"Morning." Calvin mengecup dahi istrinya yang baru saja membuka mata.
Ayla tersenyum manis. "Morning."
Wanita itu kembali menduselkan wajahnya pada dada bidang Calvin mencari posisi ternyamanya. Calvin mengekeh pelan, memeluk istrinya itu erat.
"Bangun, Ay, udah pagi."
"Masih ngantuk," gumam Ayla.
Calvin melirik jam di atas nakas, pukul 8.00 pagi. Pria itu mengedarkan pandangannya, Calvin membelalakkan mata ketika melihat kamarnya yang sudah seperti kapal pecah. Boxer dan kausnya berceceran di lantai, bantal dan guling yang sudah tidak di tempatnya.
Calvin mencoba meraih bantal yang ada di bawahnya, menyingkirkan lengannya yang digunakan sebagai bantal Ayla, mengganti dengan bantal yang ia ambil tadi. Ayla terusik, gadis itu terus menggeliat ke sana kemari. Calvin menepuk bahu Ayla pelan.
"Suttt, tidur lagi, ya," ucapnya.
Calvin merapikan selimut yang menutupi tubuh polos Ayla dengan selimut. Mengambil boxernya, memakainya asal, lalu bergegas ke kamar mandi. Selesai mandi, Calvin langsung membereskan kamarnya. Pria itu memunguti pakaianya dan pakaian Ayla yang tergeletak tanpa dosa di lantai, membawanya ke tempat pakaian kotor.
Calvin keluar dari kamar menuju ke dapur, pria itu akan membuat sarapan hari ini. Jangan khawatir, Calvin hanya akan membuat roti bakar, ia cukup sadar diri bahwa dirinya tak bisa masak. Pria itu mulai memanggang roti tawar. Sembari menunggu, Calvin beralih membuatkan susu terlebih dahulu untuk Ayla. Calvin harus mengucapkan terima kasih pada daddy-nya karena telah memberikan rumah super mewah lengkap dengan peralatan dan bahan-bahan di dalamnya.
Selesai.
Calvin hendak membawa nampan berisi roti dan susu tadi ke kamar. Namun, pria itu mengurungkan niatnya ketika mendengar suara dari arah luar. Calvin meletakkan nampan tadi di atas meja. Beralih membuka pintu utama.
"Jualan apa, Bang?" teriak Calvin dari depan pintu.
Penjual paruh baya dengan gerobak dorong itu, lalu berhenti di depan gerbang rumah Calvin. "Bubur ayam!" teriak penjual tadi.
Calvin memakai sandalnya, menghampiri penjual bubur ayam. Pria itu membuka pintu gerbang, mengamati sebentar gerobak dan penjual tadi. Aman, sepertinya hiegenis.
"Bubur ayam satu," pesan Calvin.
"Mau dibungkus atau pakai mangkok sendiri?" tanya penjual tadi karena biasanya orang-orang yang membeli buburnya memakai mangkok sendiri.
Jika diperhatikan, penjual bubur ayam ini belum cukup tua. Mungkin, hanya terpaut tiga sampai empat tahun dengan umur Calvin.
"Mangkok," jawab Calvin seadanya, ia malas jika harus menganti nanti.
Pedagang tadi mengangguk, menunggu Calvin yang mungkin akan masuk untuk mengambil mangkok. Namun, dugaanya salah, Calvin justru terus berdiri memperhatikan gerobaknya.
"Mangkoknya mana, Bang?"
"Hah?"
"Mangkok," ulang penjual tadi.
"Pakai mangkok lo, lah!" jawab Calvin tak santai.
Pedagang tadi mengangguk, mulai meracik bubur ayam. Bubur putih yang telah ia taruh di mangkok ia siram dengan kuah kecap asin dan kecap manis. Di atasnya kemudian ditaburi dengan suwiran ayam, telur yang dibelah, bawang goreng, seledri, kacang tanah goreng, cakwe dan kerupuk.
Siap.
"Pakai sambal, Bang?"
"Nggak."
Pedagang tadi memberikan semangkok bubur ayam pada Calvin yang langsung diterima pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Sweet Calvin [TERBIT]
Teen FictionNamanya Calvin Aldeguer. Pria penuh kharisma yang mampu membuat kaum hawa ketika melihatnya langsung terpana. Pemegang kandidat pembalap termuda di dunia membuat pria itu cukup populer di banyak kalangan. Hidup Calvin yang biasanya hanya di penuhi...
![My Sweet Calvin [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/307080265-64-k351434.jpg)