50. Epilog

302K 20K 865
                                        

Carel menatap takjub rumah tiga lantai di hadapannya. Anak kecil itu mendongak melihat ke arah kedua orang tuanya yang kini mengenggam tanganya. Pria kecil itu diapit oleh Calvin dan Ayla di sisi kanan dan kirinya.

"Ini lumah siapa?"

Calvin berjongkok, menyamakan tingginya dengan tinggi putranya.

"Rumah kita," ucapnya, lalu mengacak rambut putranya gemas.

Setelah seminggu dirawat di rumah sakit pasca sadar dari koma, Calvin akhirnya sudah boleh pulang. Kondisi pria itu berangsur membaik, bahkan bisa dikatakan pria itu sudah sehat sekarang.

Calvin membawa Carel ke pundaknya, menggendong putranya dengan posisi Carel duduk di bahunya. Bukanya takut, Carel justru terkikik di gendongan sang ayah.

Calvin mengekeh. Tangan satunya ia gunakan untuk memegang Carel agar tidak jatuh, sementara tangan satunya ia gunakan untuk menarik lembut tangan Ayla mendekat ke arah pintu. Calvin menempelkan tanganya pada touch di pintu, seketika pintu itu langsung terbuka lebar.

"Woah, kelen banget! Calel mau coba ayah," ucap Carel heboh di pundak ayahnya.

Calvin mengekeh gemas, kembali menempelkan tanganya membuat pintu itu kembali tertutup. Calvin membawa Carel ke gendongan depan. Carel yang antusias lalu menempelkan tanganya persis seperti yang tadi Calvin lakukan.

"Yahh.. kok nggak bisa," ucap Carel lesu.

Calvin mencubit gemas pipi putranya, mengangkat tanganya ke depan pintu.

"Coba tempelin tangan kamu di tangan ayah."

Carel mengangguk, menempelkan tanganya pada punggung tangan Calvin. Seketika pintu besar di hadapannya kembali terbuka. Carel bertepuk tangan heboh membuat Calvin gemas, lalu mengecupi seluruh muka putranya.

"Hahaha .... Geli Ayah."

Calvin dan Ayla dibuat tertawa dengan tingkah putranya. Calvin menarik tangan Ayla untuk masuk ke dalam rumah dengan Carel yang masih dalam dekapannya. Calvin mengembuskan napas ketika melihat rumahnya yang tak terawat. Debu tebal menempel di mana-mana, tentu saja tiga tahun tak dihuni membuat rumah itu sangat kotor.

Ayla sendiri tidak tinggal di sini tiga tahun silam, wanita itu memilih tinggal bersama orang tuanya. Ayla melepas genggaman tangan Calvin, mengambil kemoceng yang tergeletak di atas meja.

"Biar aku aja." Calvin merebut paksa kemoceng di tangan Ayla.

Mulai membersihkan sofa yang terdapat debu dan beberapa sarang laba-laba di sana. Tak lupa dengan meja di depanya. Setelah sofa bersih dari debu, Calvin mendudukkan putranya di sofa.

"Oke, Jagoan, sekarang waktunya bersih bersih."

"Oke, Ayah," jawab Carel antusias.

Ayla mengulas senyum tipis melihat interaksi keduanya. Wanita itu melepas cadar dan jilbabnya meletakkannya di sofa. Menggulung sedikit lengan gamisnya, lalu mengikat rambutnya asal. Ayla beralih mengambil sapu di pojok ruangan.

Tanpa diperintah, Carel turun dari sofa. Berjongkok, tangan mungilnya mulai menggulung karpet berbulu di bawah sana. Sementara itu, Calvin sudah sibuk dengan kemoceng di tanganya.

"Huh, kok, belat sih," gumam Carel yang hendak mengangkat karpet berbulu yang sudah ia gulung.

"Biar Ayah bantu."

Calvin sudah berjongkok, mengangkat karpet berbulu tadi. Calvin mengelus lembut rambut putranya, "Makasih, Jagoan."

Carel mengangguk antusias. Membuat Calvin kembali gemas dengan putranya. Calvin membawa karpet berbulu tadi ke tempat cucian kotor.

My Sweet Calvin [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang