Calvin hendak mengetuk pintu kamar karena Ayla yang belum keluar sejak tadi, padahal jam sudah menunjukkan pukul 8.00 pagi. Pria itu khawatir dengan istrinya, bagaimana jika Ayla sakit di dalam sana. Tangan Calvin terangkat, bersiap mengetuk pintu di hadapannya. Namun, pintu sudah dibuka dari dalam, membuat Calvin mengurungkan niatnya.
Calvin terkejut ketika Ayla sudah menggunakan pakaian rapinya, gamis, dan balutan cadar berwarna hitam. Bukan itu yang membuat Calvin terkejut, melainkan tangan kanan istrinya itu yang membawa tas besar.
"Ay, ma-mau ke mana?" tanya Calvin terbata.
"Ke rumah Bunda," jawab Ayla seadanya.
Calvin mengerjapkan matanya pelan. "Kalau ada masalah bisa dibicarain baik-baik. Nggak perlu gini, kan?" tanya Calvin yang kini memegang bahu istrinya.
Ayla menatap mata Calvin yang sekarang menatapnya. Tatapannya tulus, Ayla sampai terhanyut dalam pandangan mata suaminya. Ayla menggeleng, membuat Calvin langsung memeluk tubuh istrinya erat.
"Jangan gini, please. Gue minta maaf. Gue ngaku gue salah, tapi jangan pergi, ya."
"Aku harus ke rumah Bunda."
"Gue nggak izinin. Kita bicarain ini dulu, ya," ucap pria itu masih dengan memeluk istrinya.
Ayla melepas paksa pelukan suaminya, sedikit terkejut melihat mata Calvin yang berkaca-kaca.
"Kamu nangis?" tanya Ayla.
Bukanya menjawab Calvin justru mengalihkan pandangannya, tak mau Ayla melihat matanya yang kini berair.
"Jangan pergi, please," Calvin menggenggam tangan Ayla sambil menunduk.
Ayla tertegun, sudah cukup ia memberi pelajaran pada suaminya ini karena sepertinya Calvin sudah menyesali perbuatannya. Ayla melepas genggaman tangan Calvin beralih menangkup pipi suaminya itu.
"Bunda sakit, aku harus kesana sekarang," ucapnya lembut.
Calvin mengerjapkan matanya pelan.
Hah?
Jadi dirinya tadi ngapain? Lagi-lagi, pria itu harus merutuki kebodohan dirinya sendiri.
"Bunda sakit?" tanya Calvin memastikan.
Ayla mengangguk, membuat Calvin bernapas lega. Ternyata, istrinya tidak berniat meninggalkan dirinya.
"Tapi, kenapa harus bawa tas segala?" tanya Calvin menunjuk tas di tangan Ayla.
"Aku bakal nginep di sana sampai Bunda sembuh. Boleh, ya?" ucap Ayla meminta izin.
Calvin memaksakan senyumnya, lalu mengangguk. Padahal, dalam hati dirinya sedikit keberatan. Jika Ayla menginap di rumah orang tuanya, lalu bagaimana nasibnya di sini?
"Gue anter, ya." Calvin mengusap pipi istrinya dan mendapat anggukan Ayla.
***
Kini keduanya sudah berada di depan rumah orang tua Ayla. Calvin hanya memakai kaus polos berwarna hitam dan celana di atas lututnya, begitu saja dirinya sudah terlihat sangat tampan.
"Asalamualaikum." Ayla mengetuk pintu di depannya.
"Waalaikumussalam," jawab seseorang dari dalam.
Adam membuka pintu, mengulas senyum ketika tau siapa yang datang. Ayla mencium punggung tangan ayahnya, diikuti Calvin.
"Ayo, masuk."
Keduanya mengangguk, mengekori Adam menuju kamarnya. Adam membuka pintu berwarna cokelat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Sweet Calvin [TERBIT]
Teen FictionNamanya Calvin Aldeguer. Pria penuh kharisma yang mampu membuat kaum hawa ketika melihatnya langsung terpana. Pemegang kandidat pembalap termuda di dunia membuat pria itu cukup populer di banyak kalangan. Hidup Calvin yang biasanya hanya di penuhi...
![My Sweet Calvin [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/307080265-64-k351434.jpg)