필터 다고 있는 거야? [pil-teo dae-go in-neung go-ya?] lu pake filter, ya? || 필터 대다 memakai filter [dalam hal hasil foto/video]
----------🌟----------
“Ma, aku pulang sore, soalnya musti ngegym dulu,“ ucap Chen mencium pipi, lalu tangan Dian. Dian yang sedang membuat teh itu pun mendelik. Dian terkejut. Chen mau ngegym? Sejak kapan Chen begitu peduli dengan yang namanya olahraga? Dian melongo tidak percaya. “Ma~ Biasa aja kali~“ ucap Chen. “Justru itu, Chen. Mama kaget tau. Kamu mah mana mau olahraga? Boro-boro diajakin sama papa aja kamu suka nolak? Pasti ada sesuatu, nih? Hayo? Kasih tau nggak sama mama?“ ucap Dian menatap Chen curiga.
“Kan Chen baru sadar sekarang, ma?“ ucap Chen. Sungguh Chen sama sekali tidak ada maksud apapun. Chen cuma tiba-tiba sadar akan pentingnya menjaga kesehatan. Itu saja. Terlebih Chen akan disibukkan dengan kegiatan les tambahan di sekolah dan luar sekolah—untuk persiapan ujian nasional nanti. Pasti benar-benar akan menguras tenaga. Entah itu fisik atau pikiran. “Pfft,“ Fendi menahan tawa mendengar kata-kata Chen barusan.
Hendro pun tersenyum samar; melihat Chen anteng seperti ini; rasanya benar-benar membuat hati ini senang, batin Hendro. Chen mendesis kesal. “Aku berangkat dulu, ma pa,“ ucap Chen, lalu mencium tangan Fendi. Hendro? Cih! Chen tidak perduli sama sekali. “Chen, salaman sama om kamu juga,“ tegur Fendi saat Chen berada di ambang pintu sambil memasang sepatu. “Dia siapa, pa? Om aku? Kapan aku punya om? Ckckck,“ sahut Chen masa bodoh. Lalu, ia pun berangkat sekolah setelah mengucapkan salam sebelumnya.
“Hen? Mau mundur aja ato gimana, nih? Si Chen keknya nggak suka sama kamu, tuh? Nyerah aja, ya? Mending kamu cari cewek ato cowok lain aja? Gimana?“ cerca Fendi. Sejurus kemudian Dian pun menjewer telinga kanan Fendi setelah menaruh dia gelas teh di atas meja. Fendi pun mengaduh. Uh, jeweran istri itu memang paling pedas di dunia, ngalahin guru-guru di sekolah, batin Fendi. “Kenapa liatin aku kek gitu, hah?“ ucap Dian melotot-lotot. “Nggak, nggak ada,“ sahut Fendi langsung kicep.
Hendro pun tersenyum menanggapi cercaan Fendi. “Nggak bakalan mas. Meskipun aku musti ke kutub utara, aku bakalan ngejer Chen,“ sahut Hendro. “Good job, Hen!“ cetus Dian memberikan semangat. “Makasih mba,“ ucap Hendro berterima kasih sembari menyesap teh buatan Dian. Hah, sebentar lagi ulang tahun Chen. Bagusnya ngasih apa, ya?, batin Hendro.
Tiba di sekolah; semua orang sudah berkumpul di aula; biasa, setiap pagi sekolah akan mengadakan pengajian rutin membaca al qur'an bersama, dan mendengarkan ceramah agama dari guru agama atau BP. Bugh. Seseorang menepuk pundak Chen. “Pasti lu telat, kan? Hahahaha,“ ucap Prima tertawa jahat. Chen mendengus. Baru kenal beberapa hari. Tapi, Prima sudah semenyebalkan ini? “Pasti lu lagi ngatain gue di dalem ati, kan? Ngaku lu!“ ucap Prima membuat Chen tertohok. Chen pun memutar bola mata malas sambil menghela nafas. “Emang iya? Trus kenapa?“ tantang Chen. “Nggak kenapa-napa, b aja,“ ucap Prima masa bodoh. Lalu, ia pun duduk di tepi luar aula. Tentu saja karna di dalam sudah penuh.
Saat seluruh siswa/i bubar dan berhamburan keluar aula, tiba-tiba Chen dan Prima, serta beberapa murid yang lain dipanggil oleh satpam sekolah. Mereka disuruh berbaris di lapangan. “Kalian tau ini udah jam berapa, hah!?“ ucap si satpam marah. “Telat itu jangan dibiasain! Paham!? Prima, kamu paham ato nggak, hah!?“ ucap si satpam lagi garang dan sangar. Seperti seekor Harimau yang ingin melahap mangsa di depan mata.
“Suruh bersihin aula aja, pak,“ seru Somchair, guru matematika berusia 29 tahun itu setelah turun dari mobil. Beberapa saat kemudian si satpam pun memberi hukuman kepada mereka yang telat ini, yaitu membersihkan aula sampai bersih. “Inget, ampe bersih! Awas kalo masih ada debunya!“ ucap si satpam memperingatkan. Lalu, berlalu begitu saja.
Setelah selesai membersihkan aula; Chen dan Prima tidak lantas langsung masuk ke dalam kelas; melainkan mereka singgah ke kantin terlebih dahulu. Lima buah piscok telah Chen makan di pagi hari. Belum lagi cemilan lain seperti keripik. “Baru pagi ini, Chen~“ tegur Prima geleng-geleng kepala. “Bomat,“ sahut Chen. “Lu nggak ada ikut ekskul ala gitu, Chen?“ tanya Prima sambil makan choki-choki. “Males Prim, nggak guna tau, mending gue kursus di luar,“ sahut Chen.
![Incomplete [BL]](https://img.wattpad.com/cover/281162448-64-k878172.jpg)