Brak!
Suara pintu yang dibanting, membuat pria di atas ranjang itu terlonjak kaget.
Matanya membola ketika melihat istrinya berdiri di depan pintu dengan muka merah padam. Ia menoleh ke samping, matanya makin membelalak ketika di sana Gladis berbaring, menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Calvin menyibak paksa selimutnya, menampilkan dirinya yang kini sudah bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer.
"Ay, gue bisa jelasin."
Satu tamparan keras mengenai wajah Calvin yang kini berdiri di hadapannya.
"Tega kamu! Aku lagi hamil. Aku lagi sakit, tapi kamu malah melakukan hal menjijikkan sama cewek lain. Otak kamu di mana?" teriak Ayla di hadapan Calvin.
"Dengerin dulu, gue bisa jelasin."
"Mau jelasin apa? Semua udah jelas, kan? Aku juga udah lihat sendiri," ucap Ayla menggebu-gebu.
"Ini nggak seperti yang lo kira."
"Cukup! Aku nggak mau denger apa pun lagi dari mulut kamu. Lanjutin aja kegiatan kalian."
Ayla pergi, kembali membanting pintu di hadapannya. Calvin langsung memungut pakaiannya yang berceceran di lantai. Memakainya asal, lalu berlari menyusul Ayla.
Sementara itu, wanita dengan gulungan selimut yang menutupi tubuh polosnya menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
***
"Ay, dengerin dulu."
Calvin dibuat panik karena Ayla menyeret koper dari arah tangga. Ayla tak menggubris, tangannya sibuk menyeret koper miliknya, sementara tangan satunya menyangga perutnya. Ia sesekali mengelap air mata yang terus keluar tanpa diminta.
"Ay, dengerin gue." Calvin menyentak tangan Ayla yang menyeret koper, membuat koper tadi jatuh.
"Lo salah paham."
"Salah paham? Jelas-jelas, aku lihat pakai mata kepala aku sendiri kalau kamu tidur sama cewek lain. Kamu bener-bener nggak punya perasaan."
"Bukan gitu ceritanya," ucap Calvin mencoba menjelaskan.
"Apa? Kamu mau bilang kamu khilaf? Terus, kamu minta maaf? Gitu aja terus. Basi, tau nggak! Selama ini aku berusaha sabar ngadepin sifat kamu. Tapi, kali ini nggak, aku nggak bisa sabar lagi. Kamu ciuman sama mantan kamu di hadapan aku, aku diem. Sekarang, aku lihat kamu tidur sama cewek lain, apa aku juga harus diem? Aku manusia. Aku juga punya perasaan, nggak seperti kamu!" ucapnya marah menunjuk Calvin sengit.
"Ternyata, penilaian aku ke kamu selama ini salah. Aku kira, kamu pria baik-baik. Aku kira, kamu laki-laki penuh tanggung jawab. Tapi, semua itu salah. Kamu berengsek! Laki-laki berengsek!" Ayla mendorong dada Calvin yang hanya diam mematung.
Wanita itu menghela napas pelan, kembali menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Kurang sabar apa aku jadi istri kamu? Kurang apa aku di mata kamu?" Ayla tersenyum miris. "Mungkin, ini salah aku. Aku yang belum bisa jadi istri yang baik buat kamu. Aku yang masih bersifat kekanak-kanakkan, makanya kamu cari perempuan yang lebih baik-"
"Nggak, jangan ngomong gitu," potong Calvin cepat.
Ayla mencengkeram kerah kaus Calvin erat menyalurkan segala emosinya. Melepas cengkeramanya, Ayla menatap Calvin dengan mata berkaca-kaca.
Wanita itu menghela napas pelan. "Aku capek. Aku udah nggak bisa. Apalagi, kamu main di belakang aku waktu aku hamil anak kamu."
Wanita itu menghela napas. "Ceraikan aku."
Calvin membelalak, tak percaya mendengar ucapan Ayla barusan. "Nggak!" tolaknya cepat.
Ayla menatap tajam pria di hadapannya yang kini berstatus suaminya. "Egois."
Satu ucapan Ayla yang membuat Calvin kembali terdiam.
"Kamu larang aku buat ketawa sama laki-laki lain. Kamu marah waktu aku ketawa sama laki-laki lain. Tapi, kamu sendiri? Bahkan, kamu sampai tidur sama perempuan lain di belakang aku. Gimana perasaan kamu kalau jadi aku?
"GIMANA PERASAAN KAMU, KALAU KAMU LIHAT AKU TIDUR SAMA LAKI-LAKI LAIN?"
"AYLA!" bentak Calvin, tangan yang hendak menampar pipi istrinya itu menggantung di udara ketika melihat Ayla memejamkan mata ketakutan.
"Jangan buat gue emosi," desis Calvin menatap Ayla tajam.
"Kenapa? Kenapa nggak jadi? Ayo, tampar! Ayo, tampar!" Ayla menggiring tangan Calvin supaya menampar pipinya.
"Aku pikir, kamu bakal berubah setelah kejadian kamu ciuman sama mantan kamu di hadapan aku. Tapi, ternyata aku salah, bahkan kamu lebih parah. Jadi, ini alesan kamu nggak mau nemenin istri kamu yang lagi sakit, demi tidur sama perempuan nggak jela?"
Ayla bertepuk tangan, menimbul suara nyaring di keheningan mereka berdua.
"Aku harusnya sadar diri, mana mau seorang pembalap ternama seperti kamu mau sama aku. Aku yang mudah baper sama kata-kata manis kamu yang nggak ada nyatanya." Ayla tersenyum miris. "Bodoh banget, ya, aku?"
Ayla mengusap kasar air mata di pipinya, mendongak ke arah Calvin yang hanya diam menatapnya. "Tapi, sekarang nggak lagi. Aku tunggu surat perceraian kita."
Sedikit berjongkok, Ayla mengambil kopernya, lalu menyeret keluar rumah.
"GUE, CALVIN ALDEGUER, NGGAK AKAN PERNAH CERAIIN LO, AYLA KHUMAIRA! LO HARUS DENGER ITU BAIK-BAIK!"
Calvin berteriak dari dalam rumah, sementara Ayla sudah menyeret kopernya keluar dari pekarangan rumah dua lantai itu.
***
Ayla menangis tersedu-sedu di dalam taksi, ia bingung harus ke mana sekarang. Wanita dengan balutan gamis dan cadar berwarna cokelat itu terus mengusap perut buncitnya lembut.
Perlakuan Calvin, suaminya, sudah tak bisa ditoleransi lagi oleh Ayla. Ayla bisa saja dibentak, bisa saja dibohongi, tapi untuk selingkuh, ia tidak bisa. Apalagi, sampai tidur satu ranjang dan berbuat tak senonoh seperti tadi.
Ayla terbangun, melirik jam di dinding yang ternyata sudah pukul 3.00 sore. Wanita itu turun dari ranjang dengan hati-hati, berniat mencari keberadaan suaminya. Perlahan wanita itu menyusuri setiap rumah dan memanggil nama suaminya, tapi nihil, Calvin tidak ada.
Ayla duduk di sofa. Kali ini, Ayla sangat hati-hati dengan meja di depannya. Ayla meraih ponsel yang tadi sempat dibawanya dari kamar. Mencoba menghubungi suaminya, tapi tidak diangkat. Juga, mencoba mengirim pesan, tapi hanya mendapat centang dua abu-abu.
Ayla mengembuskan napas pelan, menunduk mengelus perutnya lembut.
"Sehat-sehat di sana, ya."
Baru saja Ayla meletakkan ponselnya di meja, suara notifikasi masuk membuat Ayla segera mengecek ponselnya. Senyum semringah sudah terbit di bibirnya, Ayla mengira Calvin membalas pesanya. Namun, dugaannya salah. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan sebuah foto uaminya itu sedang tidur bertelanjang dada dengan seorang wanita tanpa busana di atasnya.
Ayla tertegun. Ia marah. Tangannya mencengkeram ponsel erat-erat.
Satu notifikasi kembali masuk, nomor tidak dikenal tadi mengirimkan sebuah alamat di sana. Yang membuat Ayla sangat terkejut, alamat itu adalah alamat apartemen milik Calvin. Mencoba memperhatikan foto tadi sekali lagi, Ayla baru sadar bahwa mereka berada di kamar milik Calvin. Kamarnya dulu dan Calvin saat masih tinggal di apartemen pria itu.
Ayla tak bisa mengendalikan diri, ditambah hormon kehamilannya yang sering berubah-ubah. Wanita itu mencoba memastikan dengan pergi ke apartemen milik suaminya. Di perjalanan Ayla terus berpikir positif, jika itu bukan suaminya mungkin hanya orang iseng yang ingin membuat hubungannya dan Calvin renggang.
Namun, harapan itu sirna ketika Ayla membuka pintu kamar di depannya. Ternyata, suaminya sedang terlelap dengan wanita lain. Yang tak lain tak bukan adalah mantan pacar suaminya, Gladis. Seakan-akan ditusuk beribu duri di hatinya, Ayla langsung menampar pipi Calvin yang menghampirinya.
***
"Kamu jahat banget, hiks ...."
"Aku benci kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Sweet Calvin [TERBIT]
Fiksi RemajaNamanya Calvin Aldeguer. Pria penuh kharisma yang mampu membuat kaum hawa ketika melihatnya langsung terpana. Pemegang kandidat pembalap termuda di dunia membuat pria itu cukup populer di banyak kalangan. Hidup Calvin yang biasanya hanya di penuhi...
![My Sweet Calvin [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/307080265-64-k351434.jpg)