawatnya berangkat, kita harus segera ke bandara,” ujar George menjelaskan.
”Tolong antarkan aku ke rumah Fendy,” pinta Wira. Ia ingin melihat wajah Ray untuk yang terakhir kalinya.
Setibanya di kediaman Fendy. Wira pun turun dan disambut hangat oleh Ray yang langsung berhambur dipelukkannya. Wira sadar kalau dirinya tidak bisa berlama-lama lantaran penerbangannya menuju Inggris tersisa 40 menit lagi.
Wira tak henti-hentinya menciumi seluruh wajah Ray hingga membuat anak itu mengaduh geli. ”Om! Udah udah! Geli tau!” protes Ray yang kini berada digendongannya.
Pelipisnya terasa panas. Ingin ia menumpahkan air matanya saat ini juga. Namun, ia tidak ingin membuat Ray khawatir dan bertanya-tanya. ”Sayang,” seru Wira lembut. Ray hanya mengerucutkan bibirnya gemas.
”Om nangis?” seru Ray tepat sasaran. Bagaimana Ray bisa sepa itu untuk mengataui dirinya yang hendak menangis? Padahal air matanya saja belum luruh setetes pun? Sebegitu ketaranya kah kesedihan di mata Wira?
”Ray yang pinter ya? Rajin belajar ya? Jangan nakal, ok?” ujar Wira seraya mengelus surai rambut Ray sayang. Si kecil Ray menyipitkan kedua matanya. ”Om mau pergi?” rupanya Ray mempunyai kepekaan tingkat tinggi. Rasanya susah sekali untuk berkilah di depan anak ini.
Bibir Wira mengatup rapat. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan Ray. Ia tidak mau menyakiti Ray dengan kepergiannya. Namun, apa yang bisa ia perbuat kalau hanya ini jalan satu-satunya?
”Wira? Kita harus pergi sekarang,” suara George kembali menyadarkan Wira jika ia benar-benar harus pergi.
Fendy dan Dian yang menyaksikan interaksi keduanya pun tak mampu berbuat apa-apa. ”Maafin om sayang,” maaf Wira kemudian menurunkan Ray dari gendongannya.
Ray sempat mengamuk ketika mengetahui Wira hendak pergi jauh. Dian mencoba melepaskan cengkraman Ray pada kemeja Wira. Ray menangis sejadi-jadinya ketika Wira masuk ke dalam mobil dan mobil itu pun melesat jauh.
Ray berontak di genggaman Dian. Hingga genggamannya terlepas dari Dian. Ray berlari dengan kencang tak tentu arah hendak mengejar mobil yang dinaiki oleh Wira. Brak! Namun naas tubuh Ray ditabrak oleh sebuah mobil avanza hitam hingga membuatnya terpental jauh.
”RAAAAAYYYYYYY!” teriak Dian.
10 tahun kemudian
SMAN 3 Bandung
Seorang remaja lelaki duduk di kursi ke 3 baris ke 4 dengan kedua matanya yang menyipit tajam. Sesekali terdengar desisan penuh kekesalan sampai-sampai pulpen yang dipegangnya pun patah menjadi dua saking kuatnya cengkramannya.
Ia memicingkan matanya ke arah pintu dan mendapati banyak para siswi bergerombol disana. Apalagi kalau bukan ingin sekedar melihat pangerannya yang tampan itu di kelas ini. Bahkan, Prima saja kewalahan membawa berbagai macam bingkisan yang diberikan oleh para siswi untuk Ray.
![Incomplete [BL]](https://img.wattpad.com/cover/281162448-64-k878172.jpg)